Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
133


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, kami sudah tiba di bandara Ngurah Rai di Bali. Aku tidak menyangka bisa sampai di tempat ini. Ini seperti mimpi saja. Aku hanya sering dengar dari orang-orang betapa indahnya kota Bali.


Dan benar saja, baru sampai di luar bandara. Sudah terasa sekali sentuhan-sentuhan etnik di sekitar tempat ini.


"Naira, ayo!" panggil Samuel karena aku malah bengong melihat beberapa bule yang lewat di depan ku.


Kami lalu berjalan menuju ke sebuah mobil yang supirnya memegang sebuah poster bertuliskan 'Mr & Mrs Virendra'.


Setelah itu kami masuk ke dalam mobil dan supir itu lalu melajukan kendaraannya menuju bandara. Sepanjang jalan aku melihat ke jendela mobil, meskipun malam hari. Tapi suasana di sepanjang jalan sangat ramai.


"Kita akan menginap dulu di hotel kita, Besok pagi, baru kita ke hotel yang di siapkan oleh tuan Thomas!" ucap Samuel.


Aku diam dan memikirkan apa yang Samuel katakan.


"Maksud mas, sebenarnya tuan Thomas sudah menyiapkan hotel untuk tamu-tamu yang dia undang, kenapa mas menyewa hotel sendiri?" tanya ku pada Samuel.


"Sisanya hanya bisa menginap dua hari saja!" jawab Samuel.


"Memang mas mau menginap berapa hari?" tanya ku.


"Ck... kenapa? apa tidak suka menginap lama-lama disini bersama ku?" tanya nya dengan wajah yang datar tapi kalimatnya itu di ucapkan dengan suara yang sedikit meninggi.


Aku langsung melambaikan tangan ku di depannya beberapa kali.


"Bukan mas, bukan itu. Tentu saja suka!" jawab ku cepat.


"Bagus!" ucapnya singkat.


Beberapa lama kemudian, kami sampai di hotel. Dan baru saja akan masuk lobi, Samuel tiba-tiba berhenti. Hingga aku yang berjalan di belakang mengikutinya tidak sengaja menabraknya.


"Eh, kenapa mas?" tanya ku.


Samuel tidak menjawab, dan hanya melihat ke arah ku sekilas lalu melihat lagi ke arah depan. Aku pun mengikuti arah pandangan itu.


'Itu Kenzo, dan wanita itu... astaga, itu kan Caren. Wanita yang sudah menampar ku saat di Singapura itu!' batin ku sangat sangat terkejut.


Samuel langsung menggenggam tangan ku dan mengajak ku masuk ke dalam lobi hotel menuju meja resepsionis, tempat Kenzo dan Caren sedang berdiri. Jujur saja melihat penampilan Caren, aku malah merinding sendiri. Perempuan itu memakai pakaian hanya seperti pakaian dalam saja bagian atasnya, aku tak tahu apa nama pakaian itu, dan bawahannya dia hanya memakai kain khas Bali itu. Bahkan belahannya sangat tinggi. Aku jadi penasaran, apa wanita berpenampilan seperti itu yang Samuel suka.

__ADS_1


Tapi kemudian aku menggelengkan kepalaku perlahan, mengusir pikiran ku yang tidak tidak itu. Kenapa juga aku memikirkan apa yang disukai dan tidak di sukai oleh Samuel.


"Oh, selamat malam tuan dan nyonya Samuel. Ternyata kalian menginap disini juga?" tanya Kenzo menyapa kami.


"Bagaimana Naira, apa luka mu sudah membaik?" tanya Kenzo sok akrab padaku.


Tapi aku memilih untuk tidak menjawab apa yang di tanyakan oleh Kenzo, karena Samuel makin mengeratkan genggaman tangannya saat Kenzo menanyakan itu.


'Ih, si kejam ini. Kenapa kencang sekali genggamnya, apa dia lupa kalau tangan ku terluka!' kesal ku dalam hati.


Sebenarnya aku ingin protes, aku bahkan nyaris mendesis karena menahan sakit. Tapi aku memilih untuk menghela nafas.


"Kamu kenal dengan wanita ini?" tanya Caren pada Kenzo.


Kenzo juga lalu memeluk pinggang Caren dan membuat wanita itu menempel padanya. Aku menoleh ke arah Samuel, tapi aku bersyukur dia tidak bereaksi yang berlebihan dan menggenggam tangan ku lebih erat lagi, karena kalau dia melakukan nya. Aku benar-benar akan menarik tangan ku, terserah apa yang dua orang di depan ku ini pikirkan.


"Tentu saja sayang, Naira kan istrinya Samuel!" jawab Kenzo.


"Kamu istrinya Sam?" pekik Caren padaku, bukan hanya bersuara keras tapi dia bahkan melotot ke arah ku.


'Hadeh, ketemu mantan langsung deh. Saingan gitu mesra mesra nya!' keluh ku dalam hati.


Aku bisa melihat dengan jelas, saat Samuel mengecup puncak kepalaku, Caren terlihat mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Aku jadi heran kenapa dia melakukan itu, bukankah dia sudah bersama dengan orang yang di sukai, hingga dia sampai mengkhianati Samuel demi pria itu.


Tapi kenapa terlihat sekali dia dan Kenzo seperti nya hanya pura-pura dan Caren terlihat sangat kesal melihat Samuel mesra padaku.


"Sayang, ayo kita ambil key card kita!" ucap Samuel dan menarik ku ke arah resepsionis.


Aku mengikuti Samuel dan meninggalkan Kenzo dan Caren. Mereka lalu pergi, dan aku mengintip sedikit dari balik tubuh Samuel yang lumayan tinggi ke arah Kenzo dan Caren. Saat mereka berjalan, mereka sedikit berjauhan, dan Kenzo tak lagi memeluk Caren.


Perasaan ku saja, atau aku merasa mereka seperti tidak saling mencintai.


"Sedang apa? ayo!" ajak Samuel.


Kami juga masuk ke dalam lift menuju lantai 9, dimana kamar kami berada. Setelah masuk ke dalam kamar, Samuel baru melepaskan tangannya dari tangan ku. Tangan ku sampai kebas rasanya.


"Kita mandi dulu, baru kita makan malam!" ucap Samuel.

__ADS_1


Aku langsung mengangguk dan menyiapkan pakaian Samuel ketika dia sudah masuk ke dalam kamar mandi. Tapi saat aku membuka koper, dia malah keluar dengan pakaian bagian atasnya sudah terbuka semua.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Samuel padaku.


"Menyiapkan pakaian mas...!"


"Ck... lakukan itu nanti, mandi dulu!" serunya lagi.


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali.


"Iya mas mandi dulu, dan aku akan siapkan pakaian mas dulu!" ucap ku mengutarakan apa yang ada di pikiran ku.


"Jangan pura-pura bodoh Naira, cepat kemari!" serunya lagi dengan raut wajah yang tidak sabar.


'Ck... baru juga nyampe, pinggang juga masih pegel duduk di mobil dan di pesawat!' gerutu ku dalam hati.


Aku berjalan masuk ke dalam kamar mandi sambil mengomel dalam hati. Karena aku sudah tahu, apa yang akan terjadi kalau Samuel mengajak ku mandi bersama.


Satu jam kemudian.


Aku duduk bersandar sambil meluruskan kaki ku di atas tempat tidur bahkan masih memakai jubah mandi. Pinggang ku rasanya mau putus.


'Bisa encok nih kalau gini terus!' gumam ku dalam hati.


Tapi berbeda dengan Samuel yang sudah berpakaian sangat rapi dengan pakaian santai.


"Naira, cepat ganti baju. Kita akan makan malam di restoran di bawah!" ucap Samuel.


"Mas, boleh tidak kalau aku di sini saja!" ucapku memelas berharap Samuel kasihan padaku.


"Apa kamu tidak menyesal, kalau suami mu yang tampan ini akan di goda banyak wanita di restoran nanti!" ucapnya penuh percaya diri.


'Ih, dia bilang apa. Suami mu?' tanya ku dalam hati yang terkejut mendengar ucapan Samuel.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2