Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
173


__ADS_3

Samuel dan aku sudah berdiri di depan ruang UKS saat ayah mengatakan semua kalimat itu pad ibu. Samuel menahan ku untuk tidak masuk ke dalam, sepertinya dia ingin mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh ayah. Apa keluh kesah ayah.


Dan aku, aku tidak sanggup mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut ayah ku itu. Ayah yang selama ini berjuang sekuat tenaganya demi aku dan Ibras. Demi kami bisa sekolah sampai sekolah menengah atas. Perjuangan ayah dan juga ibu memang luar biasa.


Samuel melihat ku menangis dan menyeka air mataku. Dia menyentuh pipi ku dengan lembut.


"Jangan cemas, ada aku kan!" ucapnya membuat ku merasa kalau aku benar-benar bisa bersandar dan berharap sepenuhnya pada Samuel.


Aku langsung mengangguk kan kepala ku dan tersenyum pada Samuel.


"Kita masuk sekarang!" ajaknya kemudian menggandeng tangan ku dan mengetuk pintu ruang UKS.


Tok tok tok


Ceklek


Kami berdua langsung masuk, dengan Samuel yang terlebih dulu menyapa ayah yang masih berdiri di samping ibu sambil menggenggam tangan ibu.


Jujur saja aku sangat terharu dengan pemandangan yang aku lihat di depan ku. Aku tahu ayah memang sangat menyayangi ibu, suatu ketika Ibras tidak sengaja berkata kasar dan membuat ibu menangis. Saat itu ayah mengamuk pada Ibras dan marah bahkan tidak mau bicara pada Ibras selama hampir tiga hari.


Aku lalu memandang ke arah Samuel, entahlah tapi aku juga ingin Samuel benar-benar mencintai ku seperti ayah mencintai ibu.


"Nak Samuel, Naira!" panggil ayah setelah menoleh dan melihat kami.


"Ayah, bagaimana keadaan ibu?" tanya Samuel berbasa-basi.


Padahal sejak tadi dokter mengatakan kondisi ibu pada ayah, aku dan juga Samuel sudah berada di depan ruang UKS. Hanya saja Samuel tidak memperbolehkan aku untuk masuk dan mendengarkan semuanya dari luar.

__ADS_1


Aku langsung memeluk ayah yang matanya mulai berkaca-kaca saat melihat ku.


"Selamat ya nak, kamu akan menjadi seorang ibu. Ayah ikut bahagia, bahkan ayah sangat bahagia untuk mu dan suami mu!" ucap ayah yang membuat air mata ku yang baru saja berhenti mengalir lagi.


Aku sungguh tak dapat berkata-kata. Aku hanya terisak di pelukan ayah ku. Ayah terus mengusap punggung ku dengan lembut sampai beberapa kali.


"Sudah sudah, ibu tidak apa-apa. Hanya kurang darah saja. Semua akan baik-baik saja!" ucap ayah dengan suara yang juga terdengar bergetar di telingaku.


Aku tahu ayah sedang menahan sedih. Biasanya ayah akan selalu terbuka padaku, mungkin karena disini ada Samuel jadi dia berusaha untuk menutupi kesedihannya.


"Ayah, aku akan menuai dokter untuk menanyakan keadaan ibu. Naira sayang, sebentar ya!" ucap Samuel yang membuat ku langsung menarik diriku dari pelukan ayah dan langsung menoleh ke arahnya.


Samuel menyentuh lembut kepala ku dan meninggalkan ruang UKS.


Setelah Samuel pergi, ayah melihat ku selama beberapa detik.


Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.


"Iya ayah, Samuel sangat menyayangiku. Sebenarnya ada apa ayah?" tanya ku mencoba untuk membuka percakapan agar Ayah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.


Ayah tidak langsung menjawab pertanyaan ku, dia mengajakku duduk di kursi yang terletak di depan meja kerja dokter yang ada papan namanya di atas meja dengan tulisan dokter Wulan.


"Tidak apa-apa nak, ayah dan ibu baik-baik saja. Kamu jangan memikirkan kami, kamu sekarang sedang hamil. Lebih baik kamu tidak memikirkan hal-hal yang berat dan menyulitkan mu. Jaga kandungan mu baik-baik, terlihat jelas di wajah nak Samuel kalau dia lebih menyayangi mu sekarang, ayah yakin kalau semua itu juga karena kehamilan mu ini." ucap ayah sambil menepuk punggung tangan ku yang ia genggam.


"Ayah, tapi aku tidak akan tenang kalau ayah tidak mengatakan yang sebenarnya!" ucap ku meyakinkan ayah kalau jika dia menyembunyikan semua itu dariku maka aku malah akan semakin memikirkan semua ini.


Ayah menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Beasiswa Ibras di cabut nak!" ucap ayah dengan wajah yang tertunduk.


Aku juga terkejut mendengar penuturan ayah, selama ini Ibras sangat berprestasi, bahkan dia lebih pintar dariku. Bagaimana bisa beasiswa nya dicabut. Aku sangat terkejut. Apalagi dia baru saja naik kelas dua belas, kalau di cabut artinya satu tahun lagi ayah harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Tapi aku sungguh di buat penasaran dengan alasan di cabut nya beasiswa Ibras.


"Tapi kenapa ayah? setahu ku prestasi Ibras sangat baik?" tanya ku pada ayah.


"Bukan karena prestasi nya menurun, beberapa minggu yang lalu, Ibras berkelahi dengan beberapa siswa lain. Dan beberapa orang itu terluka di bagian tubuh mereka. Orang tua mereka tidak terima dan meminta agar Ibras di keluarkan dari sekolah, beruntung pihak sekolah masih baik pada ayah dan juga Ibras. Dan pihak sekolah hanya memberikan sanksi skors selama satu minggu pada Ibras dan juga mencabut beasiswa nya, ibu mu mungkin terlalu memikirkan hal ini dan beberapa hari ini dia tidak makan dan tidur dengan baik!" ayah menghentikan ucapannya dan kembali menundukkan wajahnya.


Aku tidak habis pikir kenapa Ibras sampai berbuat seperti itu, apa dia tidak sadar kalau apa yang dia lakukan akan merusak nama baik ayah dan juga ibu. Tapi sejauh aku mengenal Ibras, dia bukan orang yang gegabah. Pasti siswa siswa itu yang sudah menyulut kemarahan Ibras.


"Aku tahu Ibras tidak mungkin berbuat hal semacam itu tanpa alasan ayah, pasti mereka yang mencari gara-gara duluan kan. Katakan padaku ayah siapa mereka dan apa yang mereka katakan pada Ibras hingga Ibras memukul mereka?" tanya ku pada ayah.


Aku pun merasa tak terima kalau Ibras di hukum karena ulah anak-anak manja yang tidak bertanggung jawab.


"Mereka anak-anak dari para anggota donatur dan pemilik yayasan. Ibras bilang mereka awalnya iri melihat ponsel yang di pakai oleh Ibras. Dan mereka membantingnya. Tapi bukan itu yang membuat Ibras marah. Dia marah karena mereka mengatakan hal yang tidak pantas...!" ayah menjeda apa yang ingin dia katakan.


Aku juga sangat kesal mendengar cerita dari ayah.


"Mereka bilang hal yang tidak baik di ucapkan dan tidak enak di dengar tentang dirimu nak. Itulah yang membuat Ibras sangat emosi!" jelas ayah.


Tes tes


Air mataku menetes, aku tahu Ibras sangat menyayangiku seperti aku menyayangi nya. Dan ketika mendengar kalau Ibras di hukum karena membela ku rasanya aku sungguh sangat tidak terima.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2