
Ketika Mega bertanya pada Puspa, wanita cantik itu hanya diam sambil menatap ke arah ibunya sebentar. Lalu dia melihat ke arah belakang ibunya, nyonya Bagas sedang menghampiri dirinya.
"Puspa, mana gaun ku? Dua jam lagi aku harus pakai gaun itu!" jelas nyonya Bagas setelah bertanya pada Puspa.
Puspa lalu berusaha mengambil nafas dalam-dalam. Dia menepuk bahu ibunya perlahan.
"Ibu, tolong jangan buat keributan di tempat ku bekerja. Aku akan pulang sebentar lagi, kita akan bicara di rumah!" kata Puspa berusaha untuk tetap bersikap tenang meskipun sebenarnya dalam hatinya dia masih belum bisa memaafkan sepenuhnya apa yang Mega lakukan hingga menyebabkan kematian Fika.
Anyelir yang mendengar Puspa bicara langsung mendekatinya.
"Kenapa kakak tidak mengajak ibu masuk dan bicara di dalam saja, apa kakak tahu berapa lama ibu menunggu kakak disini, dan menunggu kakak untuk pulang?" tanya Anyelir yang jelas kurang setuju dengan apa yang disarankan oleh Puspa barusan.
Puspa melihat ke arah Anyelir dan berkata.
"Kamu seharusnya tidak mendukung apa yang ibu lakukan ini, sebagai anak tugas kita memang menuruti apapun keinginan orang tua kita, tapi jika keinginan itu benar dan tidak menyulitkan orang lain. Lihat yang kalian berdua lakukan, ini adalah tempat kerja, tempat umum. Masalah pribadi tidak sepantasnya di bicarakan disini. Aku minta padamu, ajak ibu pulang ke rumah nenek Arumi. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan pekerjaan ku!" tegas Puspa panjang lebar pada Anyelir.
Dari ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Anyelir, jelas sekali dia tidak suka dengan apa yang dikatakan Puspa padanya. Apalagi kakaknya itu terkesan menyalahkannya dalam hal ini.
"Ibu, percuma bicara dengannya disini. Ayo kita pulang saja!" seru Anyelir yang langsung masuk ke dalam mobil dan menunggu Mega di dalam mobil.
"Puspa, aku tahu mungkin kamu dan keluarga mu sedang dalam masalah yang rumit. Tapi kalau aku tidak dapatkan gaun ku sekarang, aku yang akan terkena masalah!" keluh nyonya Bagas yang sedari tadi mencoba untuk bersabar melihat semua yang telah terjadi di hadapannya.
Puspa lalu menghela nafasnya sekali lagi.
"Maaf nyonya Puspa silahkan masuk ke dalam bersama Emi! aku minta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi" ucap Puspa lalu beralih ke asistennya.
"Emi, tolong layani nyonya Puspa dengan baik!" perintah Puspa pada Emi.
Dan karena Puspa yang sudah memerintahkan maka empat orang penjaga yang ada di depan pintu butik pun menyingkir dari sana. Sehingga semua karyawan dan juga nyonya Bagas bisa masuk ke dalam butik.
"Ibu, aku mohon pulang lah dulu. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan ku, aku janji akan pulang setelah semua pekerjaan ku selesai!" ucap Puspa berusaha bicara dengan tenang pada Mega.
__ADS_1
"Ingat untuk pulang Puspa, kita harus bicara!" sahut Mega yang lalu ikut kembali ke dalam mobil dan meminta semua penjaganya mengikuti nya.
Setelah dua mobil itu pergi dari area butik, Riksa mendekati Puspa.
"Sejak kapan ibu mu punya bodyguard?" tanya Riksa yang terkesan menyindir.
Puspa melirik ke arah Riksa.
"Kenapa? apa kamu takut aku tidak bisa keluar dari rumah saat aku kembali ke sana karena bodyguard bodyguard ibu ku itu?" tanya balik Puspa pada Riksa yang juga terkesan menyindir.
Tapi sebelum Riksa membuka mulutnya untuk mengeluarkan kalimat yang ada di dalam pikirannya, Puspa terlebih dulu menyela.
"Lalu apa gunanya aku punya pacar yang sudah punya sertifikasi pelatihan bodyguard kalau begitu!" ucapnya santai sambil berjalan melewati Riksa yang hanya bisa terkekeh kecil mendengar apa yang baru saja Puspa katakan itu.
Riksa juga ikut menyusul Puspa ke dalam butik. Tak berselang lama saat mereka berdua masuk, sebuah mobil berhenti di depan butik. Dan seorang pria tampan dengan setelan jas berjalan mantap ke dalam butik.
Sapaan dari resepsionis yang baru membereskan meja kerjanya tidak dia hiraukan dan malah melenggang masuk ke dalam ruang utama butik ini.
Puspa yang sedang melayani nyonya Bagas langsung menoleh. Riksa yang juga ada di ruangan itu juga menoleh ke arah sumber suara.
"Sam, ada apa?" tanya Puspa yang merasa kalau Samuel sepertinya terburu-buru mencarinya.
Benar sekali, pria tampan yang barusan masuk ke dalam butik yang tidak menghiraukan sapaan semua orang saat masuk ke dalam butik dan memang terkesan buru-buru adalah Samuel.
Tapi ketika Puspa bertanya padanya, pandangan Samuel malah terarah ke Riksa.
"Hei, kenapa masih di sini? apa mau makan gaji buta kamu?" tanya Samuel pada Riksa.
Pertanyaan Samuel yang terkesan kasar dan tanpa filter pada Riksa itu sampai menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu. Puspa saja sampai menaikkan kedua alisnya namun Riksa hanya diam saja.
Merasa tidak terima kekasihnya di perlakukan seperti itu, Puspa lalu memberikan pesanan nyonya Bagas dengan segera.
__ADS_1
"Nyonya Bagas ini pesanan kamu, terimakasih banyak ya! dan sekali lagi aku minta maaf atas segala ketidaknyamanan ini!" ucap Puspa yang langsung berdiri dan menarik tangan Samuel ke dalam ruangannya.
Riksa juga tidak bicara dan hanya mengikuti langkah Puspa yang sedang menarik Samuel. Setelah masuk ke dalam ruangan puspa, Samuel langsung menghentakkan tangannya hingga tangan Puspa terlepas darinya.
"Ck... Samuel, tolong bicara sedikit lebih manis pada Riksa!" keluh Puspa pada Samuel.
"Apa katamu? kenapa aku harus bicara manis padanya? menjijikkan!" sahut Samuel yang langsung menggidikkan bahunya merasa geli dengan apa yang dikatakan oleh Puspa.
Riksa yang baru masuk juga hanya langsung duduk di kursi yang ada di dekat Puspa.
"Ini lagi, sudah dewasa tapi apa-apa harus di ajarkan. Kenapa tidak mau melawan penindasan yang terjadi padamu selama bertahun-tahun sih?" tanya Puspa kesal pada Riksa.
Samuel yang merasa omongan Puspa mulai aneh, segera menghampiri Puspa.
"Apa maksud mu, kenapa aku merasa aku jadi penindas di sini?" tanya Samuel rusak terima.
"Memang benar kan? kamu selalu memperlakukan Riksa semena-mena. Dia itu bukan hanya asisten mu, dia juga sahabat kita!" Sanggah Puspa.
Samuel langsung melipat tangannya di depan dada.
"Hei Riksa, jangan diam saja. Buka mulut mu, memangnya sejak kapan aku menindasmu?" tanya Samuel kesal.
Riksa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menjawab.
"Puspa sudahlah, aku tidak pernah merasa bos menindasku. Aku malah merasa kalau semua perkataan nya tadi itu adalah bentuk kasih sayangnya padaku!" ucap Riksa yang membuat Samuel merasa perutnya terasa sangat mual.
Dan mendengar apa yang dikatakan oleh Riksa membuat Puspa menggidikkan bahunya karena merasa geli mendengar apa yang Riksa katakan barusan.
"Hih, kalian berdua menyebalkan!" keluh Puspa lalu memilih keluar dari dalam ruangan nya karena kesal pada Riksa dan juga Samuel.
***
__ADS_1
Bersambung...