
Keesokan paginya, Naira terbangun ketika mendengar suara dering ponsel milik Samuel. Ketika Naira membuka matanya, dia melihat Samuel bahkan sudah bersiap dan sedang memakai dasinya di depan cermin rias Naira.
"Mas, mas Sam sudah pulang?" tanya Naira yang batu membuka matanya dan mengusap wajahnya perlahan.
"Selamat pagi sayang, maaf karena suara ponselku membangunkan mu ya?" tanya Samuel yang langsung menghampiri Naira dan mencium kening Naira.
Cup
"Sayang, aku langsung berangkat ke kantor ya. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan!" ujar Samuel.
"Jam berapa mas pulang semalam?" tanya Naira membuat Samuel yang sudah melangkah menuju ke pintu kamar mereka berhenti dan berbalik melihat ke arah Naira lagi.
"Sudah lewat tengah malam, kamu sudah tidur jadi aku tidak membangunkan mu. Aku berangkat ya sayang!" ucap Samuel lalu keluar dari kamar mereka.
Naira masih diam di atas tempat tidur nya, dengan posisi duduk dia terus melihat ke arah pintu kamar yang sudah tertutup lagi setelah Samuel sudah keluar.
Naira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, apa yang aku pikirkan. Mas Sam pasti sangat sibuk, aku tidak boleh menambah beban pikiran nya!" gumam Naira lalu turun dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya.
Samuel memang sangat sibuk hari ini, bahkan dia tidak sempat sarapan dan langsung berangkat ke kantor. Pekerjaan yang biasanya di tangani oleh Riksa harus dia handle juga dan itu membuatnya sangat sibuk sampai Dina mendapatkan pengganti sementara Riksa yang dipaksa cuti oleh Puspa selama satu minggu.
Di ruangan Samuel, Dina sudah tiba bersama dengan seorang wanita cantik yang penampilannya sudah seperti seorang model.
"Pagi bos, ini Ema. Dia yang akan menggantikan semua pekerjaan Riksa selama satu minggu ini!" ucap Dina pada Samuel yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Jelaskan saja padanya semua yang harus dia kerjakan, pakai saja meja kerja Riksa!" perintah Samuel pada Dina tanpa melihat ke arah Dina dan Ema.
"Bos, apakah kamu tidak bisa menjelaskannya sendiri padaku?" tanya Ema.
__ADS_1
Samuel yang merasa familiar dengan suara perempuan yang bernama Ema itu langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sumber suara tadi.
"Hema!" ucap Samuel memanggil nama lengkap Ema.
Ema tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Iya ini aku kakak senior Samuel!" ucap Ema sambil tersenyum pada Samuel.
Samuel lantas berdiri dan terkekeh pelan, dia lalu berjalan ke arah Ema.
"Sejak kapan kamu bekerja di kantor pusat?" tanya Samuel yang memang mengenal wanita bernama Ema itu.
Ema adalah salah satu juniornya di kampus saat kuliah di luar negeri dulu. Ema terkenal pintar dan tidak banyak bicara, itu jugalah yang bisa membuatnya saat kuliah bisa menjadi teman Samuel, meskipun tidak sedekat Puspa.
"Sudah satu tahun lebih, baiklah sekarang mana yang lebih dulu harus aku kerjakan?" tanya Ema yang langsung to the points pada urusan pekerjaan dan tidak banyak basa-basi.
Dina lalu keluar dari ruangan Samuel, dan samuel mulai menjelaskan pekerjaan Ema. Pandangan Ema begitu tegas dan jelas, dia benar-benar hanya fokus pada pekerjaan dan itu sangat membuat Samuel merasa kalau dia bisa menggantikan Riksa untuk satu Minggu ini.
Sementara itu di sebuah kantor yang sangat besar dan dengan hiruk pikuk segala kesibukan nya. Seorang pemuda dengan wajah oriental sedang bicara dengan seseorang di telepon.
"Bagus, lanjutkan apa yang kamu kerjakan. Pastikan kalau dia percaya pada semua yang kamu katakan dan mulai mencurigai suaminya, buat dia tidak percaya pada suaminya, dan buat mereka bertengkar!" ucap Kenzo Hasigawa pada seorang di telepon.
"Baik tuan, seperti yang anda perintahkan!" jawab sebuah suara yang terdengar seperti suara seorang wanita.
"Satu hal lagi, ingat untuk terus memperhatikan nya. Jangan biarkan dia terlalu stress dan melakukan hal yang tidak-tidak. Jangan sampai dia terluka!" perintah Kenzo lagi.
"Baik tuan, saya mengerti!" jawab wanita itu.
Kenzo langsung memutuskan panggilan telepon lalu menyimpan kembali ponselnya.
__ADS_1
"Semua sudah berjalan sesuai rencana, aku akan kembali ke perusahaan ku!" ujar Teddy Rizaldi yang juga ada di ruangan Kenzo sejak tadi pagi.
"Tentu saja, kamu sudah melakukan bagian mu dengan baik. Membujuk seorang dengan kredibilitas yang tinggi seperti wanita yang kamu bujuk itu sangat tidak mudah, aku akui kamu bekerja dengan baik kali ini. Silahkan " ucap Kenzo mempersilahkan Teddy Rizaldi untuk keluar dari ruangannya.
Kenzo merasa senang karena Teddy sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Rencana Kenzo dan Teddy sejauh ini berjalan dengan sangat lancar dan baik. Dia sangat percaya diri kalau rencana memisahkan Naira dan Samuel akan berhasil.
Sementara itu di ruang kantor Vina, dia sedang berdebat dengan Adam karena Adam membuatnya merasa kesal pagi ini. Adam memintanya membelikan bubur ayam di jalan tadi padi saat akan berangkat ke kantor, yang seharusnya seorang suami lah yang membelikan nya untuk istrinya. Itu seharusnya. Tapi ini tidak, itu hal pertama yang membuat Vina kesal.
Hal kedua yang membuat Vina nyaris berteriak karena kesal adalah karena Adam minta Vina memberikan bubur ayam yang dia beli di jalan tadi pada Jodi. Bahkan Adam bilang Vina yang harus menyuapi Jodi sarapan bubur ayam itu.
"Jadi itu alasannya kamu menyuruhku membeli bubur ayam?" tanya Vina kesal.
"Memangnya apalagi, aku meminta mu yang membelinya karena makanan itu harus kamu berikan pada buaya darat itu!" jelas Adam.
"Adam, kenapa aku harus memberikan itu padanya? aku tidak mau? aku takut nanti aku tidak bisa menahan emosi dan malah melemparkan bubur ayam itu ke wajahnya!" keluh Vina menjelaskan apa alasannya tidak mau mengantarkan makanan itu kepada Jodi di ruangannya.
"Kalau begitu lemparkan saja ke wajahnya, lalu katakan sekalian semua rencana kita. Biar di semakin mudah mengambil alih perusahaan ayah mu ini!" seru Adam dengan wajah yang begitu serius, bahkan Adam terlihat marah saat mengatakan hal itu pada Vina.
Vina mendengus kesal lalu duduk di sofa dengan cepat.
"Adam, aku tidak bisa. Aku bahkan sangat kesal padanya!" keluh Vina sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Adam yang awalnya kesal pada Vina, menghela nafasnya panjang. Dia tahu pasti sangat berat bagi Vina bersikap sok manis pada orang yang sangat dia benci. Adam duduk di sebelah Vina, lalu menepuk bahu Vina perlahan.
"Vina kamu harus bisa, kita harus secepatnya mendapatkan bukti itu. Karena jika tidak perusahaan yang dibangun ayah mu dengan susah payah, bisa jatuh ke tangan buaya darat itu. Kamu tidak mau kan?" tanya Adam membuat Vina menghela nafasnya panjang.
***
Bersambung...
__ADS_1