
Di dalam kamarnya, Naira baru saja membuka matanya perlahan. Dia melihat ke sekeliling kamarnya, mencari posisi jam dinding dan matanya langsung melebar ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dengan cepat Naira menoleh ke arah sebelah kirinya dimana suaminya tertidur.
Dan saat Naira menoleh, Samuel masih tertidur dengan sangat pulas sambil memeluk lengan Naira. Membuat Naira kesulitan saat akan bangun.
Perlahan Naira mengangkat tangan Samuel agar dirinya bisa bangun. Tapi ketika Naira mengangkat tangan Samuel, suaminya itu malah semakin memeluk Naira dengan erat.
"Mas, aku mau bangun. Ini sudah jam enam. Ibu pasti sudah bangun dan sedang sibuk di dapur!" ucap Naira pada Samuel agar dia melepaskan pelukannya.
Samuel malah menciumi lengan istrinya itu dengan masih memeluk erat lengan istrinya itu.
"Terimakasih untuk yang semalam ya sayang, terimakasih juga karena kamu telah memaafkan aku. Aku janji padamu, sebisa mungkin aku akan menghindari wanita itu, aku akan menjauh sejauh-jauhnya dari dia!" ucap Samuel terdengar sangat jujur dan tulus dari hatinya.
Naira mengangguk kan kepalanya perlahan dengan wajah yang merona. Bagaimana tidak, niatnya semalam adalah untuk mengerjai Samuel tapi ternyata suaminya lebih pandai membujuknya dan dia berhasil luluh pada permintaan maaf dan penyesalan suaminya.
"Mas, sekarang lepaskan aku. Aku harus mandi dan menyiapkan sarapan. Kamu juga akan pergi bekerja kan?" tanya Naira pada suaminya.
Samuel langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak sayang, hari ini aku libur. Aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan mu saja di rumah. Aku juga sudah bilang pada bibi Merry kemarin untuk memberitahu pada ibu kalau kita akan kembali besok ke rumah!" terang Samuel.
Naira mengangguk paham.
"Baiklah, tapi bisa kah lepaskan aku sekarang?" tanya Naira lagi yang sudah mulai memperlihatkan ekspresi serius karena sejak tadi Samuel terus menahannya saat dia berusaha untuk bangun.
Samuel tersenyum, dan menunjuk ke arah pipinya.
"Satu ciuman dulu ya!" pintanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Naira tidak mengatakan apapun, dia hanya langsung mengecup pipi suaminya yang tadi di tunjuk dengan tangan.
Cup
"Sudah, sekarang cepat lepaskan aku!" ucap Naira lagi dan suaminya pun melepaskan nya.
Naira segera turun dari atas tempat tidur dan hendak menuju ke kamar mandi, namun dia lupa kalau dia sedang tidak memakai apapun. Alhasil Samuel yang melihat itu pun bersiul menggoda istrinya.
Suit... suit...
Naira langsung berlari menuju ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan kencang. Samuel yang melihat tingkah istrinya itu langsung terkekeh dan melihat ke arah pakaian mereka yang berserakan di lantai.
Pria tampan itu tersenyum dan mengingat apa yang telah dia dan istrinya itu lakukan semalam. Apalagi saat ini istrinya itu sedang hamil, rasanya kebahagiaan nya sekarang berlipat-lipat ganda.
Tapi dia juga mengingat kembali apa yang terjadi kemarin, saat istrinya begitu marah ketika dia menemui Caren dan mengajaknya makan bersama sementara istrinya telah menunggunya untuk pulang. Samuel sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan, dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan pernah pergi berdua dengan wanita lain, siapapun itu tanpa memberitahu istrinya dan tanpa seijin Naira.
Samuel lalu turun dari atas tempat tidur, dia memunguti setiap helai pakaian nya sendiri dan juga pakaian Naira. Ketika melihat pakaian Naira, dia tidak tahu darimana istrinya itu punya ide jahil semacam itu, padahal saat Samuel meminta Naira memakai pakaian seperti itu Naira selalu menolak dengan alasan malu. Tapi kemarin malam dia malah memakainya sendiri, dan menurut Samuel itu pasti ide dari orang lain bukan inisiatif istrinya yang pemalu itu sendiri.
Samuel lalu memasukkan semua pakaian yang sudah dia bereskan tadi ke keranjang pakaian lalu dia berjalan ke arah lemari dan mengambilkan pakaian ganti untuk istrinya dan untuk dirinya sendiri. Setelah itu dia meraih ponsel nya dan sengaja mematikannya agar tidak ada yang mengganggu waktu berkualitas nya dengan istrinya yang baru saja berhasil dia bujuk itu.
Setengah jam menunggu setelah selesai menyiapkan sarapan. Anisa dan Rama akhirnya melihat anak dan menantunya keluar dari dalam kamar. Mereka berdua terlihat segar dan saat keluar Samuel menggandeng tangan Naira dan tak henti-hentinya melihat ke arah Naira yang hanya menundukkan kepalanya.
"Selamat pagi ayah, ibu!" sapa Samuel pada Anisa dan juga Rahma.
"Selamat pagi nak Samuel, Naira ayo duduk kita sarapan bersama!" ucap ayah Rama.
Naira hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka duduk di kursi mereka dan Naira membantu Samuel menyiapkan sarapan sementara Anisa melirik tajam ke arah putrinya yang sedari tadi menghindari tatapan tajam sang ibu.
__ADS_1
"Oh ya, dimana Ibras Bu?" tanya Samuel pada Anisa.
"Dia sudah berangkat sekolah, tenang saja nak Samuel. Dia sudah sarapan, dan dia harus berangkat pagi karena ada ujian!" jawab ibu menjelaskan.
Setelah sarapan ayah Rama dan Samuel mengobrol di teras depan rumah. Sementara Anisa dan juga Naira membereskan peralatan makan mereka di dapur.
"Hei Naira, katakan pada ibu. Apa yang sudah nak Samuel katakan sampai kamu memaafkan nya dengan mudah begitu?" tanya ibu Anisa penasaran.
"Dia sudah minta maaf Bu, dia mau menghubungi ku tapi ponselnya mati. Lalu dia juga hanya memberi wanita pekerjaan karena kasihan, dengan gaji yang hanya cukup untuknya makan sehari-hari, membeli baju baru di awal bulan dan membayar tagihan listrik dan air, tidak lebih dari tiga juta sebulan ibu. Dan dia juga harus bekerja keras. Dan mas Samuel bilang, kalau dia itu bekerjanya sangat jauh dari kantor, dia bekerja di showroom perusahaan jadi kemungkinan untuk mereka bertemu itu bahkan sangat jarang, jangan kan sehari, seminggu saja belum tentu mereka bisa bertemu!" jelas Naira panjang lebar sesuai dengan apa yang Samuel jelaskan padanya semalam.
Anisa yang mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya itu menghela nafas lega.
"Huh syukurlah kalau begitu nak! ibu hanya cemas saja, kan kamu pernah bilang wanita itu pernah mengancam mu akan merebut kembali Samuel, ibu khawatir kalau wanita itu nekat supaya bisa dekat dengan Samuel. Ibu tidak mau kamu sedih nak, tapi ngomong-ngomong ya Nai, berapa sih suami mu kasih kamu uang bulanan. Kemarin ayah bilang kamu transfer ke ayah 10 juta ya Nai, banyak banget itu, ayah langsung lunasin semua hutang di yayasan tahu Nai!" jelas ibu Anisa.
Naira terdiam sejenak.
"Em, sebenarnya mas Sam itu kasih Naira Sebulan 15 juta....!"
"Berapa?" pekik ibu sangat terkejut sampai terduduk lemas di kursi.
Naira yang panik langsung mengambil minuman yang ada di depan ibunya dan menyerahkannya pada sanga ibu.
"Ibu minum dulu, ibu kenapa?" tanya Naira panik.
Anisa lalu mengipas-ngipas dengan tangannya ke arah wajahnya.
"Masyaallah Nai, itu mah gaji ayah setahun Nai!" ucap ibu Anisa begitu takjub mendengar uang bulanan yang di berikan oleh menantunya pada putrinya.
__ADS_1
***
Bersambung...