Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
152


__ADS_3

Aku baru keluar dari kamar mandi dan masih memakai jubah mandi ketika aku dengar Samuel memekik dari arah ruang tamu kamar hotel. Aku pun bergegas pergi ke sana untuk melihat apa yang terjadi.


Aku kira dia sedang bertengkar dengan seseorang, atau ada seseorang yang membuat nya marah. Tapi setelah melihat dia hanya berbicara di telepon, aku berbalik dan akan mengambil pakaian dari dalam lemari.


Tapi belum sempat aku berjalan meninggalkan Samuel, dia menarik tangan ku lalu menyalakan speaker di ponselnya.


Aku terkejut, tapi aku diam ketika dia mengatakan.


"Ayah, apa tadi ayah bilang?" tanya nya pada seseorang di ujung telepon.


Dia mengatakan ayah, artinya itu pasti ayah mertua ku, kalau Samuel menahan tanganku dan menghidupkan speaker ponselnya berarti dia ingin aku juga mendengar apa yang ayah katakan padanya tadi, jadi aku diam dan menyimak.


"Sam, ayah tidak sedang bercanda. Kakek mu langsung sadar ketika ibumu bilang kalau istrimu hamil!" jawab ayah Damar.


Aku langsung menutup mulutku yang terlanjur menganga mendengar apa yang ayah katakan di telepon. Aku langsung memandang ke arah Samuel begitu pun dia.


"Tapi ayah, kami baru menikah hampir dua bulan. Meski aku dan Naira setiap hari melakukan nya..!"


Plakk


Tangan ku refleks memukul lengan Samuel ketika dia mengatakan itu pada ayah Damar. Meskipun itu benar, tapi dia tidak harus mengatakannya pada ayah mertua juga kan.


Samuel meringis dan mengusap lengannya, lalu melotot ke arah ku. Aku langsung menyadari apa yang telah aku lakukan dan memilih untuk menundukkan kepala ku karena merasa bersalah.


"Samuel, apa Naira ada di situ?" tanya ayah Damar.


Aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat ke arah Samuel lagi.


"Ada ayah, sayang bicara pada ayah!" ucap Samuel begitu manis.


Aku sampai mengerutkan keningku setelah mendengar kalimat manisnya tanpa pemanis buatan itu.

__ADS_1


"Iya ayah, ini Naira!" jawab ku sopan.


"Naira, apakah kamu mendengar apa yang ayah katakan tadi?" tanya ayah Damar.


Aku sedikit bingung ketika akan menjawab, masalahnya Samuel hanya menyalakan speaker di kalimat ibu Stella mengatakan pada kakek kalau aku sedang hamil. Tapi aku rasa pasti tentang hal itu kan, jadi aku mengangguk.


"Sayang, kenapa malah mengangguk, ayah sedang bicara di telepon bukan bicara dengan mu langsung. Mana ayah tahu kamu sedang mengangguk!" protes Samuel.


Dan aku tersenyum canggung di depan Samuel setelah dia mengatakan hal itu. Dia benar sekali. Kenapa aku malah mengangguk dan bukannya bicara.


"Ha ha ha, benar kah? Naira kamu lucu sekali nak. Kakek pasti akan sangat senang bertemu dengan mu!" ucap ayah Damar.


"Ma.. maaf ayah! iya aku dengar ayah!" ucap ku meminta maaf dan meralat jawaban ku tadi.


Tadi itu aku gugup sekali hingga bersikap seperti itu.


"Begini nak, Ayah tahu ini sebenarnya tidak baik. Tapi kakek Virendra benar-benar bersemangat ketika mengetahui sebentar lagi dia akan memiliki cicit...!" ayah Damar menjeda kalimat nya.


"Ayah, cepat katakan jangan membuat ku penasaran!" ucap Samuel tak sabar pada ayahnya.


Sebenarnya aku merasa kalau Samuel sedikit kurang sopan karena bicara pada ayahnya seperti itu, dan ingin sekali mencubit lengannya, tapi semua itu aku urungkan karena aku juga penasaran dengan apa yang ingin disampaikan sebenarnya oleh ayah Damar.


"Naira, Samuel, bukan ayah ingin mengajarkan hal yang tidak baik pada kalian. Tapi ayah sudah bicarakan semua ini pada ibu dan tim dokter yang menangani kakek kalian!" ucap ayah lagi.


Tapi dari apa yang barusan ayah katakan, aku belum menangkap maksud ayah. Aku diam dan berpikir, mungkinkah aku yang terlalu bodoh dan tak mengerti. Tapi sepertinya tidak, Samuel bahkan mengusal rambutnya kesal.


"Ayah, ayolah langsung saja pada intinya. Sebenarnya apa yang ingin ayah katakan?" tanya Samuel lagi.


Dan aku bisa mengambil kesimpulan kalau Samuel juga tidak paham dan semakin penasaran. Terlihat dari sikapnya yang tak sabaran.


"Tunggu dulu Sam, ayah tidak ingin kalian berpikiran ayah ini punya ide aneh dan mengajak kalian untuk bergabung, sebenarnya ini ide ibu mu. Tapi menurut ayah tidak buruk juga, toh kalian memang sudah menikah, cepat lambat kalian juga pasti akan memiliki Samuel junior atau Naira junior kan?" tanya ayah Damar yang masih berteka-teki dengan kami.

__ADS_1


"Jadi..?" tanya Samuel yang sudah sangat tidak sabar.


"Kalian mau kan mendukung apa yang ibu kalian katakan pada kakek kalian?" tanya ayah Damar.


Mata Samuel melotot ketika mendengar pernyataan itu. Aku sih belum paham maksud ayah.


'Apa yang harus aku dukung?' tanya ku dalam hati.


"Jadi ayah dan ibu ingin kalau Naira berpura-pura bahwa dirinya sudah hamil, begitu?" tanya Samuel dengan nada yang makin lama makin meninggi.


Aku juga melebarkan mataku lagi, baru aku tahu maksud ayah Damar dan ibu Stella setelah Samuel mengatakan hal yang barusan itu. Aku menelan saliva ku dengan susah payah, aku lalu memegang perut ku.


'Perut rata begini, darimana bisa pura-pura hamil?' tanya ku dalam hati.


Samuel memperhatikan apa yang aku lakukan, membuat ku langsung menunduk dan menarik tangan ku ke arah lain.


"Samuel, kakek Virendra sangat bersemangat ketika mendengar itu, artinya harapannya kembali bangkit, kalian tidak usah khawatir. Semua sudah di atur oleh Anita, dia akan membuat laporan kehamilan Naira dan akan menghandle segalanya tentang keperluan medis Naira. Saat kondisi kakek mu sudah membaik dan bisa kembali ke Indonesia, ayah akan jelaskan pelan-pelan pada kakek mu! Samuel, kamu tahukan berapa ayah sangat berharap kesadaran kakek mu?" tanya ayah Damar pada Samuel setelah memberi penjelasan panjang lebar pada Samuel, lebih tepatnya pada kami berdua.


Aku dan Samuel kembali saling pandang. Samuel terlihat mengangkat dagunya seperti menanyakan apa pendapat ku. Aku sangat sedih mendengar kalimat terakhir ayah, mungkin kalau aku ada di posisi nya aku juga akan melakukan hal yang sama. Demi ayah ku, demi ibu dan demi keluarga ku aku pasti akan berusaha yang terbaik.


Aku mengangguk kan kepalaku melihat ke arah Samuel, membuat pria itu menghela nafas panjang.


"Baik ayah, kami akan mengikuti apa yang yang ayah dan ibu inginkan!" jawab Samuel yakin.


Terdengar helaan nafas lega di ujung telepon karena speaker ponsel Samuel masih menyala.


"Terima kasih kalian mau mengerti. Sam, berusahalah!" ucap ayah Damar sebelum memutuskan panggilan telepon.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2