
Tapi belum sempat aku menjawab pertanyaan Riksa, Samuel sepertinya sudah menyadari kalau kami sudah berjalan mendekat.
"Riksa!" panggil Samuel.
Membuat Riksa menghela nafas berat, tapi sebelum dia berbalik ke arah Samuel, Riksa sempat mengatakan sesuatu padaku.
"Wanita itu bernama Nita, salah satu brand ambassador perusahaan, bos tidak pernah menyukai nya!" ucap Riksa pelan.
Dan aku hanya merespon apa yang dikatakan oleh Riksa itu dengan sebuah anggukan pelan. Kami menghampiri meja di mana ada Samuel dan wanita yang kata Riksa bernama Nita itu. Saat kami datang wajah Nita terlihat masam, terlihat jelas kalau dia sama sekali tidak mengharapkan kedatangan kami.
Riksa melihat ke arahku dan memberi isyarat agar aku duduk di sebelah Samuel, tapi ketika aku duduk di sebelah Samuel. Pria itu malah berdecak kesal.
"Ck... Riksa suruh wanita ceroboh ini duduk menjauh dariku!" seru Samuel dengan suara yang lumayan keras.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah, seperti nya sikap Samuel kembali berubah padaku. Dia bahkan kembali memanggil ku dengan wanita ceroboh, bukan memanggil namaku.
Riksa terlihat enggan melakukan apa yang diperintahkan oleh bos nya itu, tapi karena lu tidak mau sampai Samuel bertambah marah. Aku memilih untuk segera berdiri dan berjalan memutar, lalu duduk di sebelah Riksa dan di sebelah wanita yang bernama Nita itu, karena kursi di meja ini hanya ada empat buah kursi.
Riksa kembali memasang wajah tidak enak, dia menghela nafasnya lagi dan meraih buku menu di depannya dan memberikan padaku.
"Kamu mau makan apa Nai?" tanya Riksa.
Tapi belum sempat aku meraih buku menu yang ada di tangan Riksa, Samuel kembali bersuara dengan nada tingginya.
"Memangnya siapa yang meminta dia kesini untuk mengajaknya makan?" seru Samuel.
Aku dan Riksa sama-sama terkesiap, kami terkejut. Lalu untuk apa Samuel mengajak kami ke restoran kalau tidak untuk makan siang. Nita terlihat sangat senang melihat Samuel marah pada kami, wanita itu tersenyum penuh misteri.
Ketika Samuel masih mengarahkan tatapan tajam nya padaku, wanita itu malah memeluk lengan Samuel dan menggelayut manja padanya.
"Sam, aku haus. Bolehkah aku menyuruh wanita itu untuk memesankan aku minuman?" tanya wanita itu dengan berbisik di telinga Samuel tapi suara cukup terdengar juga di telinga ku.
"Maaf nona Nita, tapi wanita ini...!"
__ADS_1
Baru saja Riksa akan mengatakan siapa aku, tapi Samuel menyelanya dengan cepat.
"Tentu saja, kamu boleh menyuruhnya melakukan apapun yang kamu mau, dia ini sekertaris baru ku, dia memang harus banyak belajar untuk menambah pengalaman nya!" ucap Samuel dengan ekspresi wajah dingin ketika melihat ku.
Aku hanya bisa menundukkan kepala ku, rasanya aku malah jadi merinding kalau melihat tatapan Samuel itu.
"Terimakasih Sam!" ucap wanita itu.
Cup
Terdengar suara kecupan, dan itu membuat ku mengangkat kepala ku. Aku hanya bisa menghela nafas ketika melihat Nita mengecup mesra pipi Samuel.
"Bos, tapi Naira...!" Riksa mencoba untuk membela ku.
"Kenapa masih disini, kamu tidak dengar. Aku haus mau minum! cepat ambilkan sana!" sela Nita terlihat sangat sombong karena Samuel terkesan membelanya.
"Aku yang akan ambil!" sahut Riksa dan dengan cepat dia berdiri.
Aku langsung berdiri dan tanpa bicara, aku berjalan menuju ke meja bar yang ada di restoran itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi hingga Samuel bersikap seperti itu lagi padaku, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku memesan satu gelas jus jeruk. Dan aku segera membawakannya setelah pesanan itu siap. Aku meletakkan jus jeruk itu di atas meja di depan perempuan yang bernama Nita itu.
"Ini minumannya!" ucap ku sopan.
Nita yang masih bergelayut manja di lengan Samuel, meraih gelas yang berisi jus jeruk di hadapannya. Dia mulai meminumnya, aku bahkan belum duduk di kursiku ketika dia menyemburkan minuman yang ada di mulutnya.
"Uh, ini apaan sih asam sekali!" protes Nita.
"Itu jus jeruk!" jawab ku singkat padat dan jelas.
"Apa kamu pikir aku buta aku juga tahu kalau itu jus jeruk tapi rasanya sangat asam, kamu harus mengganti minuman ini, pesankan lagi yang lain jus jeruk dengan rasa yang manis, mengerti!" perintah nya lagi padaku.
Nita ini bahkan lebih parah dari Samuel ketika memerintahkan seseorang. Tapi aku tidak akan menyerah semudah ini, aku mengambil kembali gelas jus jeruk yang ada di atas meja lalu berjalan kembali ke meja bar yang ada di restoran.
__ADS_1
"Permisi, minta satu lagi jus jeruknya tapi yang manis ya!" ucapku sopan kepada salah seorang pelayan yang melayani di meja bar.
"Baik nyonya, tunggu sebentar!" ucap pelayan itu juga tak kalah sopan dari ucapanku barusan.
Sambil menunggu pesanan ku siap aku melihat ke arah Riksa yang juga sedang memandang ke arahku. Aku melihat dia sepertinya khawatir dan merasa sangat tidak enak hati. Tapi aku kembali memberikan senyum kepadanya, meyakinkan padanya bahwa temannya ini baik-baik saja.
"Ini nyonya pesanan jus jeruk manis anda!" ucap salah seorang pelayan dengan senyum ramahnya dan meletakkan segelas jus jeruk di atas meja bar.
Aku kembali meraih gelas itu dan membawanya berjalan mendekati ke arah dimana Samuel dan perempuan itu berada. Lagi-lagi aku meletakkan gelas berisi jus jeruk manis itu dengan perlahan di atas meja.
"Ini minumannya!" ucap ku lagi sama seperti pertama kali saat aku meletakkan gelas itu di atas meja juga.
Nita melirik tajam kearah ku.
"Awas ya kalau sampai minuman ini sama tidak enaknya dengan yang tadi aku akan meminta Samuel memotong gajimu!" ancam Nita padaku.
Aku hanya diam melihat dia kembali meraih gelas itu, dan ketika dia meminumnya dia malah membanting gelas itu di depan ku, membuat sepatu dan kaki ku basah, ujung rok yang aku pakai juga sedikit terkena cipratan jus jeruk itu.
"Kamu ini mau membuatku diabetes ya, kenapa memberiku minuman yang begitu manis. Kamu iri dengan penampilanku hah, membuatku gemuk hah?" tanya Nita sambil marah-marah.
Dia bahkan berdiri dan berkacak pinggang di hadapan ku, meskipun sepi tapi restoran ini juga masih ada pengunjung selain kami, jadi karena keributan yang dibuat oleh Nita, membuat pengunjung lain memperhatikan kami.
"Cukup nona Nita, anda tidak tahu siapa sebenarnya yang anda sedang marahi ini, dia ini...!"
Riksa mencoba untuk kembali menjelaskan kepada kita bahwa dia tidak seharusnya marah-marah seperti itu padaku. Tapi Samuel kembali menyela Riksa.
"Kamu pergi saja Riksa!" perintah Samuel yang kembali menyela ucapan Riksa dengan nada tinggi.
Riksa menoleh ke arah ku dan aku mengangguk cepat, aku tahu sebenarnya Riksa sangat cemas. Tapi aku yakin meskipun Samuel sedang marah padaku, dia juga tidak akan mencelakai ku.
***
Bersambung...
__ADS_1