Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
154


__ADS_3

Aku masih tercengang ketika Riksa mengatakan kalau aku sekarang cara bicaranya sudah hampir mirip dengan Samuel.


'Benarkah?' tanya ku dalam hati.


Aku kembali mengambil roti yang bertabur gula dan biji wijen dari atas piring dan makan sambil menerima panggilan telepon dari Riksa.


"Aku dengar ada masalah di sana, apa semua baik-baik saja Nai?" tanya Riksa.


Aku tahu, pasti Riksa dapat laporan dari anak buah Samuel tentang kejadian di pesta om Thomas malam itu.


"Semua baik-baik saja!" jawab ku singkat sambil mengunyah roti ku.


"Tapi aku bersyukur dengan demikian pasti Samuel akan mengetahui wajah asli dari Caren!" ucap Riksa seperti nya benar-benar tidak suka pada Caren.


Tapi belum aku menjawab pertanyaan Riksa, ponsel yang ada di tangan kiri ku di ambil oleh Samuel. Aku terkejut, masalahnya aku tidak mendengar dia membuka pintu kamar mandi.


Aku diam, takut kalau dia marah karena aku sudah mengangkat telepon untuknya. Tapi diluar dugaan dia malah menarik tangan ku dan mendudukkan aku di pangkuannya.


"Lanjutkan saja makan mu!" ucap nya padaku.


Aku sampai mengerutkan kening mendengar apa yang Samuel katakan.


'Tapi baguslah, dia tidak marah!' gumam ku dalam hati.


"Hei, apa saja yang sudah kamu tanyakan pada nyonya bos mu?" tanya Samuel dengan nada tegas pada Riksa.


Samuel tidak mematikan speaker ponsel nya jadi aku masih bisa mendengar apa yang Riksa katakan.


"Maaf bos, aku hanya menanyakan kabarnya dan juga kabar bos!" jawab Riksa jujur.


"Lalu kenapa kamu menelpon, aku kan sudah bilang jangan mengganggu bulan madu ku kalau tidak ada yang penting, kamu tahu tidak aku sedang berusaha untuk secepatnya memberi mu keponakan!" ucap Samuel terus terang.


Blush


Wajah ku langsung terasa menghangat, aku yakin saat ini wajah ku sudah seperti kepiting rebus. Aku ingin beranjak dari pangkuan Samuel tapi dia menahannya.


"Maaf bos, kalau begitu aku tidak akan menganggu!" ucap Riksa.

__ADS_1


"Aku berharap apa yang kamu katakan cepat terjadi bos, semoga sukses!" ucap Riksa sebelum mengakhiri percakapan nya melalui telepon dengan Samuel.


Samuel meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Dan memegang pergelangan tangan ku dengan lembut lalu mengarahkan roti yang ada di tangan ku ke dalam mulutnya.


"Mas, itu sudah ku gigit!" ucap ku dengan melebarkan mataku.


"Yang sudah kamu gigit rasanya lebih manis!" ucap Samuel.


Aku terkekeh dalam hati, sejak kapan pria galak dengan wajah tampan tapi garang ini mulutnya berubah menjadi manis seperti madu.


"Apa saja yang Riksa katakan?" tanya nya sambil menghabiskan roti yang ada di tang ku.


Aku berpikir sebentar, aku tidak mau sampai salah bicara. Karena seingat ku Riksa tadi tidak membahas masalah kecelakaan itu, maka aku juga tidak akan membahasnya.


"Dia tanya apa aku baik-baik saja bersama mu...!"


Belum selesai aku


"Apa-apaan dia, kenapa bertanya seperti itu. Kamu sedang bersama dengan suami yang sangat mencintai kamu, siapa yang akan melukai mu?" tanya nya lalu mengambil ponsel dari atas meja lagi.


"Aku mau memarahi Riksa, seenaknya saja dia bicara begitu!" ucap Samuel dan mulai menggeser layar nya.


"Eh, mas ngapain sih. Udah biarin aja!" ucap ku sambil meraih ponsel Samuel dan meletakkan nya kembali ke atas meja.


"Mas makan aja dulu, kan mas juga belum sarapan!" ucapku sambil terus menyuapi Samuel dengan berbagai makanan yang ada di atas meja.


"Kapan kita pulang mas?" tanya ku di sela menyuapi Samuel.


Samuel langsung mengatupkan mulutnya ketika aku bertanya seperti itu. Aku pun segera menjauhkan tangan ku dari mulutnya, sepertinya aku sudah salah bertanya.


"Memang kenapa kalau disini bersama ku?" tanya nya dengan tatapan tajam dan nada suara yang langsung membuat buku kuduk ku berdiri seketika.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah, seperti nya aku memang salah bicara. Aku langsung memikirkan alasan yang masuk akan agar Samuel tidak marah.


"Em, bukan... bukan begitu mas. Kemarin saat jalan-jalan sama mas itu, aku lihat ada yang jual pie susu. Kelihatannya sangat enak, maksud ku adalah aku mau beli itu untuk oleh-oleh orang-orang yang ada di rumah. Kan harus di pesan dulu, jadi...!"


"Bilang dari tadi, aku kira kamu bosan berdua disini dengan ku!" ucapnya terdengar seperti aku boleh bosan saja.

__ADS_1


Selesai makan, Samuel menyuruh ku untuk mandi karena dia akan mengajakku ke suatu tempat katanya. Aku pun segera mandi dan bersiap.


Tapi baru saat akan keluar dari pintu kamar hotel, kami berdua sama-sama terkejut melihat Caren ada di depan pintu dengan koper di tangannya.


'Drama apalagi sih yang mau dimainkan perempuan ini?' tanya ku dalam hati.


"Sam, apa aku boleh masuk?" tanya nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Samuel menoleh ke arah ku sebelum mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam kamar kami.


Aku hanya mengangguk perlahan, aku tidak tahu apa rencana wanita ini tapi jujur saja aku punya perasaan yang tidak enak.


Wanita itu sudah duduk di kursi sebelum kami memintanya untuk duduk, dia juga membawa kopernya masuk.


Setelah duduk Caren menangis dan menutup wajahnya.


"Sam, maafkan aku. Aku sungguh menyesali semuanya, aku sungguh bersalah padamu dan sekarang aku sudah dapatkan balasan atas pengkhianatan yang aku lakukan. Maafkan aku Sam!" ucap Caren tanpa jeda bahkan dia sudah terisak dan sesekali menutupi wajahnya yang penuh dengan air matanya.


Aku berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambilkan nya air minum. Aku tidak bicara sepatah kata pun, aku hanya meletakkan gelas itu di atas meja persis di depannya.


Samuel terlihat gusar, itu dapat aku ketahui karena sejak tadi dia terus mengusal rambutnya dengan kasar. Itu tandanya dia sedang gusar.


Aku menghela nafas, mau bagaimana pun juga dua orang di hadapan ku ini pernah saling mencintai dan pernah menjalin hubungan lebih dari tiga tahun, bukan waktu yang singkat untuk tidak saling perduli meskipun hubungan mereka sudah berakhir.


"Kenzo mengusir ku dan memutuskan hubungan dengan ku, aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Keluarga ku marah padaku, dan mereka juga tidak mau lagi menerima ku. Aku tidak tahu lagi harus pergi kemana Sam..hiks hiks!" keluh nya sambil terus terisak.


Aku terkejut mendengar apa yang dia katakan, Kenzo mengusirnya dan memutuskan pertunangan dengannya. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang aku dengar.


"Jika kamu tak keberatan, boleh kah aku tinggal sementara di rumah besar yang kamu hadiah kan untukku di ibukota, aku masih simpan sertifikat nya. Apa boleh Sam?" tanya nya dengan wajah memelas pada Samuel.


Samuel juga langsung tertegun, dan memandang Caren dengan raut wajah yang kasihan.


'Rumah besar? apa itu rumah yang aku tempati dengan Sam sekarang? sertifikat nya ada padanya?' tanya ku dalam hati.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2