
Sementara itu di kediaman keluarga Morgan, dua orang wanita sedang menunggu kedatangan tamu yang sangat mereka harapkan. Salah seorang wanita yang lebih muda dengan gaun mini dress berwarna biru gelap malah sudah beberapa kali melihat ke arah jendela dan membuka tirai.
"Ini sudah hampir jam sembilan, kenapa Tante Stella dan wanita murahan itu belum datang juga Bu?" tanya Natasha dengan nada kesal pada sang ibu.
Sementara putrinya terlihat tidak sabaran dan kesal, wanita paruh baya yang masih terlihat begitu elegan itu malah bersikap berbanding terbalik dengan sang putri. Dia terlihat santai dengan sesekali membolak-balik halaman majalah fashion yang ada di tangannya.
"Sayang, duduk lah. Kenapa jadi kamu yang panik begitu?" tanya balik Melinda pada Natasha.
Natasha langsung duduk di dekat ibunya.
"Ibu, aku tidak panik. Aku sungguh tidak sabar untuk memberi pelajaran pada wanita murahan yang telah merebut Samuel dariku itu!" jelas Natasha.
"Tenang saja sayang, tidak lama lagi. Semua keinginan mu itu akan menjadi kenyataan. Kita akan mulai dengan langkah ini, lalu ibu akan memperdekat hubungan ibu dengan Stella dan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang wanita kampung itu, dan kamu harus mendekati wanita kampung itu dan mengajaknya melakukan hal-hal yang tidak baik dan menghambur-hamburkan uang, dengan demikian kita akan semakin mudah menyingkirkan wanita kampungan itu dari keluarga Virendra. Dan saat itu telah terjadi, maka kamu yang akan masuk dan menjadi nyonya Samuel Virendra!" ujar sang ibu pada Natasha.
Natasha yang sudah bisa membayangkan dirinya menjadi nyonya Samuel sangat merasa senang, bahkan dia merasa sudah ada di awang-awang.
"Aku sungguh tidak sabar Bu!" ucap Natasha tersenyum sangat senang.
"Tentu saja sayang, siapa yang lebih pantas mendampingi CEO tertampan dan termuda kota ini selain Natasha Morgan, putri satu-satunya pengusaha paling berjaya di kota ini!" ucap Melinda dengan bangga.
Memang benar, perusahaan keluarga Morgan memang tidak bisa di pandang sebelah mata. Ayah dari Teddy Morgan adalah perintis usaha ekspor impor di kota ini, sehingga semua perusahaan barang dan jasa pasti melewati dan pernah bekerja sama dengan perusahaan Morgan. Sayang sekali saat itu Teddy Morgan jatuh cinta pada wanita yang salah, dan bukannya bahagia hidupnya malah tertekan. Namun dia juga tidak dapat berbuat apa-apa, karena penerusnya hanyalah Natasha, sejak suatu kecelakaan yang mengakibatkan Teddy Morgan tidak lagi bisa mempunyai keturunan.
Tak lama berselang dari obrolan ibu dan anak itu terdengar suara mobil yang parkir di halaman mereka.
"Nah, itu pasti mereka!" seru Melinda pada sang putri.
__ADS_1
Natasha tersenyum senang lalu berdiri lagi yang bergegas berjalan ke arah jendela untuk melihat siapa yang datang.
"Benar ibu, itu mobil dari kediaman Virendra!" ucap Natasha.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya kemudian Melinda juga ikut berdiri dan melihat ke arah yang sama dengan yang dilihat oleh Natasha.
"Bagus, sekarang pergilah ke dapur dan siapkan minumannya. Jangan sampai ada yang tahu, bahkan asisten rumah tangga sekalipun. Mengerti!" seru Melinda pada sang putri.
Natasha langsung mengangguk dan secepatnya pergi ke arah dapur untuk melaksanakan perintah dari ibunya.
Sementara itu Melinda yang memang sudah tidak sabar menunggu kedatangan setia dan juga Naira segera membuka pintu rumah nya. Senyum puas jelas terpampang nyata di wajah Melinda.
Dia sudah keluar dari rumah dan bersiap untuk menyambut kedatangan Stella dan juga Naira akan tetapi, senyum Melinda lantas hilang dalam sekejap karena uang keluar dari dalam mobil bukanlah Stella dan juga Naira, melainkan hanya Stella dan juga Damar.
'Sial, kenapa malah dia datang bersama dengan suaminya bukan bersama dengan wanita kampungan itu, heh rencana ku benar-benar telah gagal!' kesal Melinda dalam hatinya.
Sementara Stella yang sejak tadi keheranan dengan senyuman aneh Melinda melirik ke arah suaminya.
"Lihat kan, dia bahkan bisa menebak kalau kamu akan datang. Bersikap lah seolah tidak tahu dan tidak mengerti apapun Stella!" bisik Damar saat mereka masih berada dalam jarak yang cukup jauh dari tempat yang Melinda berdiri.
Stella yang sebenarnya merasa sangat geram pada Melinda hanya bisa menghela nafasnya. Dia bahkan tidak menyangka kalau Melinda yang adalah teman dekatnya itu punya pikiran jahat pada menantunya dan juga pada keluarga Virendra.
"Selamat pagi mas Damar, Stella. Wah senang sekali aku melihat kalian hari ini datang berkunjung ke rumah ku yang sederhana ini!" ucap Melinda semanis mungkin.
'Kalian sama sekali tidak aku harapkan datang, aku hanya ingin wanita kampung itu yang datang, sial lihat saja sekarang rencana ku boleh gagal, tapi lihat saja nanti!' geram Melinda dalam hati.
__ADS_1
Siapa yang bisa menyangka kalau ada wanita yang begitu pandai berakting dan bersilat lidah seperti Melinda. Wajahnya tersenyum dan berkata manis tapi hatinya sebaliknya.
"Selamat pagi Melinda, maaf aku mengganggu mu pagi-pagi begini. Tapi ada yang ingin aku katakan dan sampaikan. Boleh kah aku masuk?" tanya Stella dengan sopan. Stella juga berusaha untuk bersikap sewajarnya dan terus berusaha tersenyum di depan Melinda.
"Oh tentu saja Stella, mari masuk!" ajak Melinda dengan ramah.
Damar dan Stella masuk dan duduk di sofa ruang tamu milik Melinda setelah si persilahkan. Dan Melinda juga duduk.
"Langsung saja ya Melinda, aku kemari untuk mengembalikan kado yang kamu berikan untuk Naira!" ucap Stella sambil meletakkan paper bag yang dia bawa di atas meja dekat dengan Melinda duduk.
Melinda memasang ekspresi terkejut, tentu saja itu hanyalah pura-pura.
"Kenapa Stella, aku memberikan nya tulus. Ini hadiah untuk wanita yang akan menjadi ibu dari penerus keluarga kalian!" ucap Melinda dengan sikap dan nada suara yang di dramatisir.
"Terimakasih atas perhatian dan kebaikan mu, tapi kado itu terlalu mahal. Dan Naira pun tidak nyaman untuk menerimanya." jelas Damar.
"Begitu kah, aku sangat kecewa mendengar nya!" ucap Melinda lagi berusaha membuat kesan dia sangat sedih karena Naira mengembalikan kado yang dia berikan.
"Kami tetap berterimakasih, tapi kamu tahu kan terkadang rasa tidak nyaman malah akan membuat seseorang merasa tidak enak dan terbebani, cukup memberikan Naira selamat dan doa terbaik saja, itu sudah sangat berarti!" lanjut Damar tak kalah diplomatis nya.
"Baiklah, kalau begitu. Aku terima lagi kado ini. Tapi aku masih boleh kan memberikan nya kado lain, aku janji tidak akan berlebihan seperti ini?" tanya Melinda pada Stella.
'Aih, wanita ini tidak menyerah juga!' keluh Damar dalam hatinya.
***
__ADS_1
Bersambung...