
Dengan langkah yang sedikit ragu, Vina memberanikan dirinya menghampiri Adam yang terlihat hanya duduk diam dengan kedua siku tangan yang bertumpu pada pegangan kursi rodanya dan matanya hanya menatap ke arah bunga-bunga asoka yang sedang mekar dekat dengan tempatnya berada saat ini.
Vina pun tak sengaja menginjak sebuah ranting kering yang terjatuh di lantai, ranting kering yang memang nyaris tak terlihat karena tertutup daun mangga dan rambutan kering yang berjatuhan di tanah. Juga tak kan menjadi perhatian siapapun karena siapa juga yang akan perduli pada keberadaan sebuah ranting kering yang mudah patah dan tak berguna lagi.
Kretek
Adam langsung menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat siapa yang menyebabkan suara yang mengganggu keheningan nya itu. Adam segera memalingkan pandangan nya lagi ke arah tadi pertama dia memandang. Mungkin menurutnya lebih menyejukkan memandang bunga-bunga yang sedang mekar daripada memandang Vina.
"Apa aku mengganggu mu?" tanya Vina yang langsung duduk di kursi yang letaknya tak jauh dari posisi Adam. Kursi itu bahkan adalah kursi dimana tempat ayah dan ibunya tadi duduk saat bicara pada Adam.
"Langsung saja katakan apa mau mu? aku tidak suka orang yang bicara bertele-tele!" jawab Adam.
Vina mengangkat kedua alisnya karena terkejut. Menurut Vina, Adam itu memang orang yang sulit untuk di ajak bicara.
'Pantas saja semua orang seperti tidak tahu tentang Adam, ternyata memang pria ini yang bermasalah. Dia galak sekali!' gumam Vina dalam hati.
"Aku sudah baca surat perjanjian yang kamu buat dengan orang tua ku, aku lihat bagian pembayaran sanksi dan denda...!"
Adam lagi-lagi harus di hadapkan pada masalah ini. Dia benar-benar tidak senang. Pasti masalah pekerjaan nya lagi.
Karena kesal, sebelum Vina selesai bicara Adam pun menyela dengan nada suara agak tinggi.
"Memang apa salahnya, aku atau orang tuaku yang bayar semua denda apa masalahnya untukmu. Kamu juga tetap akan dapatkan pembayaran dendanya, kamu tidak akan rugi!" seru Adam tanpa melihat ke arah Vina.
Namun Vina yang mendapatkan bentakan dari Adam itu sama sekali tidak marah. Malah dia merasa kasihan pada Adam, karena sepertinya pria yang saat ini statusnya sudah menjadi suaminya itu terlihat seperti seseorang yang sangat tertekan dan mempunyai masalah yang lumayan berat namun dia tidak bisa menyelesaikan masalah itu ataupun menceritakan nya pada orang lain. Tanpa sadar tangan Vina pun terulur dan menepuk bahu Adam perlahan.
"Maafkan aku, aku tidak akan bertanya tentang hal ini lagi padamu!" setelah mengatakan hal itu Vina langsung berdiri dan berlari menjauh dari Adam.
Vina pergi bukan karena dia sedih, tapi dia ingin memberi Adam ruang untuk melanjutkan apa yang tadi dia lakukan. Vina merasa kalau kedatangan nya mungkin malah mengganggu Adam. Tapi Adam yang melihat Vina berlari mengira wanita itu akan menangis karena Adam sudah membentaknya tadi.
__ADS_1
Adam lantas memukulkan tangannya ke udara.
"Sial! baru saja orangtuanya bilang jangan membuatnya menangis. Huh... wanita memang makhluk yang paling merepotkan!" keluh Adam lalu berusaha mengejar Vina dengan perlahan menggunakan kursi rodanya.
Vina yang sudah tiba di dalam kamar hanya diam sambil bersandar di belakang pintu kamarnya.
"Apa yang ku lakukan? aku sudah menyinggung nya. Baru sehari aku disini, masa iya harus membuat keributan dengannya. Huh... mandi saja dulu lah, berendam dengan wewangian akan membuat pikiran ku tenang!" ucap Vina lalu meraih ponsel dan headset miliknya yang ada di atas meja.
Vina lalu masuk ke dalam kamar mandi, setelah mengisi bathub dengan air dan wewangian kesukaan nya, Vina meletakkan semua pakaian nya di tempatnya. Dia masuk ke dalam bathtub lalu memposisikan dirinya berbaring. Setelah sangat nyaman, dia menyalakan musik kesukaannya dan memakai headset lalu memejamkan matanya. Sesekali dia bersenandung mencoba untuk membuat pikiran, tubuh dan hatinya menjadi rileks.
Beberapa saat kemudian, Adam pun sampai ke depan pintu kamar miliknya. Sejak pulang dari rumah sakit tadi, dia memang belum sekalipun masuk ke dalam kamarnya.
"Sulit sekali bergerak dengan kursi roda ini. Menyebalkan!" keluh Adam lalu membuka pintu kamarnya perlahan.
Ceklek
Mata Adam mulai melebar ketika melihat kamarnya yang tengah berubah seratus delapan puluh derajat. Cat tembok yang awalnya berwarna putih dengan segala asesoris dan furniture berwarna hitam. Kini cat tembok kamarnya berwarna biru pastel dan juga semua barang bercampur ada yang warna hitam, tentu saja itu adalah barang-barang milik Adam, berdampingan dengan barang-barang milik Vina yang kebanyakan warna biru dan pastel.
"Astaga!" pekik nya.
"Bibi Merry! Bibi Merry!" teriak Adam memanggil bibi Merry kepala asisten rumah tangga di kediaman Virendra ini.
Dari dalam kamar mandi sebenarnya Vina juga merasa mendengar suara lain selain suara musik yang memang dia putar dari ponselnya.
Tapi setelah membuka mata dan melihat ke arah pintu kamar mandi, Vina memilih untuk menutup matanya lagi dan kembali pada kegiatan menyenangkan nya.
Sementara di kamar Adam, dia sudah melempar semua barang-barang Vina dari atas meja kerjanya, dan meja riasnya.
"Ini kamar ku, beraninya kalian mengacak-acak kamar ku seperti ini!" teriak Adam yang masih sangat emosi melihat perubahan yang terjadi di dalam kamarnya.
__ADS_1
Mendengar teriakan Adam itu, bukan hanya bibi Merry. Tapi Puspa dan Naira juga ikut datang ke kamar Adam. Di susul oleh Stella yang begitu terkejut karena dia baru saja memejamkan matanya untuk tidur siang.
"Adam, apa-apaan ini?" tanya Stella yang begitu terkejut melihat kamar Adam yang acak-acakan.
Bibi Merry dan yang lain tidak berani masuk, Puspa bahkan langsung menarik Naira kembali ke dalam kamarnya ketika melihat Adam mengamuk. Dia tidak mau ambil resiko kalau sampai Naira terkena lemparan barang dan kaca yang jatuh ke lantai oleh Adam.
Adam masih terus melemparkan barang-barang Vina ke lantai. Bahkan beberapa botol parfum mahal hadiah dari Stella untuk Vina juga tak luput dari kekesalan Adam.
"Adam, cukup nak. Hentikan!" teriak Stella pada Adam.
Namun teriakan Stella tak cukup untuk menghentikan Adam. Dia terlalu kesal karena menurutnya kamarnya adalah privasinya dan ketika melihat kamarnya menjadi seperti tempat asing baginya, hal itu membuat Adam sangat kesal.
"Adam sudah nak, kamu akan terluka nanti!" teriak Stella lagi yang takut kalau pecahan barang-barang itu akan melukai Adam sendiri nantinya.
Namun tak juga hal itu di dengarkan oleh Adam yang memang sedang kesal. Sampai dia mendapati parfum lain berwarna pink dan dia kesal sekali melihat warna itu ada di atas meja kerjanya. Dia meraih botol kristal itu lalu melemparkannya ke arah dinding dekat pintu kamar mandi.
Prang
"Augh!" pekik Vina yang kebetulan membuka pintu kamar mandi dan hanya memakai jubah mandi.
"Vina!" teriak Stella yang melihat menantu bungsunya memegang dahinya yang ada cairan merah saat tangan yang menyentuh kening itu di jauhkan oleh Vina.
Melihat dahinya berdarah dan terluka, Vina begitu terkejut dan akhirnya.
Brukk
"Vina!" teriak Stella yang langsung mendekati Vina yang sudah pingsan dan jatuh ke lantai.
***
__ADS_1
Bersambung...