Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
90


__ADS_3

Setelah menunggu hampir dua puluh menit, suara ketukan terdengar di pintu kamar Samuel


Tok tok tok


"Bos, ini aku!" sebuah suara menyeru di luar pintu kamar Samuel.


Dengan cepat Samuel berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu kamarnya.


"Ini bos!" tanpa basa-basi Riksa segera memberikan satu paper bag yang ada di tangan nya pada Samuel.


Dengan cepat Samuel meraih apa yang Riksa berikan.


"Bagus, kamu juga bersiaplah ikut aku dan Naira menemui Tuan Ho di hotel Emerald!" seru Samuel dan langsung di balas dengan sebuah anggukan kepala yang cepat dari Riksa.


Dan pada akhirnya Samuel juga harus mengajak Riksa, awalnya dia mengira kalau Riksa masih akan sibuk berlibur bersama keluarga nya hingga besok. Tapi ada bagusnya dia kembali sekarang itu menurut Samuel.


Samuel kembali menutup pintu kamarnya dan beralih pada Naira yang sejak tadi hanya diam di kursi single dekat jendela. Dia hanya diam sambil melihat ke arah luar jendela.


"Ini pakaian mu, cepat ganti. Kita sudah tidak punya banyak waktu!" seru Samuel dan dengan cepat Naira menyambar apa yang diberikan Samuel lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Naira keluar dari kamar mandi dengan gaun berwarna hitam dan gold yang berpadu dengan cantik. Lengan sampai siku, meskipun ada belahan tapi itu di bawah lutut. Membuat Naira tampak sangat cantik dan elegan.


Samuel bahkan sempat terpana dan mematung gak berkedip selama beberapa saat. Mungkin dia menyadari kalau sebenarnya Naira itu juga adalah wanita yang sempurna untuknya, hanya saja dia masih terlalu sombong untuk mengakui itu.


"Ekhem... beriaslah sedikit dan kaku bisa tata rambutmu dengan benar!" seru Samuel.


Kali ini Naira bingung. Puspa memang pernah mengajarinya make up tapi dia tidak yakin untuk menata rambut.


"Mas, tapi aku belum...!" Naira menghentikan perkataan nya karena melihat sebelah alis Samuel yang sudah meninggi.


Tanpa banyak bicara Samuel mendekati Naira dan mendorongnya dengan cepat untuk duduk di meja rias.


"Baiklah, ini adalah keberuntungan mu. Kesempatan yang sangat langka seorang CEO perusahaan terbesar di kota ini akan merias mu!" seru Samuel mulai mengeluarkan peralatan make up yang pernah di jadikan seserahan untuk Naira.


"Kita mulai, pejamkan matamu dan jangan membuat mimik wajah berlebihan!" perintah Samuel.


Naira mengangguk patuh. Dia juga tidak mungkin kan membuat mimik wajah berlebihan.


Samuel mulai mengaplikasikan apa yang ada di tangannya ke wajah Naira, Samuel sering melihat Caren berdandan, jadi dia hanya mempraktekkan hal itu pada wajah Naira saat ini.


Samuel sempat tertegun ketika wajah yang memang sudah putih dan mulus itu menjadi semakin cantik di poles oleh make up tipis darinya. Dan ketika akan mengoleskan lipstik di bibir Naira. Tangan Samuel bergetar, dadanya berdegup kencang, Samuel bahkan menelan saliva nya dengan susah payah.

__ADS_1


Dan bukannya mengoleskan lipstik itu ke bibir Naira, Samuel malah menjatuhkan lipstik itu ke lantai.


Mendengar suara benda terjatuh Naira membuka matanya, tapi ketika matanya terbuka Samuel sudah berada sangat dekat dengannya dan sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Naira.


Naira terkejut, matanya terbelalak lebar. Tapi Naira hanya bisa diam dengan mata yang berkaca-kaca.


'Kenapa dia melakukan ini lagi, apa dia marah lagi?' tanya Naira dalam hati yang merasa bingung.


Tapi beberapa detik kemudian Samuel melepaskan Naira dan menatapnya kesal.


"Kenapa tidak membalas?" tanya Samuel seperti orang yang sedang mengeluh.


Naira bingung, dia mengerjakan matanya beberapa kali.


"Membalas?" tanya Naira tak mengerti.


"Apa kamu tidak pernah berciuman?" tanya Samuel dengan tatapan heran.


Naira menundukkan wajahnya, dia sangat malu mendengar pertanyaan Samuel itu. Tapi dengan menggelengkan kepalanya perlahan dia telah memberikan Samuel jawaban.


Mata Samuel melebar,


"Jadi malam itu juga adalah ciuman pertama mu?" tanya Samuel lagi memastikan.


"Baiklah, aku akan mengajari mu!" seru Samuel bersemangat.


Naira langsung mengangkat kepalanya dan membelalakkan matanya mendengar pernyataan Samuel barusan.


"Mas, tidak usah... tidak perlu...!" ucap Naira dengan cepat dan gugup. Naira bahkan melambaikan tangannya di depan dadanya berkali-kali sebagai isyarat kalau apa yang di tawarkan oleh Samuel itu seharusnya tidak perlu.


"Bangun!" seru Samuel menyela perkataan Naira, dari nada suaranya bahkan lebih cocok di sebut dengan membentak.


Dan seperti robot, Naira langsung berdiri dengan tegak. Karena dia juga terkejut. Setelah Naira berdiri, Samuel yang duduk di kursi di depan meja rias itu. Naira bergeser saat dia merasa berada terlalu dekat dengan Samuel.


"Agkh!" pekik Naira ketika Samuel menarik tangannya dengan tiba-tiba dan membuatnya terjatuh di pangkuan Samuel.


"Mas, aku bisa duduk di sana!" kata Naira menunjuk kursi single yang sebelumnya dia duduki.


Naira masih berusaha untuk bangun tapi Samuel menahan pinggang Naira dengan kedua tangannya.


"Ck.." Samuel berdecak kesal.

__ADS_1


"Kalau kamu duduk di sana, dan aku duduk di sini! bagaimana aku mengajari mu?" tanya Samuel.


Naira terkesiap, dia baru mengerti kalau Samuel benar-benar serius akan mengajarinya membalas ciuman Samuel. Naira menelan saliva nya lagi dengan susah payah.


Tangan Samuel beralih dari pinggang Naira ke belakang kepala Naira. Detak jantung Naira memacu sangat cepat, nafasnya bahkan sudah tak beraturan, telapak tangannya dingin seperti embun di pagi hari.


"Empht..!" Naira mencoba mendorong Samuel saat apa yang dia lakukan membuat Naira tidak bisa bernafas.


Menyadari reaksi Naira, Samuel pun melepaskan bibirnya lagi dari bibir Naira, dengan nafas yang menderu Samuel menempelkan keningnya dengan kening Naira. Mereka berdua sama-sama mengatur nafas mereka yang sempat tersengal.


"Sepertinya, kita tidak perlu menghadiri makan malam itu!" ucap Samuel membuat Naira lagi-lagi merasa terkejut.


Naira menarik dirinya meski tangan Samuel masih berada di belakang kepalanya.


"Kenapa?" tanya Naira heran.


"Karena kamu tak punya pakaian lagi untuk ke sana!" jawab Samuel dengan cepat.


Naira masih bengong, dia sungguh tidak mengerti. Dia melihat ke arah gaun yang dia kenakan.


"Tidak ingin tahu, apa alasannya?" Yahya Samuel.


Naira hanya terdiam, dia memang tidak tahu ada apa dengan gaunnya.


"Karena gaun mu robek!" lanjut Samuel dengan nafas yang kian memburu dan mata yang semakin memerah.


Brekk


Naira terkejut ketika gaun yang dia pakai di robek oleh Samuel dari bagian dadanya. Naira spontan berdiri sambil menutupi apa yang ada di depan dadanya dengan kedua tangannya.


Tanpa meminta ijin pada Naira lagi, Samuel menggendong Naira ke atas tempat tidur dan melampiaskan apa yang sudah dia tahan sejak Naira pertama kali berada di pangkuan nya tadi. Naira berusaha untuk menghindar, tapi kata-kata ajaib yang keluar dari mulut Samuel membuatnya hanya bisa memejamkan matanya saat Samuel melakukan apapun padanya.


Sementara itu Riksa yang di perintahkan untuk menunggu di mobil juga masih setia menunggu Samuel dan Naira di dalam mobil.


Satu jam kemudian,


Naira berharap kalau keinginan Samuel sudah selesai, dia mencoba merangkak turun dari tempat tidur ketika Samuel sudah menjatuhkan dirinya ke samping Naira, tapi sayang tangannya kembali di tarik oleh Samuel.


"Belum selesai Naira, kemari lah!" ucap Samuel dengan nafas yang tersengal-sengal tapi masih bisa dengan kuat menarik tangan Naira dan membuat wanita itu kembali berada di pelukan nya.


Author POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2