Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
140


__ADS_3

Aku masih diam melihat apa yang di lakukan oleh Kenzo. Dia meletakkan sendok nya kembali di atas piring. Aku hanya melihat sendok yang tadi bekas di pakai olehnya. Aku tidak mungkin menggunakan nya lagi kan.


"Maaf, aku sudah kenyang. Aku akan kembali ke kamar!" ucapku lalu berdiri dari kursi ku.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya nya padaku.


Dia berdiri di depan ku sebelum aku bisa melangkah maju.


"Aku melihat suami mu, di lobi. Dan Caren tadi juga bilang mau pergi sebentar untuk belanja. Apa kamu tahu artinya?" tanya Kenzo.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Caren tadi memang bilang kalau dia akan pergi dengan Samuel. Aku masih berusaha untuk tenang padahal tangan dan kaki ku sudah gemetaran. Aku tak habis pikir kenapa aku begini, rasanya sangat tidak senang mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo.


"Apa kamu akan diam saja?" tanya Kenzo lagi.


Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana.


"Tuan muda Hasigawa...!"


"Panggil saja aku Kenzo!" potong nya menyela ucapan ku.


"Aku akan kembali ke kamar ku, terimakasih sudah begitu perduli, permisi!" ucap ku dan langsung melewati pria itu begitu saja.


Aku mendengus kesal saat keluar dari dalam restoran. Kenapa sih saat makan saja, mereka berdua membuatku tidak nyaman. Aku memutuskan untuk mengambil tas berkeliling di dekat dekat hotel ini saja. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa kalau Samuel mau janjian dan bertemu di luar dengan Caren. Dalam surat perjanjian aku tidak punya hak untuk itu.


Setelah sampai di lantai dimana kamar ku berada. Aku masuk ke dalam kamar. Dan benar saja, aku tidak melihat Samuel.


"Ck... sudahlah!" gumam ku sambil mengangkat bahu ku sekilas.


Tapi baru saja aku akan keluar, pintu kamar mandi terbuka dan terdengar suara.


"Mau kemana kamu?" tanya sebuah suara yang membuatku langsung menoleh ke arah belakang.


'Loh, Samuel. Bukannya tadi dia dan Caren?' tanya ku dalam hati.


"Mas, bukannya mas dan Caren tadi...!"


Aku belum selesai bicara ketika Samuel mendekat dan menggenggam ke dua tangan ku dengan kedua tangannya.


Aku terkejut dan tak dapat berkata-kata, ketika dia menuntun kedua tangan ku itu ke dekat wajahnya dan menciumnya. Aku mengerjap pelan masih tak percaya dengan apa yang aku lihat.

__ADS_1


"Iya, tadi dia memang kemari dan minta aku menemaninya ke dokter karena merasa tidak nyaman dengan perutnya, tapi aku sudah meminta manager hotel menemaninya!" jelas Samuel.


"Sakit perut? ke dokter? tapi kata Caren, kamu dan dia...!"


'Oh, astaga! apa Caren berbohong padaku? tapi untuk apa dia melakukan nya. Kalau dia tidak berbohong pun, mas Samuel akan tetap perduli padanya kan?' tanya ku.


"Mas menolak pergi, karena akan ada acara lain?" tanya ku memastikan apa yang lebih penting daripada menemani Caren bagi mas Samuel.


Dan Samuel pun mengangguk lalu melepaskan satu tangan ku, lalu dengan tangan kanannya mengelus pipi ku dengan lembut. Mataku terus melihat ke arah mana tangan Samuel itu bergerak. Rasanya tak percaya, dia bersikap lembut begini padaku.


"Ada, aku ingin mengajak istriku jalan-jalan hari ini!" ucapnya membuat mataku terbelalak sempurna.


'Mimpi apa orang ini, apa karena tidur dengan posisi duduk. Otaknya bermasalah?' tanya ku dalam hati.


Aku lalu mundur selangkah.


"Em mas, tidak perlu. Aku bisa jalan-jalan sendiri kok. Dekat-dekat sini saja!" ucap ku.


"Kalau begitu ayo!" ajaknya lalu menggandeng tangan ku dan keluar dari kamar hotel.


Aku hanya bisa mengikuti langkah Samuel. Aku tidak percaya ini benar-benar Samuel. Tapi tidak buruk juga kalau dia mau mengajak ku jalan-jalan.


"Kamu sudah sarapan kan?" tanya Samuel.


Aku mengangguk sebagai jawaban nya karena dia juga sedang melihat ke arahku.


"Mau eskrim?" tanya nya.


Aku sedikit mengernyit heran.


'Ini orang beneran salah makan ini kayaknya!' gumam ku dalam hati.


Aku juga mengangguk, karena aku memang suka eskrim.


Samuel lalu mengajakku ke tempat penjual eskrim gulung. Kami bahkan bisa melihat cara penjual itu membuat es krimnya. Benar-benar dari buah asli yang langsung di potong-potong di sebuah alat yang berbetuk seperti meja. Tapi begitu susu cair di ruang di atasnya langsung membeku dalam beberapa detik. Buah yang sudah terpotong lalu di campur dengan susu, di ratakan kemudian dengan alat yang seperti pisau di bentuk menggulung lalu di masukkan ke dalam cup.


Wah, aku tidak bisa menutupi ekspresi takjub karena aku baru pertama kali melihat ini secara langsung. Ini sungguh luar biasa. Samuel memesan rasa mangga, aku juga. Dan beberapa saat kemudian eskrim kami pun jadi.


"Bagaimana rasanya?" tanya Samuel.

__ADS_1


"Enak!" jawab ku sambil terus menyendok eskrim yang aku pegang.


"Kita duduk disana!" ajak Samuel dan aku mengikuti nya.


Disebuah bangku panjang di pinggir pantai, aku dan Samuel duduk. Samuel memposisikan dirinya menghadap ke arahku.


"Pertemuan di tunda sampai jam dua siang. Kita bisa jalan-jalan sebelum itu!" ucapnya lagi.


Aku hanya mengangguk, saat Samuel mengatakan itu.


"Kamu sudah tidak marah lagi kan?" tanya nya membuat ku menghentikan kegiatan ku memasukkan eskrim ke mulut tanpa jeda terhenti.


Aku lalu menoleh ke arahnya.


"Memangnya aku boleh marah pada mu?" tanya ku pada Samuel.


Dia malah mengangkat sebelah alisnya.


"Maksud mu?" tanya nya balik.


"Dalam surat perjanjian itu, aku kan tidak punya hak apapun, marah padamu, protes padamu, tidak boleh kan?" tanya ku.


Dan Samuel lalu mengganti posisi duduknya menjadi menghadap ke arah depan. Dia meletakkan cup eskrim yang dia pegang di samping dia duduk.


"Aku menyadari satu hal Naira, aku tidak suka kamu mengacuhkan aku. Bukan karena kamu tidak berhak marah, tapi...!" Samuel menghentikan ucapannya dan menatap ke arah ku lagi.


Sedikit lama, dan dia belum melanjutkan apa yang dia katakan, membuatku jadi makin penasaran apa sih yang mau dia bilang.


"Tapi apa?" tanya ku tak sabar.


"Ck... banyak bertanya! sudahlah. Ayo kita lihat-lihat disana!" seru Samuel menarik tangan ku dan mengajak ku ke sebuah gerai kecil penjual topi pantai.


"Eh!" aku terkejut dan hampir saja menjatuhkan eskrim ku.


Dia ini bagaimana sih, belum juga selesai ngomong. Aku malah jadi makin penasaran kan. Kalau bukan karena itu lalu apa alasan dari perubahan sikapnya ini padaku.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2