
Naira sungguh terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Arini. Stella langsung memeluk menantunya itu, bahkan Stella sudah beruraian dengan air mata yang membasahi pipinya dan terus memeluk menantunya yang masih belum bisa berkata-kata itu.
Stella begitu bersyukur dalam hatinya, karena ternyata Naira benar-benar hamil. Dan dirinya sebenarnya tidak berbohong pada sang ayah mertua. Dia yang berpikir kalau harus berbohong untuk pertama kali pada sang ayah mertua ternyata tidak melakukan itu. Saat dia mengatakan pada ayah mertuanya, itu artinya Naira saat itu juga memang benar-benar sudah hamil. Stella sungguh tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya dia saat ini.
"Selamat sayang, kamu tidak tahu betapa bahagianya ibu mendengar berita baik ini. Arini terima kasih banyak, ini sungguh... aku tidak tahu lagi, tapi ini benar-benar membuatku sangat bahagia!" ucap Stella yang begitu bahagia sampai dirinya sulit merangkai kata untuk menunjukkan betapa bahagia dirinya saat ini.
Naira juga meneteskan air matanya, dia tersenyum. Ternyata dia hamil. Dia juga memeluk Stella dengan sangat erat. Naira juga merasa sangat bahagia, mungkin akan berbeda jika Samuel belum menyatakan perasaannya dan juga belum membatalkan kontrak itu. Mungkin Naira masih akan dilema seperti dulu.
Tapi karena Samuel sudah mengatakan kalau dia benar-benar mencintai Naira. Maka Naira merasa sungguh bahagia.
Dokter Arini yang melihat pemandangan yang sangat mengharukan di depannya itu pun ikut meneteskan air mata dari sudut matanya yang langsung dia seka dengan jari telunjuk nya.
"Selamat Naira, selamat Stella! hasil pemeriksaan menunjukkan kalau usia kehamilan Naira sudah masuk enam Minggu, trimester pertama sangat rentan. Meski kondisi tubuh Naira juga sangat kuat tapi biasanya pada trimester ini calon ibu akan mengalami mual dan semacamnya, sebaiknya menghindari sesuatu yang berbau menyengat dan menghindari makanan yang beraroma menyengat, hindari juga minuman bersoda dan segala macam yang sifatnya asam. Oke Naira!" jelas dokter Arini panjang lebar.
Naira yang sejak tadi juga fokus mendengarkan segera menganggukkan kepalanya pada dokter Arini.
"Tenang saja Arini, ada aku kan. Aku akan pastikan semua yang terbaik untuk menantu dan calon cucu ku!" ucap Stella dengan mantap.
Stella yang sudah tidak sabar untuk memberi kabar ini pada anak dan juga cucunya segera berdiri dan mengajak Naira untuk keluar dari dalam ruangan Arini.
"Arini, kamu tulis saja apa yang boleh dan tidak boleh Naira makan dan lakukan. Aku sudah tidak sabar memberikan kabar ini pada ayah dan juga Samuel, ayo Naira!" ajak Stella.
Naira menyeka air matanya dengan cepat lalu menganggukkan kepalanya pada dokter Arini. Setelah itu di bergegas keluar dari dalam ruangan dokter Arini bersama dengan Stella, ibu mertuanya.
Ketika mereka keluar dari dalam ruangan, Samuel dan kakek Virendra yang melihat mereka langsung berdiri dari posisi duduk mereka.
Stella langsung menghampiri ayah mertuanya, dan Samuel langsung bergegas mendekati Naira.
"Sayang, bagaimana hasil pemeriksaan nya?" tanya Samuel dengan suara pelan.
Naira tidak bisa langsung bicara, dia malah ingin menangis saat melihat wajah Samuel. Dia lalu memeluk Samuel, suaminya.
Samuel malah cemas melihat reaksi Naira akan pertanyaan nya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa? semua baik-baik saja kan?" tanya Samuel panik sambil terus mengusap punggung Naira dengan lembut.
"Ada apa Stella?" tanya Kakek Virendra yang ikut mengkhawatirkan Naira.
"Ayah, tidak apa-apa, semuanya baik. Naira hanya sangat senang. Karena kehamilan nya baik-baik saja dan sudah memasuki usia enam minggu!" ucap Stella dengan mata yang berkaca-kaca.
Kakek Samuel menghela nafas lega lalu tersenyum.
"Syukurlah, aku sudah tidak sabar melihat seperti apa cicit pertama ku nanti!" ucap kakek Virendra membuat Samuel kebingungan.
Melihat Samuel yang kebingungan, Stella merasa harus membiarkan mereka bicara berdua. Karena itu dia berpikir untuk mengajak ayah mertuanya meninggalkan mereka berdua.
"Ayah, mari kita sekalian periksa kondisi kesehatan ayah. Naira sudah baik-baik saja kan?" tanya Stella pada ayah mertuanya.
"Oh baiklah, aku juga ingin lebih sehat lagi. Agar masih bisa menggendong anak Samuel nanti!" jawab kakek Virendra penuh semangat.
Samuel dan Naira yang melihat sang kakek bersikap seperti itu hanya bisa tersenyum. Kakek Virendra bahkan mengangkat tangan kanannya dan bersikap seperti seorang atlet yang menunjukkan otot lengannya. Stella bahkan sampai menangis bahagia karena melihat ayah mertuanya bertingkah seperti itu.
'Mas Damar juga harus tahu tentang kabar ini. Aku akan segera memberitahunya!' batin Stella sambil menyeka air matanya.
Sementara itu Samuel mengajak Naira untuk duduk di sofa yang tadinya dia duduki bersama dengan kakek Virendra.
"Sayang apa hasilnya buruk?" tanya Samuel yang masih merasa cemas.
Dia bahkan masih menganggap apa yang di katakan oleh ibunya tadi adalah masih bagian dari sandiwara mereka. Jadi dia belum menyadari kalau air mata Naira itu adalah air mata bahagia karena dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Sayang!" panggil Samuel sambil membelai lembut pipi Naira.
"Mas, aku hamil. Aku benar-benar hamil!" ucap Naira dengan suara gemetar dan kembali memeluk Samuel.
Deg
Samuel terkejut, jantungnya berdetak sangat kencang. Dia dapat merasakan itu. Ada perasaan haru yang membuat nya ingin menangis juga.
__ADS_1
"Jadi Ayng ibu katakan tadi...?"
Naira menarik dirinya dari Samuel dan mengangguk kan kepalanya perlahan di hadapan suaminya itu.
"Iya mas, yang ibu katakan tadi benar. Calon anak kita sudah masuk usia enam Minggu!" jawab Naira sambil menyeka air matanya.
Tes tes
Tanpa terasa dari sudut mata Samuel benar-benar sudah jatuhlah air mata kebahagiaan nya.
"Calon anak kita!" ucap Samuel lembut.
"Naira, calon anak kita?" ucap Samuel lagi dan langsung memeluk Naira dan sesekali mengecup puncak kepala istrinya itu.
"Terimakasih sayang, ini adalah kabar paling indah yang pernah aku dengar seumur hidup ku. Aku akan menjadi seorang ayah, sebentar lagi akan ada bayi kecil yang memanggilku ayah. Terimakasih Naira!"
Samuel benar-benar bahagia, dia tak berhenti mengucapkan terimakasih pada istrinya dan juga mengecup puncak kepala istrinya itu.
Apa yang dia katakan, semuanya adalah dari dasar hatinya. Dia jujur saat dia mengatakan bahwa ini adalah kabar terbaik yang pernah dia dengar seumur hidupnya.
Dia juga merasa tenang, karena ternyata dia tidak perlu berbohong pada sang kakek. Istrinya benar-benar hamil, dan dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Aku sangat bahagia sayang!" ucap Samuel yang sesekali menyeka air matanya dan juga air mata istri nya.
Tapi tiba-tiba saja Naira merasa perutnya mulai merasa mual karena terlalu lama berada dalam pelukan Samuel, membuatnya bisa mencium aroma tubuh Samuel.
"Huek... mas menjauh lah!" ucap Naira menjauh dari suami nya.
"Sayang, ada apa?" tanya Samuel bingung. Dia bahkan menciumi aroma tubuhnya sendiri. Dan dia merasa kalau tidak ada yang salah dengan aroma tubuhnya.
'Masih wangi, kenapa dengan Naira?' tanya Samuel dalam hatinya yang merasa bingung.
***
__ADS_1
Bersambung...