
Riksa di bawa oleh para warga yang tinggal di sekitar kosan milik Wika ke tempat salah satu rumah yang paling besar sepertinya itu adalah rumah pemilik kos-kosan tersebut. Ternyata di depan rumah tersebut juga ada papan besar yang dipajang di depan dinding rumah tersebut bertuliskan ketua RT.
Mereka semua tidak ada yang percaya pada ucapan Riksa, tapi Riksa juga tidak ingin membuang-buang tenaga dan suaranya untuk meyakinkan orang-orang yang sedang gelap mata dan sedang emosi karena terpengaruh oleh ucapan dan keadaan Wika ketika keluar dari dalam rumah kosan tersebut.
Wika juga berakting dengan penuh totalitas, sejak 5 menit yang lalu ketika semua warga menghampirinya karena dia berteriak-teriak dan meminta pertolongan warga sampai sekarang pun dia masih terus menangis terisak-isak berusaha mengambil perhatian dan berusaha untuk dikasihani oleh para warga yang ada di tempat tersebut.
Beberapa ibu-ibu bahkan terus mengomel dan memaki Riksa, beberapa orang lagi berusaha menenangkan Wika dengan cara memberinya air minum, ada yang mengusap punggungnya dengan lembut dan mengatakan kata-kata.
"Sabar nak, biar pak RT yang memberi mu keadilan!" ucap seorang wanita paruh baya yang memakai sarung dan juga baju yang kedodoran.
Seorang ibu muda yang terlihat tidak percaya melihat wajah Riksa yang kelihatan sangat pendiam dan baik hati tapi tega melakukan perbuatan sekeji itu kepada seorang wanita.
"Ih, gak nyongko yo, ganteng-ganteng kok iso koyok ngono!" ucap ibu muda tersebut pada salah seorang tetangga lain yang juga menggelengkan kepalanya tak percaya.
Pak RT yang datang pun meminta Wika menceritakan awal mula kejadian yang sebenarnya sampai pemuda itu bisa berani-berani melakukan tindakan keji kepadanya.
"Neng Wika, mangga di ceritakan dulu awal mula kejadiannya bagaimana?" tanya pak RT yang ingin tahu pokok permasalahan yang sebenarnya sebelum dia mencari solusi yang tepat untuk semua masalah ini.
Wika pun boleh bercerita sambil terisak, tentu saja semua yang di ceritakan nya adalah kebohongan. Dia bilang kalau Riksa memang sengaja datang karena dia memang tidak masuk kerja. Riksa adalah atasannya dan sudah lama Riksa menaruh hati padanya.
"Jadi kalian saling suka?" tanya Bu RT yang penasaran.
Riksa langsung mendengus kesal, dia tidak menyangka kalau selama beberapa tahun ini dia sudah bersikap baik kepada seorang wanita yang bahkan sama sekali tidak bisa menghargai dirinya sendiri. Riksa benar-benar tidak habis pikir, kecantikan dan kepintaran yang Wika miliki dipergunakan untuk sesuatu yang salah.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyukai mu!" akhirnya kata itu keluar dari mulut Riksa karena sudah terlalu kesal dengan ucapan sandiwara, ucapan bohong dari mulut Wika yang dia utarakan di depan semua orang.
Setelah Riksa mengatakan hal itu, sorakan ramai pun terdengar. Beberapa orang bahkan nyaris memukul Riksa karena kesal pada ucapannya. Mereka semua mengira kalau Riksa adalah pria yang tidak bertanggung jawab, pria yang setelah melecehkan seorang wanita Dia malah mengatakan kalau sama sekali tidak menyukai wanita tersebut.
Di tambah lagi Wika yang benar benar seperti artis sinetron terkenal dia menangis terisak-isak sekolah benar-benar tersakiti hati dan juga raganya. Para ibu-ibu makin geram pada Riksa sampai ada yang melemparkan sendalnya ke arah Riksa.
"Tenang... tenang... bapak-bapak, ibu-ibu saya harap tenang. Jangan main hakim sendiri!" ujar pak RT dengan suara lantang.
Tapi para warga seakan sudah tidak bisa tenang lagi setelah mendengar pernyataan Riksa tadi.
"Gimana bisa tenang pak RT, Wika ini warga kita loh. Di perlakukan seperti itu masak kita tenang aja pak RT!" teriak salah seorang bapak tua yang hanya memakai kaos oblong tanpa lengan berwarna hitam.
"Iya pak RT, orang ini bukan manusia pak RT. Dia bilang gak suka, kok melecehkan!" sambung seorang pria berambut gondrong yang tidak di ikat sehingga terlihat sangat berantakan.
"Sebentar bapak-bapak, ibu-ibu. Saya paham kalian semua emosi, tapi di negara kita ini menganut asas praduga tidak bersalah, jadi sebelum kita mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak kita tidak boleh langsung menghukum salah satu pihak. Harap tenang dulu, kita dengarkan dulu penjelasan mereka!" seru pak RT.
Pak RT sempat mengusap wajahnya kasar.
"Baik, baik sebentar. Siapa nama kamu?" tanya pak RT pada Riksa.
Riksa yang kondisinya saat ini sangat berantakan, rambutnya acak-acakan, jas yang dia pakai juga sudah tidak tahu pergi ke mana karena para warga tadi menarik-narik dia dengan kasar bahkan beberapa kancing kemejanya pun terlepas karena tarikan warga yang kesal padanya. Dan saat ini penampilan Riksa benar-benar sudah sangat kacau. Dia juga sempat menerima beberapa pukulan warga, hingga Riksa terus memegang punggung nya yang terasa sakit. Wajahnya juga kotor, karena beberapa warga sempat melemparnya dengan sandal, sepatu bahkan lap yang kotor.
"Nama saya Riksa, saya memang atasan Wika. Tapi tujuan saya kemari hanya untuk mengambil dokumen!" jawab Riksa.
__ADS_1
Warga kembali bersorak mendengar apa yang Riksa katakan. Mereka tidak percaya dan masih berusaha untuk mendekati Riksa yang di jaga oleh dua orang hansip kampung.
"Sabar dulu bapak-bapak, ibu-ibu. Kalau begini terus masalahnya tidak akan selesai!" kata pak RT.
"Sudah pak RT lapor polisi saja!" teriak salah satu warga.
"Silahkan!" tantang Riksa. Dia juga merasa kalau cara seperti ini tidak akan efektif untuk membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.
Karena kebanyakan orang yang selalu percaya dengan apa yang mereka lihat pada saat kejadian. Mereka tidak akan mau tahu alasan kenapa kejadian tersebut bisa terjadi ataupun alasan kenapa seseorang melakukan perbuatan seperti itu pada saat kejadian. Mata mereka selalu lebih mereka percayai daripada apa yang mereka dengar dan apa yang seharusnya mereka pikirkan lebih dahulu sebelum membuat keputusan.
"Wah, nantangin ini orang!" seru salah seorang pria yang berambut gondrong tadi.
"Udah pak RT, bawa aja kantor polisi. Biar kapok dia, belom tahu aja kalau kasus beginian nih, hukumannya bukan cuma di kurung, tapi bakal di balsemin tuh burung!" ujar pria gondrong itu.
Para ibu-ibu langsung melotot ketika mendengar apa yang pemuda itu katakan.
"Nah, iya pak RT biarin aja di balsemin. Biar tahu rasa!" sahut pria berjenggot.
Riksa hanya menghela nafas kasar. Sementara Wika terlihat sangat gelisah. Mana mungkin dia membiarkan masalah ini sampai ke kantor polisi.
'Aduh, bukan begini rencananya. Kenapa malah jadi begini sih!' batin Wika yang ketakutan.
Karena kalau sampai ke kantor polisi, pihak kepolisian pasti juga akan meminta bukti visum, dan memang tidak terjadi apa-apa pada Wika. Hingga sekarang dia malah yang merasa takut kalau masalah ini sampai di selesaikan lewat jalur hukum.
__ADS_1
***
Bersambung...