Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
243


__ADS_3

Naira yang di antar pulang oleh pak Urip sebenarnya masih mencemaskan tentang keadaan Puspa. Namun Riksa mengatakan kalau yang terjadi di rumah Puspa sepertinya sangat serius. Dari apa yang terjadi pada kedua penata rias Puspa itu, sepertinya para pelaku penculik berpengalaman dan tidak segan menyakiti orang. Hingga Riksa mengatakan lebih baik kalau Naira pulang saja, karena dia juga harus menjaga kandungan nya.


Naira pun akhirnya menuruti apa yang di katakan oleh Riksa dan ikut pulang bersama dengan pak Urip.


Melihat Naira yang wajahnya sangat cemas, pak Urip pun berkata.


"Nyonya Naira jangan terlalu mencemaskan yang terjadi, ingat saat ini nyonya muda sedang hamil. Percayalah kalau semua masalah pasti dapat teratasi, pasti dapat di selesaikan oleh tuan Samuel. Dia adalah pria yang sangat hebat, kuat dan penuh pertimbangan. Di tambah Riksa, mereka sudah seperti kedua proklamator negara kita. Yang satu pemberani dan tangguh, yang satu lagi pendiam namun punya pemikiran yang begitu teliti dan cermat!" ucap pak Urip membuat Naira terperangah.


Cara pak Urip mengibaratkan Samuel dan Riksa dengan kedua proklamator negara ini sungguh membuat Naira merasa takjub. Naira sampai tak bisa berkata-kata.


Beberapa menit kemudian, Naira bersama dengan pak Urip telah tiba di kediaman Virendra. Kakek Virendra yang mengetahui Naira akan pulang pun sengaja menunggu cucu menantunya itu di depan pintu. Begitu melihat Naira keluar dari dalam mobil, kakek Virendra begitu senang. Dia langsung tersenyum dan berjalan ke arah Naira yang juga sedang menghampiri kakek Virendra.


"Naira, akhirnya kamu pulang. Kakek cemas sekali!" ucap Kakek Virendra jujur.


Naira pun merasa bersalah, dia lalu minta maaf pada kakek Virendra karena sudah membuat pria yang usianya sudah sepuh itu cemas.


"Maafkan aku kek!" ucap Naira lembut.


Kakek Virendra lalu mengelus kepala Naira dan langsung mengajaknya masuk. Sampai di dalam Stella juga langsung menghampiri Naira.


"Sayang, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Stella duduk di sebelah Naira yang duduk di sebelah kakek Virendra.


"Apa Puspa benar-benar di culik?" tanya Damar yang datang bersama dengan Adam.


"Cepat katakan, apa yang terjadi?" tanya Adam panik.


Stella langsung melotot tajam pada Adam.


"Adam, bicara uang sopan pada kakak ipar mu!" pekik Stella tidak senang pada sikap Adam terhadap Naira.


"Adam, cepat minta maaf pada Naira!" titah kakek Virendra.


Adam pun merengut kesal, sebenarnya dia tidak rela semua keluarga nya begitu membela wanita biasa yang berstatus istri kakaknya itu. Yang dia tahu adalah status Naira itu istri kontrak Samuel, dia belum tahu kalau kontrak itu sudah di batalkan oleh Samuel karena Samuel benar-benar telah jatuh hati pada Naira.


Adam berdecak kesal, tapi dia tetap menurut pada perintah sang kakek.


"Aku minta maaf, cepat jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Adam.


"Aku tidak tahu seperti apa pastinya, tapi saat kami disana listrik tiba-tiba padam. Dan beberapa menit kemudian listrik kembali menyala, tetapi tak lama setelah itu terdengar teriakan dari pelayan kalau Puspa tidak ada di dalam kamarnya. Saat Ayah Puspa dan tunangannya memeriksa...!"


"Apa, tunangan?" pekik Adam dengan mata melotot tak percaya pada ucapan Naira.


"Puspa sudah bertunangan, dengan siapa?" tanya Adam cepat membuat semua mata langsung tertuju pada pemuda itu.


Stella yang merasa Adam mengganggu Naira bercerita meminta agar putra bungsunya itu diam dulu dan biarkan Naira melanjutkan ceritanya.


"Adam, kenapa begitu terkejut. Memangnya kenapa kalau Puspa bertunangan, biar Naira cerita dulu. Puspa sudah seperti keluarga kita sendiri, setidaknya kita bisa membantu mereka jika tahu apa yang terjadi sebenarnya!" jelas Stella membuat Adam semakin menahan kesal dalam hatinya.

__ADS_1


'Sial, apa selama ini benar-benar tidak ada yang menyadari kalau aku menyukainya, aku menyukai Puspa. Benar-benar tidak ada yang menganggap ku di rumah ini!' batin Adam begitu kesal.


"Sayang, lanjutkan!" ucap Stella sambil mengelus lengan Naira beberapa kali.


Stella tahu kalau Naira sudah pasti juga sangat mencemaskan Puspa. Dari awal Stella mengenal Naira, dia memang selalu terlihat bertanya apapun pada Puspa, dan dia sangat terkesan begitu percaya pada Puspa. Jadi Stella tahu Naira pasti juga masih sangat mencemaskan keadaan sahabat nya itu.


"Setelah ayah Puspa dan Jonathan...!"


'Jonathan, sial aku melupakan pria yang dua tahun lalu jauh-jauh datang dari Jerman kemari hanya untuk memberi hadiah valentine pada Puspa!' kesal Adam dalam hatinya.


"Masuk ke dalam kamar Puspa, dia melihat dua penata rias itu dalam kondisi terikat dengan mulut tersumpal kain. Dan Puspa memang sudah tidak disana, Riksa dan Samuel sedang memeriksa kamera CCtv ketika pak Urip datang menjemput ku!" jelas Naira.


Stella terus mengusap punggung Naira.


"Sudah ya nak, ku tenang saja. Samuel dan Riksa pasti bisa menemukan Puspa!" ucap Stella yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Naira.


Setelah itu Naira di antar ke kamar oleh Stella. Dan Stella pun menemaninya beberapa saat sebelum kembali keluar dari kamar Naira. Saat Stella keluar Adam sedang adu pendapat dengan sang ayah di ruang keluarga, untung saja kakek Virendra sudah tidak terlihat lagi di sana sehingga Stella sedikit makanan nafas lega.


"Sudah malam Adam, sudah ada Samuel dan juga Riksa...!"


"Ayah, akan semakin cepat menemukan nya kalau yang mencarinya banyak orang!" sanggah Adam yang bersikeras ingin ikut mencari Puspa.


"Adam...!"


"Ayah, Adam benar. Akan semakin bagus kalau yang mencarinya lebih banyak orang. Pergilah nak, tapi hati-hati ya. Jangan mengebut!" ucap Stella membuat Adam langsung bergegas pergi keluar rumah untuk ikut mencari keberadaan Puspa.


"Kenapa kamu biarkan dia pergi, dia dan Riksa akan...ck...!" Damar tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan karena dia merasa kalau dia mengatakan itu akan percuma saja karena Adam sudah terlanjur pergi.


Stella langsung menggandeng lengan suaminya dan mengelusnya perlahan-lahan beberapa kali.


"Mas, sudah tidak akan ada lagi pertengkaran antara Adam dan juga Riksa. Kamu dengarkan tadi apa kata menantu kita, Puspa sudah mempunyai tunangan dan itu semakin menegaskan kalau memang Puspa tidak menyukai kedua putra kita, baik Adam ataupun Riksa. Yah, meski aku sebenarnya sedikit sedih karena sebenarnya aku sangat menyukai Puspa dan berharap dia menjadi menantuku. Tapi bagaimana pun juga ini pun baik. Kedua putra kita itu tidak akan lagi bersitegang karena menyukai satu gadis yang sama!" jelas Stella panjang lebar pada sang suami.


Damar pun mengangguk setuju pada apa yang dikatakan oleh Stella. Menurut nya hal ini juga baik karena Puspa sudah bertunangan maka tidak akan lagi ada pertengkaran atau perang dingin antara Riksa dan juga Adam.


Tidak seperti apa yang Adam pikirkan, kalau di rumah ini tidak ada satupun orang yang menyadari kalau dia menyukai Puspa. Sebenarnya semua orang di rumah ini menyadarinya dan tidak hanya menyadari kalau ada menyukai Puspa, tapi Stella dan juga Damar juga mengetahui kalau Riksa sebenarnya juga menaruh hati pada wanita yang memang sangat cantik dan mandiri itu.


Tapi keduanya masih memilih untuk bungkam dan pura-pura tidak tahu. Karena tidak ingin pula memihak salah satu di antara keduanya. Mereka sama-sama menyayangi Adam dan juga Riksa, meskipun Riksa hanya anak angkat tapi mereka juga sangat menyayanginya dan sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.


Sementara itu di kediaman Putra, Samuel dan juga Riksa masih berusaha mencari tahu hal-hal yang menurut mereka bisa membantu dalam proses penyelidikan, mencari petunjuk siapa dalang dibalik penculikan terhadap Puspa.


Samuel bertanya kepada Putra dan juga Mega apakah Puspa pernah bercerita kalau mereka kalau dia sedang mengalami masalah dengan pekerjaannya.


"Tidak ada Sam, kami bahkan baru disini dua hari. Dan kami tidak pernah mendapatkan keluhan apapun dari Puspa!" jawab Mega.


Samuel terdiam dan mulai kembali berpikir. Dia melihat ke arah Riksa, tadi saat pulang dari memeriksa ruang kontrol perumahan, dia sempat mengatakan pada Riksa. Kalau sepertinya yang menculik Puspa itu adalah orang yang paham betul dengan situasi kediaman Putra.


"Begini om, tadi Riksa bilang padaku. Kalau kemungkinan dalang dibalik penculikan Puspa adalah orang yang mengerti betul tentang keadaan rumah ini, mereka tahu dimana letak kamar Puspa, lalu mereka juga mengeluarkan Puspa di tempat di mana tidak terlihat kamera CCTV, di bagian dinding pagar yang memang tidak terlalu banyak pecahan-pecahan beling di atasnya. Ini menunjukkan kalau pelakunya mengerti betul setiap seluk beluk kediaman ini!" jelas Samuel panjang lebar.

__ADS_1


Samuel melihat ke arah Riksa kembali, Samuel sudah mengatakan kepada sekretaris pribadinya itu untuk menyampaikan sendiri kepada keluarga Putra tentang pemikiran nya itu. Tapi Riksa malah minta Samuel yang bilang karena Riksa bilang kalau mereka semua pasti akan lebih percaya kepada apa yang dikatakan oleh Samuel. Dan benar saja begitu Samuel mengatakan pendapatnya itu terlihat wajah semua orang yang ada dalam ruangan itu menjadi serius dan saling pandang.


"Polisi juga bilang begitu, kalau bukan orang mengetahui seluk beluk tempat ini mana mungkin dia tahu di mana letak panel listrik, dimana letak kamar Puspa, dan dimana letak tempat-tempat yang tidak terlihat oleh CCtv!" tambah Jonathan yang sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Samuel dan juga pendapat Riksa.


"Orang yang mengetahui segalanya tentang rumah ini?" tanya Putra dengan suara penuh penekanan dan dia pun seperti sedang berpikir sangat dalam.


Putra beberapa kali melihat ke arah Mega, yang sepertinya juga sedang memikirkan hal yang sama.


"Tapi siapa?" tanya Putra kemudian karena dia tidak dapat menerka siapa orang tersebut, dia juga tidak menaruh curiga pada siapapun. Dan ini membuat semua semakin sulit.


***


Sementara itu di waktu yang sama, di sebuah gudang kosong yang letaknya sangat jauh dari perkotaan dan pemukiman penduduk. Hanya ada lampu besar dan hanya satu buah di depan pintu utama gudang itu. Sebuah mobil minibus berukuran besar berhenti tepat di depan pintu gudang tersebut. Sementara itu, di depan gudang sudah menunggu seorang pria paruh baya berbadan gendut bersama seorang wanita paruh baya yang memakai kacamata. Mereka terlihat sangat serius menatap ke arah minibus besar yang baru datang itu.


Dan dari dalam minibus itu turun 4 orang pria yang memaksa seorang wanita memakai gaun biru untuk mengikuti langkah mereka. Wanita itu dalam keadaan tangan terikat ke belakang dan mata tertutup kain. Juga mulutnya sudah dibungkam dengan lakban. Wanita itu terlihat terus merontak meminta dilepaskan tapi, keempat orang pria itu malah terus mengarahkannya maju hingga tiba di depan gudang.


Pria paruh baya berbadan gendut itu langsung meminta keempat orang laki-laki itu untuk membawa wanita itu masuk ke dalam gudang. Dia ditarik dengan cepat, hingga kakinya yang memang sudah tidak memakai alas kaki pun menjadi sedikit lecet.


Dia berusaha untuk bersuara tapi karena mulutnya tertutup lakban dia jadi terdengar seperti hanya berdeham dengan keras.


Wanita itu kemudian diikat Di sebuah kursi kayu yang sudah ada di dalam gudang itu. Wanita itu di ikat dan setelah ikatan itu dirasa kuat menahan wanita itu agar tidak bisa bergerak kemana-mana, barulah lakban yang menutupi mulut wanita itu dibuka dengan tiba-tiba. Membuat wanita cantik itu meringis kesakitan.


"Siapa kalian, apa mau kalian?" tanya wanita itu setengah berteriak dengan cepat dia bertanya kepada orang-orang yang telah membawanya ke tempat ini.


"Ha ha ha, nona Puspa kamu masih bertanya kenapa kamu di bawa kemari?" tanya pria paruh baya yang berbadan gendut itu sambil mendekati wanita cantik itu.


Benar, wanita cantik itu yang memakai gaun biru dan diikat tangannya ke belakang dan masih memakai penutup mata dari kain adalah Puspa.Wanita yang sedang dicari keberadaan nya oleh semua keluarganya, Samuel dan juga Riksa. Setelah mendengar suara dari pria berbadan besar itu, Puspa memiringkan kepalanya, dia sepertinya mengenali suara dari orang yang berada di depannya itu.


"Kamu...!" ucapan Puspa tertahan karena dia tidak percaya dengan apa yang dia pikirkan sendiri.


Puspa bahkan langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tidak, tidak mungkin. Kamu tidak mungkin pak Nasrul kan?" tanya Puspa dengan suara yang bergetar benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia pikirkan.


Tapi kemudian pria berbadan gemuk itu membuka kain yang menutupi mata Puspa. Begitu mata Puspa terbuka dia benar-benar terkejut.


"Pak Nasrul, ibu Jamilah!" pekik Puspa tak percaya.


Setelah dia melihat pak Nasrul, dia juga langsung melihat ke sampingnya yang berdiri seorang wanita paruh baya memakai kacamata yang dia kenali sebagai ibu Jamilah.


"Kalian berdua, tidak... tidak mungkin!" lirih Puspa sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.


Dia benar-benar tidak menyangka dan dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia saksikan saat ini. Dia melihat kedua orang yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun ada di hadapannya dan menjadi dalang dari penculikan dirinya.


"Aku tidak percaya ini!" ungkap Puspa yang berusaha masih tetap berusaha menyangkal dengan kenyataan yang sudah ada di depan matanya sendiri.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2