Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
54


__ADS_3

Author POV


Samuel terlihat begitu biasa saja setelah mengatakan kalimat yang membuat Naira merasa tidak nyaman. Apa yang di katakan oleh Samuel itu sama saja artinya dengan dia sama sekali tidak tertarik pada Naira, karena menurut nya Naira itu memang sangat tidak menarik.


Bukan kah kalimat seperti itu sangat melukai seorang makhluk yang namanya wanita. Wanita itu kan di kenal berhati lembut dan perasaannya yang halus.


Pengarah gaya meminta agar Naira tersenyum, tapi sepertinya mata Naira malah berkaca-kaca.


"Tuan Samuel tolong wajah anda sedikit menoleh ke arah Nona Naira ya, dan nona Naira tolong wajah anda tersenyum malu-malu dan melihat ke arah bawah, ke arah karpet putih itu!" ucap sang pengarah gaya.


Awalnya Samuel mengikuti apa yang dikatakan oleh si pengarah gaya, tapi setelah melakukan apa yang di instruksikan, Samuel merasa ada yang aneh dengan gaya yang seperti ini saat akan di ambil foto. Dia malah berdiri dan mulai protes.


"Ck... kenapa aku harus melihat ke arahnya tapi dia malah melihat ke bawah, aku merasa seperti di acuhkan kalau seperti ini!" protes Samuel pada si pengarah gaya.


"Pffftt!" Naira malah terlihat senang. Dia malah ingin tertawa tapi langsung menutup mulutnya dengan tangannya setelah mendapatkan lirikan tajam dari Samuel.


Dan lagi-lagi si pengarah gaya harus menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun menjadi pengarah gaya profesional, dia memang sering menemukan beberapa anggota yang selalu protes pada arahannya menentukan engle foto. Tapi dia jarang menemukan pasangan pengantin yang akan menikah, tapi malah sangat saling tertawa kalau pasangan nya kesal seperti Samuel dan Naira.


Si pengarah gaya lalu menghampiri Samuel.


"Tuan Samuel, konsepnya memang seperti ini. Konsepnya itu kalian saling mencintai, tapi masih sama-sama saling malu-malu. Perasaan saling jatuh cinta kalian hanya terlihat pada isyarat mata dan gestur tubuh saat di potret!" jelas si pengarah gaya itu panjang lebar.


"Pose pertama, nona Naira yang tidak fokus, pose kedua tuan Samuel yang tidak fokus, pertanyaan nya kalian ini saling mencintai atau tidak?" tanya si pengarah gaya yang sepertinya sudah sampai pada limited batas kesabaran nya menangani pasangan calon pengantin di depannya itu.


Samuel dan Naira saling pandang.


"Ck... jangan mengurus yang bukan urusan mu. Sudahlah lanjutkan! masih berapa gaya lagi aku harus ambil foto dengan nya?" tanya Samuel pada si pengarah gaya dan sesekali melihat ke arah Naira.


"Mungkin kita bisa ambil beberapa lagi, karena permintaan nyonya Stella kalian lah yang akan memenuhi tujuh puluh persen album foto keluarga nya nanti!" jelas si pengarah gaya.


"Baiklah, lakukan dengan cepat!" kata Samuel yang terkesan malas.


'Bagaimana mau cepat selesai, kalau kalian saja dari tadi bertengkar terus?' tanya si pengarah gaya dalam hati.


"Kami harus bagaimana lagi?" tanya Samuel mengagetkan si pengarah gaya.


"Sebentar tuan Samuel, kami akan ganti properti nya dulu!" jawab si pengarah gaya.


Asisten si pengarah gaya, mengangkat kursi yang tadi di jadikan properti untuk foto. Dia mengganti nya dengan satu kursi yang lebih modern dan meletakkan nya sebagai properti selanjutnya.


"Tuan Samuel silahkan anda duduk!" ucap si pengarah gaya lalu Samuel pun duduk di kursi itu.


"Dan anda nona Naira, silahkan anda berdiri di sebelah kiri tuan Samuel!" kata si pengarah gaya lagi. Dan dengan cepat Naira melakukan itu, dia juga tidak ingin berlama-lama dengan orang yang selalu saja menganggap dirinya lebih hebat, lebih benar, lebih tampan dari siapapun di dunia ini.


"Ya seperti itu, lalu nona Naira letakkan tangan anda di bahu tuan Samuel tapi sedikit lebih ke arah depan ya!" serunya lagi.


Naira ragu-ragu saat akan meletakkan tangannya di bahu Samuel.


'Pegang dia? bakalan nambah hutang gak ya?' tanya nya ragu dalam hati.


Naira sungguh takut untuk melakukan itu, bukan takut pada Samuel, tapi takut kalau saldo hutangnya akan bertambah gara-gara dirinya menyentuh Samuel.


Karena melihat Naira tak kunjung melakukan apa yang dia perintahkan, si pengarah gaya mendekati Naira.


"Maaf ya nona, seperti ini loh!" ucapnya sambil mengangkat tangan Naira dan meletakkan nya di bahu Samuel.


Naira sampai melebarkan matanya ketika tangannya benar-benar menyentuh bahu Samuel.


"Dan tuan Samuel, anda pegang tangan Nina Naira, seperti ini!" seru si pengarah gaya lagi dan meminta Samuel memegang tangan Naira.


Deg


Saat kedua tangan mereka bersentuhan, Naira terkesiap kaget, karena Samuel memegang erat tangannya. Telapak tangan mereka saling bertaut dan entah kenapa Samuel malah terdiam dan hanya fokus melihat ke arah depan.

__ADS_1


'Heh, pria ini mengerikan. Kenapa dia malah tersenyum begitu?' tanya Naira bingung karena melihat Samuel tersenyum aneh setelah menggenggam tangannya.


Si pengarah gaya senang melihat ekspresi Samuel yang tiba-tiba tersenyum.


"Bagus tuan Samuel, tahan ya senyuman yang seperti itu. Sangat bagus! oke! satu... dua...!" ucap si pengarah gaya.


Cekrek


Si pengarah gaya sengaja mengambil beberapa foto yang seperti itu, setelah Naira melihat fotografer nya menunjukkan kameranya pada si pengarah gaya. Naira langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Samuel. Naira mundur, menjauh dari Samuel. Dia sama sekali tidak menyukai senyuman yang di tunjukkan oleh Samuel tadi padanya.


"Sekarang tuan Samuel silahkan berdiri, dan silahkan nona Naira yang duduk di kursi itu!" seru pengarah gaya.


Samuel langsung bangun dan membenarkan jas nya, Naira lalu duduk tanpa melihat ke arah Samuel.


"Tuan Samuel anda berdiri di belakang nona Naira sedikit menyerong, lalu nona Naira anda duduknya juga menyamping ke arah tuan Samuel tapi kalian jangan saling pandang ya, lihat lah ke arah depan. Dan tangan anda nona Naira, tolong yang satunya memegang pegangan kursi itu dan tegap kan punggung anda!" serunya panjang lebar.


Dan dengan mudah apa yang di katakan oleh si pengarah gaya itu dapat di tangkap dan di mengerti oleh Samuel dan Naira. Dan gaya seperti itu selesai.


"Bagus sekali, sekarang properti nya akan di ambil. Berikut nya hanya kalian berdua yang akan jadi fokus pada foto selanjutnya!" seru pengarah gaya itu.


Dua orang asisten pengarah gaya mengangkat kursi yang sudah selesai di jadikan sebagai properti.


Naira masih enggan melihat ke arah Samuel, sementara Samuel malah senang sekali mendekati Naira yang selalu menjauh tiap kali di dekati oleh Samuel.


'Idih, nih orang kenapa sih? gak jelas dari tadi?' tanya Naira yang begitu bingung pada sikap Samuel dalam hati.


Tapi jujur saja, sikap yang di perlihatkan oleh Samuel, yang di lakukan oleh Samuel itu membuat Naira risih dan tidak nyaman.


'Dia pasti sengaja, biar aku takut sama dia!' gumam Naira lagi dalam hati.


Cukup lama Naura berfikir sampai bisa menyimpulkan kalau Samuel sengaja membuatnya tidak nyaman agar dia gugup dan melakukan banyak kesalahan. Dia berfikir Samuel akan sangat puas kalau dia membuat kesalahan dan si pengarah gaya menegurnya karena kesalahan yang dia buat.


"Oke, sekarang kalian bisa berdiri di tengah!" ujar si pengarah gaya lalu mendekati Samuel dan juga Naira yang sudah berdiri di tengah.


"Santi, kemari!" panggil si pengarah gaya pada salah satu asistennya yang pasti namanya adalah Santi.


"Tolong tuan Samuel dan nona Naira, perhatikan saya ya!" pinta si pengarah gaya pada Samuel dan juga Naira.


Naira mulai mengerutkan keningnya ketika melihat apa yang di tunjukkan oleh pengarah gaya itu dan asistennya yang bernama Santi. Samuel bahkan ikut mengangkat sebelah alisnya, dia sendiri terlihat ragu untuk melakukan itu karena pose selanjutnya adalah, Samuel harus berada, berdiri sangat dekat dengan Naira.


Tangan Samuel harus memeluk pinggang Naira yang kedua tangannya lurus di samping tubuhnya. Lalu keduanya saling menatap satu sama lain dengan raut wajah tegas.


"Maaf, apa tidak bisa di ganti pose yang lain saja?" tanya Naira gugup.


"Pffftt!" kali ini Samuel yang menahan tawanya.


Si pengarah gaya sampai harus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena pertanyaan Naira.


"Sudah cepat, kemari!" ucap Samuel sambil menarik pinggang Naira.


Bukh


Sampai Naira menabrak dada bidang Samuel. Naira menatap Samuel dengan kesal.


Cekrek


"Luar biasa! tuan Samuel yang tadi itu bagus sekali. Terkesan sangat natural!" puji si pengarah gaya pada Samuel.


Samuel tersenyum, tapi Naira malah terlihat kesal. Dengan cepat Naira menarik dirinya menjauh, ketika Samuel sedang memperhatikan apa yang dikatakan oleh si pengarah gaya.


"Oke yang terakhir ya, silahkan nona Naira berdiri di depan tuan Samuel. Membelakangi tuan Samuel, dan tuan Samuel memeluk nona Naira dari belakang!" seru si pengarah gaya.


Naira lagi-lagi harus menghela nafas nya berat. Dia sungguh tidak menyangka harus melakukan banyak pose yang mengharuskan nya bersentuhan dengan Samuel. Sebenarnya hal yang wajar kalau mereka adalah pasangan calon suami istri yang sungguhan saling mencintai. Tapi kalau ceritanya seperti mereka ini memang akan sangat canggung sekali.

__ADS_1


Tanpa si pengarah gaya mengatakan instruksi nya dua kali. Samuel langsung berdiri di belakang Naira dan memeluk Naira dari belakang.


"Senyum nona Naira, senyum yang tulus. Bukankah kalian saling mencintai, tunjukkan rasa cinta kalian itu!" seru pengarah gaya.


"Ayo tersenyum lah, atau akan ku cium pipi mu disini!" gertak Samuel.


"Jangan macam-macam ya!" balas Naira.


Naira berusaha untuk tersenyum meski menahan kesal. Dia sungguh tidak mengerti kenapa sikap Samuel mendadak aneh sejak mereka bersentuhan tangan tadi.


Cekrek


"Bagus sekali, terimakasih banyak tuan Virendra dan calon nona Virendra. Terima kasih atas kerja samanya. Pemotretan nya sudah selesai, sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak!" ucap si pengarah gaya sangat ramah dan lega.


Samuel hanya mengangguk sambil berlalu, begitu pula dengan Naira, tapi dia sempat mengucapkan terima kasih juga pada si pengarah gaya.


Ting


Pintu lift terbuka, Naira dan Samuel masuk ke dalam lift menuju lantai lima, tempat kamar mereka berada.


Di dalam lift Samuel melihat ke arah Naira terus dan itu membuat Naira merasa sangat tidak nyaman. Naira memalingkan wajahnya, dan menggeser tempat dia berdiri, dia bergeser menjauh dari Samuel.


"Kenapa? apa kamu merasa aku mulai menyukai mu?" tanya Samuel dengan gaya arogannya.


Naira hanya menoleh sekilas lalu memalingkan wajahnya lagi.


Samuel berjalan mendekati Naira, dan hal itu membuat Naira makin mundurkan langkahnya hingga punggung nya menabrak dinding lift.


"Tuan, disana lebar! kenapa malah berdiri disini?" tanya Naira gugup.


"Ha ha ha, kenapa gugup? dasar gadis aneh dan ceroboh. Jangan pikir aku bisa menyukai mu ya!" tutur Samuel lagi makin membuat Naira bingung.


'Yang bilang kamu menyukai ku juga siapa? aneh!' batin Naira. Karena memang Naira tidak berfikir seperti itu sama sekali.


"Kamu tahu, aku hanya senang karena saat menyentuh mu tadi, aku bahkan tidak merasakan apapun. Tahu apa artinya?" tanya Samuel menatap tajam pada Naira.


Naira hanya diam, karena dia tidak mengerti dia harus menjawab apa? dia berfikir apapun jawabannya kemungkinan pasti akan salah di mata Samuel.


"Tahu tidak??" tanya Samuel kali ini dengan nada yang lebih tinggi karena dia tidak puas dengan reaksi Naira, raut wajah Samuel juga semakin di pertegas.


Naira dengan cepat menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Tidak tuan, aku tidak tahu!" jawab Naira cepat.


"Sudah ku duga kamu ini memang sangat bodoh, entah apa makanan yang kamu makan sampai otak mu jadi sebodoh itu!" ucap Samuel dengan entengnya.


Naira masih tetap tegar berdiri di depan Samuel, dia hanya mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya, di tengah lekukan gaun yang dia pakai agar tak terlihat oleh Samuel. Sekuat tenaga Naira menhan agar air matanya tidak jatuh.


"Itu artinya, aku sama sekali tidak tertarik padamu. Tidak ada yang menarik darimu. Aku yakin, sebelum ini kamu tidak pernah pacaran kan? karena sebagai seorang wanita kamu memang tidak menarik di mata pria!" ucap Samuel dengan pongahnya.


Ting


Pintu lift terbuka, Samuel keluar dari dalam lift setelah mengatakan semua itu pada Naira. Naira belum keluar dari dalam lift. Setelah Samuel menjauh, Naira malah duduk berjongkok dan menutup kedua telinganya.


Naira mengambil nafas dalam-dalam, dan menghembuskan perlahan. Dia melakukan itu sampai tanpa sadar pintu lift kembali tertutup karena sudah ada yang menekan tombol untuk memakai nya.


"Huh, sabar Naira kamu harus sabar. Anggap tadi Samuel tidak berkata apa-apa! jangan menangis Nai.. hiks..hiks.. jangan menangis atau ayah dan ibu mu akan tahu kamu sebenarnya sangat sedih karena harus menikahi pria tidak punya hati seperti Samuel!" gumam Naira yang sudah tak mampu menahan tangis nya lagi.


Ting


Pintu lift terbuka, Naira dengan cepat menghapus air matanya dan berbalik membelakangi orang yang akan masuk ke dalam lift.


"Naira!" panggil orang yang baru saja masuk ke dalam lift.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2