Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
221


__ADS_3

Para penjahat yang mengacau di toko buku ko Acong tadi sudah di masukkan ke dalam tahanan. Setelah memberikan keterangan dan kesaksian pada petugas. Ko Acong, Samuel, Naira, Didi pengacara yang di kirimkan Riksa dan juga Haris keluar dari dalam kantor polisi menuju ke teras kantor polisi.


Meskipun Riksa tidak datang, tapi dia sudah mengirimkan pengacaranya pada Samuel, dia bukannya tidak datang karena tidak berani menghadapi Samuel karena dia sudah tidak mengaktifkan ponselnya, tapi karena dia masih ada meeting penting sebelum dia mengambil waktu free nya untuk nanti malam.


Naira yang melihat wajah lelah ko Acong pun membuka suaranya.


"Ko, maaf ya karena tadi sudah membuat barang-barang di toko rusak!" ucap Naira pada ko Acong karena dia merasa bersalah. Karena barang-barang di toko buku beberapa ada yang rusak karena perkelahian antara Samuel dan juga para penjahat itu.


Meskipun sebenarnya suaminya telah membantu ko Acong. Jika saja tidak ada Samuel di sana tadi, pasti para penjahat itu sudah berhasil mengacak-acak toko buku milik ko Acong. Bahkan mungkin saja para penjahat itu akan melukai ko Acong, karena dari caranya memukul Haris ketika bicara pada mereka tadi. Mereka terlihat sangat tidak berperikemanusiaan, mereka pasti tidak segan-segan untuk melukai orang.


Dan dari apa yang sudah di selidiki oleh para petugas tadi, mereka itu adalah orang-orang bayaran, atau preman bayaran yang memang di perintahkan oleh seseorang yang jabatan dan namanya terkemuka untuk mendesak ko Acong agar mau menjual toko buku itu pada bos mereka.


Mendengar jawaban para penjahat itu, ko Acong menjadi geram dan memutuskan untuk melanjutkan kasus ini, juga menuntut orang di balik para penjahat itu.


"Justru aku ingin berterima kasih padamu dan suami mu Naira, kalau saja hari ini kalian tidak datang. Mungkin aku dan Haris sudah ada di rumah sakit, bukan para penjahat itu yang berada di tahanan!" ucap ko Acong dengan wajah sangat lelah.


"Aku juga tidak menyangka kalau orang yang punya nama seperti Bima Marten bisa melakukan perbuatan seperti itu, untuk mendapatkan lahan dimana toko buku mu berada ko!" sahut Samuel yang sepertinya cukup mengenal Bima Marten dalang di balik datangnya para penjahat itu ke toko buku ko Acong.


"Mereka bahkan sudah mengancam keluarga ku!" keluh ko Acong dengan ekspresi wajah yang begitu khawatir dan itu sama sekali tidak bisa dia tutupi.


Samuel mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kamu tidak katakan di dalam tadi ko, mereka akan di hukum lebih lama dengan tambahan pasal pengancaman benarkan Didi?" tanya Samuel pada Didi pengacara perusahaan nya.


Dan si pengacara muda itu mengangguk.


"Benar bos, pasal pengancaman dan juga perbuatan tidak menyenangkan bisa di sangkakan pada mereka. Itu akan menambah hukuman untuk mereka!" jelas Didi.


Ko Acong terdiam sejenak lalu menghela nafasnya panjang.


"Aku hanya mencemaskan keluarga ku, dan hanya dari toko buku itu kamu bisa bertahan hidup!" ucap ko Acong lalu duduk di sebuah kursi di depan teras kantor polisi itu.

__ADS_1


Samuel bisa melihat kalau kaki tua ko Acong bahkan tidak mampu menopangnya untuk berdiri dalam waktu yang lama. Dia lalu bicara pada pengacara nya dan Naira duduk di sebelah ko Acong.


"Sabar ya ko, pasti akan ada solusi dari setiap masalah yang terjadi dalam hidup kita!" ucap Naira mencoba untuk menyemangati pria tua yang melihat ke arahnya sambil tersenyum.


"Kamu tahu tidak Naira, tadi aku sempat ragu kenapa kamu bisa memilih pria yang begitu arogan seperti suami mu itu!" ucap ko Acong sambil melihat sekilas ke arah Samuel yang sedang berdiri cukup jauh dari mereka dan sedang bicara pada pengacaranya.


Naira mengikuti arah pandangan ko Acong, dan melihat ke arah Samuel. Naira tersenyum juga ketika melihat suaminya itu.


Ko Acong lalu menepuk punggung tangan Naira dan tersenyum tulus Naira.


"Kamu pasti bahagia kan?" tanya ko Acong dan langsung di balas anggukan kepala oleh Naira.


"Aku yang tua ini pun bisa merasakannya, suami mu itu sangat mencintai mu. Dia bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya padamu saat di dalam kantor polisi tadi. Dia rela membantu ku yang bukan siapa-siapa nya karena mu Naira. Aku selalu berdoa agar kalian berdua selalu bahagia, dan di jauhkan dari pandangan dan juga niat buruk orang lain." ucap tulus ko Acong pada Naira.


Mata Naira sampai berkaca-kaca mendengar apa yang di katakan oleh ko Acong. Seperti itulah ko Acong, dia begitu tulus dan baik hati.


"Terimakasih ko!" ucap Naira.


"Dan kamu Haris, sebaiknya kalau sudah saling cocok. Cepat lamar Mini pada orang tuanya!" seru ko Acong membuat Haris tersentak kaget dan salah tingkah tapi membuat Naira terkekeh pelan.


Samuel dan pengacaranya menghampiri ko Acong dan Naira.


"Ko, sebaiknya kamu ceritakan semua masalah mu pada pengacara ku. Ingat untuk menceritakan segalanya, jangan menutupi satu masalah pun. Ko, kamu adalah orang pernah membantu istri ku saat dia kesulitan mencari pekerjaan, alasan itu sudah cukup untuk ku membantu mu layaknya kamu adalah keluarga ku sendiri!" ucap Samuel membuat ko Acong langsung berdiri dan memeluk Samuel.


Naira dan Haris hanya saling pandang dan tersenyum, mereka sangat mengenal ko Acong. Pria tua itu pasti punya masalah yang sangat berat tapi tidak mau cerita pada mereka sampai dia terlihat begitu emosional begitu saat ada yang membantu masalahnya.


"Terimakasih nak, awalnya aku mengira kamu adalah pria yang... tapi aku salah, kamu sangat baik!" ucap ko Acong yang menyesal pernah menganggap Samuel pria yang tidak baik dan juga tidak sopan.


"Jangan memeluk ku terlalu lama ko, bau minyak angin mu menempel di jaket ku!"


Plak

__ADS_1


Naira langsung memukul lengan suaminya, karena dia merasa Samuel sudah bicara tidak sopan pada ko Acong.


"Mas, jangan bicara seperti itu!" protes Naira.


Tapi ko Acong malah terkekeh dan menjauh dari Samuel.


"Suami mu benar Naira, aku memang pakai minyak angin cukup banyak tadi." ucap ko Acong yang sepertinya tidak tersinggung sama sekali pada apa yang di katakan oleh Samuel.


Setelah sedikit bercanda, pengacara Samuel akhirnya pergi bersama dengan ko Acong dan juga Haris.


Setelah yang mereka lewati tadi, Samuel yang merasa khawatir pada kehamilan Naira pun bertanya pada Naira.


"Sayang, apa perut mu tidak merasa keram atau tidak enak?" tanya Samuel cemas.


Naira pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak mas, aku baik-baik saja!" ucap Naira.


"Oh ya, kapan jadwal check kandungan mu lagi sayang?" tanya Samuel.


"Sepuluh hari lagi, tanggal 20 bulan ini!" jawab Naira.


Samuel mengangguk paham, tapi kemudian dia menegakkan kepalanya lagi dan melihat ke arah Naira dengan wajah serius.


"Sayang jadi ini tanggal 10?" tanya Samuel pada Naira.


"Iya!" jawab Naira singkat padat dan jelas.


"Sayang, besok Puspa ulang tahun!" seru Samuel.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2