
Naira sungguh tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh Samuel. Tapi dia juga tidak berusaha untuk memberontak. Dia hanya bisa menahan sakit yang di timbulkan akibat cengkraman tangan Samuel kepadanya.
Samuel menarik Naira masuk ke dalam rumah, para pelayan dan juga pak Ranu sudah berlari dan ingin mendekati tuannya. Pak Ranu terlihat mengkhawatirkan Naira. Tapi ketika pak Ranu mencoba untuk mendekat dan bicara, Samuel langsung melotot melihat pak Ranu.
"Mau apa kalian?" tanya Samuel kesal.
"Tuan, maaf tuan. Tapi kenapa tuan menarik nyonya seperti itu, kasihan nyonya...!"
"Bukan urusan mu!!" bentak Samuel pada pak Ranu yang belum menyelesaikan apa yang ingin dirinya katakan.
Pak Ranu langsung mengunci rapat mulutnya karena bentakan Samuel itu, pria paruh baya itu bahkan langsung diam mematung di tempatnya.
Pelayan yang lain pun tidak dapat berbuat apa-apa, mereka memilih untuk diam sambil menatap kasihan pada Naira uang di perlakukan kasar seperti itu. Jika pak Ranu saja di bentak oleh Samuel, yang notabene nya sudah menjadi orang kepercayaan di rumah ini, apalagi mereka yang berstatus pelayan biasa.
Sementara Naira pun juga tidak berharap agar yang melihat kejadian ini menolong dirinya, dia sadar tidak akan baik akibatnya jika ada yang ikut campur dalam pertengkaran nya dengan Samuel.
Naira bahkan tidak merintih atau pun memprotes saat tangan kekar Samuel itu mencengkeram kuat lengan kirinya dan. menariknya masuk dengan cepat dan dengan paksa ke dalam kamar.
Brakk
Samuel membanting pintu lalu melemparkan Naira sampai terjatuh di lantai.
Brukk
Naira berusaha menyeka air matanya yang mengalir deras. Bukan dirinya yang mau menangis, tapi entah kenapa air matanya tidak mau berhenti. Mungkin karena bukan hanya lengannya saja yang terasa sakit tapi hatinya juga sakit.
Naira berusaha bangkit berdiri, ketika Samuel sudah berhasil mengunci pintu kamar mereka.
"Jadi kamu tidak menginginkan anak dariku?" tanya Samuel dengan tatapan tajam dan mulai melepaskan tali pinggangnya dan berjalan mendekati Naira.
Tubuh Naira gemetar, dalam matanya jelas terpancar ketakutan yang luar biasa. Naira mencoba menjauh dari Samuel meski tergopoh-gopoh. Namun semakin Naira menjauh, Samuel justru semakin mendekatinya.
__ADS_1
Naira menelan saliva nya dengan susah payah, dia berjalan mundur dengan tangan dan kaki yang gemetaran, tidak tentu arah hingga...
Brukk
Naira terjatuh lagi karena tubuhnya menabrak pinggiran tempat tidur. Naira sudah tidak fokus pada apa yang tadi di katakan oleh Samuel. Naira ingin sekali menanyakan kepada Samuel apa kesalahannya, apa yang membuat Samuel begitu marah padanya. Tapi tenggorokan nya seolah tercekat, jangankan mengeluarkan suaranya, menelan saliva nya sendiri rasanya benar-benar sangat sulit.
Mata Naira makin basah, merah dan penuh ketakutan ketika Samuel melepaskan kancing kemejanya satu persatu sambil terus mendekati Naira.
Suara benar-benar sudah tidak bisa keluar dari mulut Naira. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan.
Tapi semakin melihat ketidakberdayaan Naira, Samuel makin di buat geram. Samuel berfikir di depannya Naira sungguh bersikap seolah wanita lemah yang tidak berdaya. Tapi di belakangnya wanita ini berani melanggar apa yang sudah Samuel perintah kan padanya.
Benar sekali, Samuel mengira kalau Naira membeli obat penunda kehamilan di apotek. Samuel berfikir seperti itu karena mungkin saja Naira ingin membalas perbuatannya siang tadi saat di restoran.
Samuel menarik tangan Naira yang masih sangat sakit itu. Tangan putih itu kini menjadi merah. Dan saat Samuel menyentuhnya lagi, Naira dapat merasakan sakit yang luar biasa di sana, seperti tulang lengannya itu di remuk kan. Naira kembali meringis ketika Samuel mencengkeram dengan kencang lengannya lagi, dan kemudian Samuel membanting tubuh Naira hingga terjatuh di atas kasur.
"Agkh!" pekik Naira.
"Mau membalas apa yang aku lakukan padamu tadi siang, hah?" bentak Samuel lagi sambil melemparkan kemejanya ke lantai.
Naira menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia ingin mengatakan kalau apa yang dituduhkan oleh Samuel padanya itu tidak benar. Tapi suaranya benar-benar tidak bisa keluar.
"Kenapa diam saja, aku akan memberimu hukuman karena telah berani melanggar perintah ku!" geram Samuel lalu menarik paksa pakaian Naira hingga robek.
Naira tahu akan seperti apa hukuman dari Samuel, tapi dia berusaha untuk tidak berteriak karena rasa sakit yang terus menghujam dirinya.
Samuel benar-benar sudah gelap mata, dia terlalu emosi karena mengira Naira benar-benar tidak menginginkan anak darinya. Ego Samuel tidak terima, karena di antara ratusan wanita yang mengejarnya dan menginginkan Samuel menyentuh mereka, Samuel justru memilih untuk menyentuh Naira. Tapi Samuel menganggap Naira sama saja menolak dirinya kalau sampai dia menunda untuk hamil anaknya.
Naira terus menangis, Samuel sangat kasar. Samuel bahkan tidak memperdulikan Naira, dia bergerak semaunya dan memposisikan Naira sesuai keinginan nya, tanpa memperdulikan apakah itu nyaman atau tidak untuk Naira, apakah yang dia lakukan itu menyakiti wanita uang berada di bawah nya itu atau tidak.
Sementara itu pak Ranu yang sangat mencemaskan nyonya mudanya itu hanya bisa memikirkan satu orang yang dapat menolong Naira. Yang pak Ranu pikirkan hanya Samuel, karena nyonya dan tuan Virendra sudah kembali ke luar negeri.
__ADS_1
Tut... Tut...
Suara kalau nomer yang telah di hubungi oleh pak Ranu itu tersambung. Dan setelah beberapa lama, akhirnya Riksa menjawab panggilan pak Ranu.
"Halo...!" sapa Riksa.
Tapi belum selesai Riksa menyapa, pak Ranu sudah menyela dengan cepat.
"Tuan Riksa, tuan Riksa tolong tuan..!" pak Ranu sangat panik hingga dia hanya mengatakan kata yang terus berulang.
Di usianya ini tentu tidak mudah mengahadapi situasi semacam ini. Pak Ranu memang sedikit emosional, karena sejak Naira membantunya waktu itu, pak Ranu sudah menganggap Naira seperti putrinya sendiri. Hingga saat melihat apa yang dilakukan oleh Samuel pada Naira tadi, pak Ranu benar-benar merasa sangat takut dan cemas.
"Pak Ranu, tenang dulu. Katakan ada apa?" tanya Riksa yang juga mulai ikut cemas. Masalahnya pak Ranu menelpon dengan nomer kediaman Samuel, dia takut kalau terjadi apa-apa dengan Samuel atau Naira.
"Nyonya muda, tuan Riksa... Tuan muda sangat marah pada nyonya muda, nyonya muda menangis, tuan muda menarik nyonya muda, tuan muda sangat marah...!" jelas pak Ranu terbata-bata.
Tapi sepertinya Riksa cukup paham pada apa yang dikatakan oleh pak Ranu itu.
"Baik, sekarang dimana mereka?" tanya Riksa.
"Di dalam kamar utama tuan!" jawab pak Ranu cepat.
"Baik, tetap berada di dekat kamar itu. Jangan jauh-jauh, jika Naira berteriak atau minta tolong cepat lakukan apa saja, ketuk pintunya berkali-kali atau dobrak sekalian. Aku akan segera datang!" tegas Riksa lalu panggilan telepon pun terputus.
Pak Ranu segera meletakkan gagang telepon di tempat nya lalu berlari ke dekat kamar tuan mudanya. Hanya terdengar beberapa kali teriakan Samuel, tapi pak Ranu makin cemas karena tidak mendengar suara Naira.
Author POV end
***
Bersambung...
__ADS_1