
Riksa membantu ku untuk bangun, seperti nya tidak terlalu parah. Entah memang hanya karena keseleo ringan atau karena tadi sudah di sembuhkan oleh Riksa. Mungkin saja kan, karena ketulusan dan sentuhan dari tangan dingin Riksa, nyerinya jadi minder. Terus kabur deh.
"Sudah tidak sakit lagi! wah kamu hebat Riksa!" seru ku senang sambil menepuk-nepuk lengan Riksa dengan pelan.
Riksa melihat ke arah tangan ku yang menepuk lengannya, membuat aku merasa tidak enak, dan langsung menarik tangan ku itu.
"Em, maaf. Aku akan mandi. Sebentar ya!" seru ku pada Riksa dan kurasa saat aku mengatakannya wajah ku memerah.
Riksa Nugraha POV
Aku sedang melihat kepergian Naira ke kamar mandi, seperti nya kamar mandi dan kamarnya terpisah. Aku jadi ingat saat aku tinggal di rumah bibi dan paman ku yang kecil dan seperti ini juga. Dengan segala keterbatasannya.
Tadi pagi, bos bahkan membangunkan aku dengan terus menghubungi ku tanpa jeda. Dia bahkan melakukan panggilan puluhan kali. Padahal itu baru jam 4 pagi. Aku rasa dia bahkan belum tidur, dia pasti habis bicara dengan nona Caren, dia pasti melakukan panggilan telepon sampai subuh lagi.
Dan setiap itu terjadi, maka bos akan membatalkan semua pertemuan bisnis dan memerintahkan agar aku melakukan semua pekerjaan nya. Sebenarnya tak masalah bagiku, tapi kenapa nona Caren tidak menghubungi bos saat siang hari saja. Perbedaan waktu antara tempat tinggal nona Caren sekarang dengan bos juga tidak terlalu jauh. Hanya sekitar tiga sampai empat jam saja. Lalu kenapa nona Caren tidak pernah mau di hubungi kurang dari jam dua malam. Atau jika siang hari pun, harus nona Caren yang menghubungi bos.
Menurut ku itu sangat aneh, tapi meskipun aku mengatakan itu pada bos. Dia juga tidak akan mendengarkan. Dia benar-benar di buatkan oleh cinta nona Caren yang aku sendiri pun ragu, wanita itu tulus atau tidak. Karena dulu saat bos sakit selama seminggu, dia bahkan tidak pulang untuk menjenguk bos. Menelpon pun hanya kalau dia sempat. Menurut ku itu aneh, tapi menurut bos tidak sama sekali.
Dan kembali pada Naira, dia ini jauh berbeda dari nona Caren yang begitu sombong dan pemarah. Aku bahkan lebih setuju kalau yang menjadi kekasih bos itu adalah Naira.
Saat aku datang, gadis polos itu hanya memakai piyama tidur yang menurut ku sangat tipis dan handuk di pundaknya. Jika itu wanita lain, tidak akan tampil secuek itu pada orang lain kan? tapi entahlah, mungkin disini memang seperti itu. Mungkin aku memang tidak terbiasa dengan kebiasaan nya. Tapi bos pasti akan mengomel jika itu terjadi di rumahnya. Tanpa alas kaki, memakai piyama tidur dan handuk seperti itu. Nyonya Samuel tidak boleh terlihat seperti itu.
Aku berfikir, aku harus sedikit merubah kebiasaan Naira agar lebih menarik di mata bos.
Ceklek
__ADS_1
Aku mendengar suara pintu terbuka, aku yakin Naira sudah keluar dari dalam kamar mandi. Aku juga mendengar langkah kaki seseorang yang berlari. Aku rasa dia berlari masuk ke dalam kamarnya.
Aku menggeleng kan kepala ku. Bos tidak akan menyukai tingkah Naira ini, meskipun sebenarnya menurutku malah sangat lucu.
Aku masih menunggunya sambil duduk di sofa ruang tamu, tempat kemarin malam aku juga duduk disini. Aku memandangi sekeliling ku. Rumah Naira ini memang tidak besar, namun sangat rapi dan terlihat unik. Seperti nya ayah Naira menyukai benda-benda tua, dari mulai lukisan, motif langit-langit nya dan juga ada beberapa hiasan dinding berupa kaligrafi tapi sangat unik dan langka. Mungkin dia membuat nya sendiri.
Pandangan ku lalu beralih ke sebuah foto yang berada di pojok dinding, sepertinya itu foto keluarga. Aku mendekatinya dan melihatnya.
Aku tersenyum, disana ada dua orang dewasa dan dua orang anak kecil, aku rasa gadis dengan kuncir dua dan memegang boneka Winnie the Pooh itu adalah Naira. Dan dalam foto itu dia sedang tersenyum sangat lebar, hingga gigi nya yang ompong atau sebutan lainnya gigis itu terlihat sangat jelas.
"Dia lucu sekali!" gumam ku.
"Riksa, aku siap!" suara Naira membuat ku memalingkan pandangan ku dari foto Naira ke arah Naira yang sebenarnya.
Aku melihat nya lagi. Aku harus berbuat apa pada gadis ini. Bukan kah dia sudah tahu kalau kami akan pergi ke butik, dia malah memakai kaos berkerah bergambar balon, dan juga celana jeans panjang, dan sepatu flat.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" ajak ku melangkah ke arah pintu keluar.
"Oh ya, Riksa. Bisakah kita mampir ke sekolah dulu. Aku harus memberikan kunci rumah pada ayah!" seru nya padaku sambil mengikuti langkah ku.
"Baiklah!" jawab ku singkat.
Kami sedang berada di dalam mobil, aku akan mengantarkan Naira ke sekolah tempat ayah nya bekerja.
Sepanjang jalan dia bersenandung, dan dia terlihat begitu senang. Seperti nya pernikahan kontrak dengan bos tidak terlalu membebaninya.
__ADS_1
"Oh ya Nai, kamu juga sekolah di tempat ayah mu bekerja itu ya?" tanya ku membuka percakapan dengan Naira.
Dan aku melihat gadis itu mengangguk dengan cepat dan bersemangat.
"Iya, aku sekolah disana, Ibras adikku juga. Rasanya sangat menyenangkan sekali. Aku tidak akan merasakan terlambat karena aku harus bangun saat yang membuka pintu gerbang sekolah ku bangun, lalu aku juga tidak perlu membawa uang jajan saat sekolah, karena yang menjual jajanan adalah ibu ku!" ucapnya lalu terkekeh begitu senang.
Aku jadi ikut tertawa bersama dengan nya, dia ini mudah sekali membuat sekeliling nya terbawa apa yang dia rasakan. Saat dia senang, aku bahkan ikut tertawa, dan kemarin saat dia bingung dan panik. Aku juga bisa terbawa. Gadis ini sungguh menarik, aku harap bos bisa merasakan itu.
"Eh Riksa, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya nya dan aku langsung mengangguk sebagai jawaban ku untuknya.
"Kamu sudah berapa lama bekerja dengan si lidah ta.. em maksudku bos mu?" tanya nya berhati-hati.
Aku sempat terkekeh, dia bahkan menyelipkan julukannya pada bos. Dia memberi julukan si lidah tajam pada bos. Aku tidak tahu, akan marah seperti apa, saat bos mendengar ini.
"Lumayan lama, hampir tujuh tahunan!" jawab ku jujur.
"Hah!" dia malah terkejut dan membuka mulutnya lebar-lebar. Sedetik kemudian dia menutup nya lagi. Kurasa dia menyadari kalau mulutnya terbuka terlalu lebar.
Dia menggelengkan kepalanya.
"Riksa, kamu hebat!" ucap nya dengan suara yang sepertinya kaget atau tak percaya.
Riksa Nugraha POV end
***
__ADS_1
Bersambung....