Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
234


__ADS_3

Ketika setidaknya Puspa sudah bisa bernafas lega karena masalahnya sepertinya sudah dapat teratasi meskipun hanya untuk sementara waktu. Dia juga tidak menyangka kalau Jonathan memang adalah pria yang sebaik apa yang ibunya pernah katakan kepadanya.


Jika Jonathan bukan pria yang baik tentu saja dia akan memilih untuk menceritakan apa yang dilakukan Puspa dan Riksa pada malam itu kepada kedua orang tua Puspa. Tapi Jonathan malah menceritakan kepada Puspa kalau saat dia kembali ke rumah Puspa, dan ketika kedua orangtua Puspa bertanya di mana keberadaan Putri mereka itu. Jonathan malah menjawab kalau tadi dia nyasar, karena sudah setahun tidak pulang ke kota ini dan jalan-jalan di sini sudah sangat berbeda dengan setahun yang lalu dia tinggalkan.


Dia mengatakan itu dan membuat Puspa semakin merasa tidak enak hati kepada pria yang benar-benar baik menurutnya. Jonathan bahkan mengatakan kalau Puspa masih tetap bisa berhubungan dengan Riksa setelah mereka bertunangan. Dan Jonathan tidak akan pernah mencampuri masalah pribadi Puspa.


Puspa sampai menangis haru mendengar semua yang dikatakan oleh Jonathan kepadanya. Dia tidak menyangka kalau Jonathan juga berhati sangat baik seperti halnya dengan orang yang sangat dia cintai yaitu Riksa.


"Terimakasih banyak Jo, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan selain terima kasih dan maaf!" ucap Puspa sambil menyekap air matanya yang terus-menerus mengalir ke pipinya karena merasa sangat terharu mengenal pria sebaik Jonathan dan pernah dicintai oleh pria sebaik itu.


Jonathan meraih kotak tisu yang ada di atas meja kerja Puspa dan mengambil beberapa helai tisu kemudian mengusap air mata yang ada di pipi Puspa. Merasa tidak nyaman Puspa pun memilih untuk meraih tisu yang ada di tangan Jonathan dan mengusap air matanya itu sendiri.


"Terimakasih, aku bisa sendiri!" ucap Puspa dengan lembut.


Jonathan hanya bisa mengelan nafasnya dan mengangguk paham.


"Kamu tadi padi sarapan hanya sedikit, bagaimana kalau kita makan siang di tempat favorit keluarga kita dulu itu!" ucap Jonathan yang berusaha untuk mencairkan suasana.


Puspa langsung menganggukan kepalanya setuju. Tapi Puspa terlebih dahulu meminta izin ke toilet untuk membersihkan wajahnya dan membenarkan riasan di wajahnya. Setelah itu mereka berdua pun keluar dari butik dan menuju ke restoran yang biasa menjadi tempat dua keluarga mereka membicarakan hal-hal bisnis dan makan malam bersama.


***


Sementara itu di tempat lain, Riksa dan juga Dika sudah sampai di alamat yang tadi sudah dikirimkan oleh Wika sekretaris pribadi Riksa. Riksa sengaja mengajak asisten pribadinya Dika, agar jika terjadi sesuatu maka akan lebih cepat mereka tangani.

__ADS_1


Riksa sama sekali tidak berpikiran buruk tentang apa yang dilakukan oleh Wika. Wanita itu bahkan meminta agar Riksa datang sendiri untuk mengambil laporan yang dia butuhkan di rumah Wika padahal tadi sudah mengatakan kalau dia sedang sendirian di rumahnya. Tapi Riksa tetap datang dan mengajak Dika yang segera pergi menuju ke klinik yang letaknya tak jauh dari lokasi rumah Wika berada. Karena kebetulan dokter perusahaan sedang ada pasien yang harus segera di tangani, karena salah seorang pegawai yang tugasnya sebagai perakit mobil di lapangan mengalami kecelakaan kerja akibat dia mengantuk.


Dika pun pergi ke klinik dengan menggunakan mobil, karena tidak mungkin kalau dia diturunkan dulu di klinik dan jalan kaki ke arah rumah Wika. Jadi cara yang lebih praktis yang dipikirkan oleh Riksa adalah, Dika mengantarkan dirinya lebih dulu ke rumah Wika kemudian Dika pergi ke rumah sakit untuk memanggil seorang dokter.


Riksa terlihat melihat kondisi sekeliling rumah Wika yang sangat sepi sepertinya. Entah karena memang orang-orang sedang beraktivitas dan meninggalkan rumah mereka masing-masing. Atau memang kos kosan ini sepi dan hanya ada beberapa penghuni saja. Riksa pun tidak ingin memikirkan hal itu lebih jauh, dia lalu perjalanan menuju ke arah kos-kosan dengan pintu bernomor 6. Karena alamat itulah yang dikirimkan oleh Wika.


Riksa masih terus melihat ke arah kanan dan kiri, akhirnya dia menemukan beberapa anak sedang bermain di jarak dua rumah dari tempatnya berdiri. Riksa menghela nafas lega, setidaknya dengan melihat anak-anak yang bermain itu dia tahu kalau pasti ada orang dewasa yang mengawasi mereka. Dan dia juga pengelola nafas lega karena dia tidak cemas lagi bahwa kalau Wika membutuhkan sesuatu maka ada para tetangga yang akan membantunya.


Tok tok tok


"Wika, ini Riksa. Apa kamu ada di dalam?" tanya Riksa.


Cukup lama tidak terdengar jawaban dari arah dalam rumah. Riksa pun mengetuk kembali beberapa kali dan juga menyerukan nama Wika.


Meski sedikit merasa ragu tapi karena meeting akan dilaksanakan pada sore harinya maka Riksa harus mendapatkan dokumen itu sekarang. Riksa langsung memegang gagang pintu, dan memutarnya hingga membuat pintu yang ukurannya tidak terlalu besar itu terbuka.


Ceklek


"Astaga Wika!" pekik Riksa lalu kembali menutup pintu itu lagi.


Riksa mengusap wajahnya dengan kasar, dia bahkan mengumpat beberapa kali sangking kesalnya.


"Bos, tolong... aku benar-benar tidak bisa bangun dari sini!" ucap Wika terbata-bata seperti orang yang benar-benar menahan sakit.

__ADS_1


Tapi Riksa sangat kesal karena begitu membuka pintu tadi, wanita yang adalah sekertaris pribadi nya itu bahkan tidak mengenakan apapun di badannya. Dan dia tergeletak begitu saja di lantai dengan posisi yang tidak etis sama sekali untuk di lihat orang lain. Riksa masih diam, dia bukan lah orang yang begitu polos dan tidak mengerti apa-apa.


'Tidak mungkin kan kalau teman-teman nya meninggalkan Wika dalam keadaan seperti itu, dengan pintu yang tidak kunci!' batin Riksa mengamati situasi yang sedang terjadi.


Di tambah lagi, saat Riksa mengetuk pintu tadi cukup lama wanita yang berada di dalam itu menjawab. Riksa mulai mencurigai akal bulus Wika, dia pun segera menghubungi Dika agar cepat datang.


"Bos, tolong aku, aku kedinginan!" seru Wika dengan suara yang memilukan dari arah dalam.


Riksa mendengus kesal dan melihat malas ke arah pintu.


"Tidak usah bersandiwara lagi Wika, sebaiknya pakai pakaian mu!" seru Riksa lalu segera menjauh dari kamar kos Wika itu.


Tapi di luar dugaan nya, Wika malah berteriak dari dalam.


"Tolong... tolong... ada yang mau melecehkan aku. Tolong...!" teriak Wika yang sudah keluar dengan daster yang sudah sobek compang camping dan bergelayut di daun pintu.


Warga sekita pun berdatangan dan segera menghampiri Wika. Sebagian prianya mendekati Riksa dan memegang kedua lengannya.


"Dasar pria mesum, punya wajah tampan tapi bisa nya melecehkan wanita saja!" seru seorang pria berjenggot lebat yang berusaha menarik Riksa menuju ke arah Wika.


"Apa-apaan ini, aku tidak melecehkan siapapun!" bantah Riksa namun semua orang sepertinya lebih percaya pada pernyataan dan air mata palsu Wika.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2