
Aku sedang berada di dalam mobil bersama dengan Riksa, dia bilang kami akan menuju ke sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan. Sejak aku menanyakan masalah nasi di sarapan kami saat berada di butik Puspa, sejak saat itu Riksa jadi lebih banyak tersenyum ketika melihat ke arah ku. Aku jadi semakin merasa yakin kalau aku ini benar-benar aneh menurutnya.
Tapi tiba-tiba saja aku teringat toko buku ko Acong, aku kan belum bilang kalau mau berhenti. Pasti Mini dan Haris akan menunggu ku, dan mengkhawatirkan aku. Lagipula kenapa juga sih aku harus berhenti bekerja, nanti bagaimana kalau aku sudah berpisah dengan si lidah tajam itu. Apa aku akan dapatkan pekerjaan sebaik dan senyaman di tempat ko Acong? aku rasa tidak. Aku harus bicarakan ini dengan Riksa.
"Em, Riksa!" Panggil ku pelan pada pemuda tampan yang sedang fokus menyetir di sebelah ku itu.
Dia langsung menoleh, dan menjawab panggilan ku dengan deheman nya.
"Hem!" sahut Riksa.
Aku jadi terpana, deheman nya saja sangat merdu. Wah, kenapa Riksa ini tidak jadi anggota boyband saja.
Aku masih ragu ketika akan mengatakannya pada Riksa, masalahnya perihal aku harus berhenti bekerja ada di dalam kontrak yang sudah aku tanda tangani. Tapi setelah aku pikirkan lagi, memangnya apa yang harus aku lakukan seharian di rumah yang jelas-jelas sudah ada belasan pelayan itu?
"Apa boleh aku meminta satu hal?" tanya ku sedikit ragu.
Riksa langsung tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja, katakan lah!" sahut nya.
Aku membenarkan posisi duduk ku, menghadap ke arah Riksa. Aku memasang wajah serius.
"Apa boleh, kalau setelah menikah nanti aku tidak berhenti bekerja?" tanya ku dan tiba-tiba Riksa menghentikan mobilnya dengan mendadak.
Citt
__ADS_1
Suara decitan ban yang beradu dengan aspal jalanan. Aku bahkan terhentak saat Riksa mengerem mendadak.
Dia langsung menoleh ke arah ku setelah menghentikan mobil yang dia kemudikan.
"Kamu masih ingin bekerja? tapi itu ada di dalam surat perjanjian Nai, aku takut itu tidak akan mungkin!" sahut Riksa terdengar sangat cemas.
"Tapi Riksa, aku sangat nyaman bekerja di toko buku itu. Kamu tahu kan lulusan SMA seperti aku ini sangat sulit mencari pekerjaan, dan disana juga adalah tempat favorit ku. Aku bahkan bisa membaca banyak buku tanpa harus membelinya. Aku bisa bertemu dengan orang-orang yang ramah dan baik, dan teman-teman terbaik ku ada disana. Riksa seandainya aku mengatakan kepada bos mu tentang hal ini menurut mu bagaimana?" tanya ku memberi penjelasan atas apa yang aku inginkan. Juga meminta saran Riksa akan hal ini.
Ekspresi Riksa benar-benar berubah.
'Nai, kamu tidak mengenal bos. Dia tidak suka ada yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan nya!' batin Riksa cemas.
Aku malah makin penasaran karena Riksa malah terdiam dan tidak langsung menjawab apa yang aku tanyakan. Dia terlihat benar-benar serius berfikir. Seperti nya aku tahu apa yang akan dia katakan.
"Aku akan memberikan saran padamu. Untuk sekarang lakukan saja sesuai keinginan bos. Tapi percayalah, bos itu meskipun terlihat sangat keras dan tegas di luar, tapi dia adalah orang yang paling mudah tersentuh terhadap ketulusan seseorang. Nanti kalau kamu sudah menjadi istrinya, coba bujuk dia masalah ini. Jika dia di perlakukan dengan lembut, maka dia juga akan berlaku seperti itu. Tapi untuk sekarang, sebaiknya kamu tidak membantah nya Nai!" jelas Riksa panjang lebar.
Riksa kembali melakukan kendaraannya, dan aku membenarkannya lagi posisi duduk ku sedikit membelakangi nya.
Aku menundukkan kepalaku, rasanya aku sangat sedih. Aku harus berpisah dengan Mini dan juga Haris, yang bahkan setiap harinya 10 jam dalam seminggu aku selalu bersama mereka, makan bersama, kehujanan bersama, gajian bersama, setelah itu kami akan nonton film bersama, bahkan terkadang kami harus di marahi pelanggan bersama.
Tes tes
Tanpa terasa air mata menetes di atas punggung telapak tangan ku yang sedari tadi bertaut di atas pengakuan ku. Aku menyadari hal itu dan langsung menyekanya dengan cepat. Aku tidak mau Riksa tahu kalau aku menangis.
Beberapa menit kemudian, kami telah sampai di sebuah toko yang sama besarnya dengan butik milik Puspa. Hanya saja disini seperti tempatnya eksklusif. Riksa bahkan harus menunjukkan sebuah kartu saat akan melewati pos penjagaan, agar mobil yang kami tumpangi bisa masuk ke dalam area gedung.
__ADS_1
Seperti biasa, Riksa membukakan pintu mobil untuk ku. Dan aku turun mengikuti langkahnya masuk ke dalam.
Kami langsung di sambut oleh pelayan yang berseragam hampir mirip seperti seragam Mila. Hanya saja pelayan wanita ini tidak ada name tag nya. Kami di arahkan ke sebuah pintu, dan aku lihat ketika masuk ke gedung ini memang banyak pintu yang hany di tandai dengan simbol seperti mahkota yang di bedakan menurut warna. Dan kami masuk ke pintu yang di depannya tertera simbol mahkota berwarna merah.
"Selamat datang tuan dan Nyonya Virendra!" ucap pelayan lain, seorang pria dengan setelan jas lengkap tidak berambut alias botak dan memakai kaca mata dengan lensa bulat.
"Terimakasih, tapi dia nyonya Virendra. Saya sekertaris pribadi tuan Samuel Virendra!" jelas Riksa pada pelayan itu.
Pelayan itu terlihat canggung karena merasa bersalah, dia bahkan menghampiri ku dan minta maaf.
"Maaf nyonya, saya tidak tahu. Tolong maafkan saya!" ucap nya dengan cepat dan dengan raut wajah ketakutan.
Aku sampai mengernyitkan dahi ku, apa aku terlihat seram. Kenapa dia takut?
"Tidak apa-apa, sungguh!" jawab ku dengan serius agar dia tak lagi meminta maaf.
Dia tersenyum, dan di ruangan yang dingin ini dia malah berkeringat. Sampai dia harus mengeluarkan sapu tangan dan menyeka keringat nya.
'Sepertinya si lidah tajam itu memang orang yang menakutkan, pelayan ini saja ketakutan seperti ini hanya karena kesalahan kecil!' batin ku.
Kami di persilahkan duduk di sofa yang sangat empuk dan mewah. Di meja yang ada di hadapan kami bahkan ada jus dan kudapan ringan. Dan begitu banyak kotak perhiasan yang di dalamnya terdapat dua pasang cincin yang serupa.
"Pilihlah mana yang kamu suka Nai, nanti akan disesuaikan ukurannya dengan jarimu!" seru Riksa.
Aku menoleh ke arah Riksa sekilas, lalu kembali memperhatikan cincin-cincin yang berjajar rapi di depan ku ini lagi. Semuanya bagus, dan aku yakin semuanya mahal. Tapi tatapan ku kemudian tertuju pada satu kotak, dengan dua model paling sederhana di antara yang lainnya.
__ADS_1
***
Bersambung...