
Setelah makan siang, aku dan Samuel pamit pulang pada ayah dan ibu.
"Hati-hati dijalan nak!" ucap ayah.
Samuel mengangguk dan tersenyum.
"Iya ayah, ayah jangan cemas. Masalah Ibras juga akan segera teratasi. Ayah tenang saja!" ucap Samuel dan membuatku sedikit mengernyit heran.
Tapi kemudian aku langsung masuk ke dalam mobil ketika Samuel sudah membukakan pintu mobil untukku.
"Kami pulang dulu ayah, ibu. Assalamualaikum!" ucap ku sebelum Samuel menutup pintu mobil.
"Waalaikumsalam!" jawab ayah dan ibu.
Aku masih penasaran dengan apa yang tadi Samuel katakan. Dia memang terlihat serius saat mengobrol dengan ayah tadi di ruang keluarga. Tapi karena aku menemani ibu di dalam kamar aku jadi tidak tahu apa yang Samuel dan ayah ku bicarakan.
Mobil yang di kemudikan oleh pak Urip pun segera meninggalkan komplek perumahan kami.
Aku sedikit ragu ingin meminta ijin pada Samuel untuk berkunjung ke butiknya Puspa.
"Mas, hari ini mas libur ya?" tanya ku pada Samuel.
Samuel langsung menoleh ke arah ku dan menjawab.
"Iya sayang, ada apa? kamu ingin sesuatu?" tanya nya sambil sesekali menoleh ke arah ku tapi tetap fokus pada ponselnya.
Sepertinya dia sangat sibuk dari tadi, ponselnya juga terus berbunyi.
Aku jadi merasa tidak enak kalau harus ke butik Puspa sekarang, masalahnya Samuel yang sepertinya banyak pekerjaan saja mau menemaniku dan libur kerja, masa' aku malah meninggalkan nya dan menemui Puspa.
'Baiklah, besok saja kalau begitu ke butiknya!' batin ku.
"Tidak apa-apa mas!" ucap ku pada Samuel.
__ADS_1
"Sayang, jika ada yang kamu inginkan maka katakan saja. Jangan ragu-ragu!" ucap Samuel lalu menyimpan ponselnya.
Samuel menggeser duduknya mendekatiku dan meraih tangan ku ke atas pangkuannya. Dia menepuk pelan punggung tanganku.
"Ada apa?" tanya nya dengan lembut.
"Mas, aku mau mengucapkan terimakasih atas apa yang sudah mas berikan dan lakukan pada ayah, ibu dan juga Ibras...!"
Tapi belum sempat aku selesai mengucapkan terimakasih pada Samuel. Suamiku itu meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir ku.
"Jangan bicara seperti itu, mereka bukan hanya keluarga mu tapi juga keluarga ku. Sayang apa sekarang aku bisa mendengar mu mengatakan kalau kamu punya perasaan yang sama padaku?" tanya Samuel dengan suara dan pandangan yang lembut padaku.
Deg deg deg
Jantungku berdetak tak karuan ketika Samuel mengatakan kalimat seperti itu. Aku sendiri masih belum yakin pada perasaan ku.
"A... aku, mas... !" kata itu sudah ada di ujung lidah ku tapi rasanya sulit sekali untuk aku katakan.
"Baiklah, aku akan sabar menunggu sampai kamu bisa mengatakannya!" ucap Samuel.
Aku sebenarnya sangat tidak enak hati, tapi mau bagaimana lagi. Benar-benar tidak bisa terucap. Sebenarnya aku juga sudah mulai mencintai Samuel, apalagi hari ini dia telah melakukan banyak hal untuk keluarga ku. Kesan dingin dan arogan yang dulu aku sematkan padanya, langsung pudar seketika hari ini. Dan lagi aku juga sudah mengandung anaknya, dan dia juga sudah merobek perjanjian kontrak itu. Kenapa masih sulit aku mengungkapkan isi hatiku padanya ya.
Selanjutnya perjalanan pulang kami lewati hanya saling diam dan sesekali Samuel masih terus sibuk dengan ponselnya. Tapi sesekali dia juga mengusap lembut kepalaku yang masih ku sandaran di bahunya.
Setelah beberapa lama akhirnya kami tiba di kediaman Virendra. Aku sebenarnya cukup terkejut dengan beberapa mobil yang terparkir di halaman. Tapi aku malah berpikir kalau itu mobil milik keluarga ini.
Tapi aku sangat hafal satu mobil yang berada paling dekat dengan pintu gerbang, itu adalah mobil Riksa. Itu artinya ada Riksa di dalam, entah kenapa begitu melihat mobil Riksa aku jadi sangat bersemangat untuk masuk ke dalam.
Samuel turun dari mobil setelah pak Urip membukakan pintu mobil. Lalu Samuel mengulurkan tangannya membantu aku turun dari mobil.
Kami berdua berjalan bersama masuk ke dalam rumah.
Begitu Samuel membuka pintu.
__ADS_1
"Kejutan!" seru semua orang yang ada di dalam.
Aku lihat ayah Damar, kakek Virendra, ibu Stella, Puspa, Dina, Riksa, dan ada juga beberapa orang yang aku pernah lihat saat pesta pernikahan kami. Kurasa mereka adalah sahabat dan kerabat ibu Stella dan ayah Damar. Dan seseorang yang ekspresi wajah nya sangat berbeda dengan dengan yang lain hingga dia terlihat begitu mencolok dari yang lain. Dia adalah Adam, ketika yang lain tersenyum senang menyambut kedatangan kami, Adam malah terlihat acuh, cemberut dan seperti nya dia di paksa untuk berada di sana.
Di atas meja tamu sudah ada banyak sekali kado dan paper bag. Benar-benar sangat banyak sampai hampir memenuhi space di meja tamu yang ukurannya juga besar sebenarnya.
Ibu Stella lalu menghampiri ku dan menarik ku menjauh dari Samuel. Aku menoleh dan Samuel hanya bisa menggaruk keningnya, sepertinya dia sangat terkejut dengan ulah ibunya itu.
"Ini dia calon ibu dari Samuel junior!" ucap ibu Stella uang membawaku ke tengah kerumunan orang-orang.
Mereka semua lalu mengambil kado-kado dan paper bag yang ada di atas meja, masing-masing orang ada yang membawa bahkan tiga kado.
"Sayang, selamat ya. Ini hadiah dari Tante Ana!" ucap seorang wanita yang memakai berlian yang besar sekali di kedua telinga nya. Terlihat sangat silau karena dia menyanggul rambutnya sepenuhnya ke atas.
"Sayang ini Tante Ana, sahabat ibu. Dan juga sepupu jauh ibu!" ucap Ibu Stella menjelaskan.
Begitu seterusnya sampai beberapa orang, hingga Puspa membawa satu box berwarna merah besar dengan pita warna gold di atasnya dan langsung menghampiri ku.
"Selamat atas kehamilan mu Naira, aku sangat senang mendengarnya. Ini adalah beberapa pakaian hamil yang tetap akan membuat suamimu terhibur melihatnya!" ucap Puspa sedikit berbisik padaku.
"Terimakasih Puspa!" ucap ku lalu menerima kado dari Puspa dan dia pun memelukku.
Setelah itu Riksa juga membawakan aku sebuah kado dengan box berwarna senada dengan milik Puspa bahkan ukurannya pun sama, juga pita warna gold yang sama persis. Tapi baru saja dia akan menghampiri ku, Samuel berdiri di depanku dan merebut kado Riksa dengan cepat.
"Terimakasih kadonya, tapi tidak bisakah sedikit kreatif. Kenapa sama persis dengan punya Puspa, atau jangan-jangan kamu minta Puspa memilih kado untuk Naira?" tanya Samuel yang langsung membuka kotak kado yang di berikan oleh Riksa.
"Em, Sam. Sebaiknya di bukanya nanti saja!" ucap Puspa yang langsung menyela apa yang akan di lakukan Samuel.
Wajahnya juga terlihat panik, tapi wajah Riksa biasa saja. Apa jangan-jangan selain boxnya yang sama isinya juga sama. Aku tidak bisa bayangkan kalau Samuel melihat isi kado dari Riksa untukku. Jika memang sama dengan yang di berikan oleh Puspa.
***
Bersambung...
__ADS_1