
Author POV
Adam masih terus menunggu jawaban dari kakak nya yang terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan Adam itu dengan jujur.
"Sudah ku duga!" cibir Adam dan memalingkan wajahnya dari Samuel.
Samuel merasa tak ada gunanya mengelak, toh adiknya ini juga akan tahu kalaupun dia berbohong. Jadi lebih baik Samuel mengaku saja pada Adam.
"Aku sedang berusaha...!"
"Usaha membohongi ibu juga ayah?" tanya Adam menyela perkataan yang baru saja akan di utarakan oleh Samuel.
Samuel melihat Adam begitu emosional, dan dia sadar kalau hal ini akan berakibat tidak baik bagi adiknya itu. Samuel berusaha untuk memendam egonya dan berjalan mendekati Adam.
"Kamu belum pernah mencintai seseorang kan? karena itu kamu tidak akan mengerti apa yang saat ini aku rasakan!" ujar Samuel dengan pelan dan sangat berhati-hati.
Adam masih berusaha untuk tidak emosional, tapi dia sangat kesal pada kelakuan kakaknya ini yang bukan hanya sekali berani berbohong pada keluarga nya demi wanita bernama Caren itu.
"Aku benar-benar sedang berusaha, saat ini aku akan jujur padamu kalau aku belum mencintai Naira, tapi aku janji padamu aku akan berusaha membuka hati ku untuknya!" ucap Samuel menenangkan adiknya.
Samuel tahu kalau Adam sangat membenci Caren, masalah itu berawal ketika Caren tidak tahu kalau Adam adalah adik Samuel. Dan memperlakukan Adam dengan tidak baik. Caren menghinanya karena pernah bertemu dengan Adam di pusat rehabilitasi.
"Kurasa kamu sudah terlambat kak!" ucap Adam yang membuat Samuel menarik tangannya dari bahu Adam.
Samuel terkejut, apa yang dimaksud oleh adiknya itu. Apa yang sudah terlambat?
"Maksud mu?" tanya Samuel.
"Kurasa calon istri mu menyukai Riksa!" ucap Adam pada Samuel.
Samuel cukup terkejut, dia bahkan tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Tapi menurut apa yang diketahui olehnya, Riksa itu seorang yang sangat gila kerja. Dan mereka berdua sama-sama mengenal Naira baru dalam hitungan hari. Bagaimana mungkin hal itu terjadi.
Samuel terkekeh.
"Itu tidak mungkin Adam, Riksa tidak akan melakukan itu!" jelas Samuel menyampaikan apa yang diyakini nya pada adik kandung nya itu.
"Aku melihat mereka berpelukan di lift...!"
__ADS_1
Belum selesai Adam bicara, Samuel tampak kesal dan langsung keluar dari dalam kamarnya itu.
"Bagus kak, kamu harus menyadari nya. Aku tahu kamu dan Naira, masalah kalian tidak semudah itu!" gumam Adam di dalam kamarnya.
Tak lama Samuel keluar dari kamarnya, tiba-tiba Riksa masuk ke dalam kamar itu.
"Maaf tuan muda, apa bos tadi disini?" tanya Riksa berhati-hati.
Adam menghampiri Riksa.
"Iya, tadi dia disini. Aku sudah katakan apa yang tadi kulihat pada kakak ku. Riksa, kakak ku sangat percaya padamu. Ku tanyakan sekali lagi, apa kamu menyukai calon kakak ipar ku itu?" tanya Adam langsung pada poin utamanya.
Tak butuh waktu yang lama, Riksa langsung membuka suaranya.
"Seperti yang anda dengar tadi tuan muda, meskipun Naira menyukai ku. Aku tidak akan mengkhianati bos! kita memang tidak terlalu mengenal tuan muda, tapi aku mengenal bos ku dengan baik, begitu pula sebaliknya!" jelas Riksa dengan wajah tegas dan serius.
Hubungan Riksa dan Adam memang tak sebaik hubungan Riksa dan Samuel, tapi Riksa sangat menghormati dan menghargai Adam.
"Aku akan pegang perkataan mu itu!" tegas Adam dan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu.
"Oh ya, kamu sedang mengumpulkan bukti perbuatan tercela Caren bukan?" tanya Adam dengan wajah datar.
Riksa cukup terkejut mendengar pertanyaan dari Adam itu. Tapi dalam beberapa detik, dia berusaha merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa lagi.
"Aku akan membantu mu, nanti di ulang tahun Caren, kamu atur saja agar kakak mendatanginya di Singapura. Sisanya sudah di urus oleh anak buah ku!" ucap Adam lalu segera keluar dari kamar itu.
Riksa benar-benar terkejut, dia mengira selam ini tuan muda nya itu hanya tinggal di luar kota untuk menenangkan diri. Tapi ternyata dia mengetahui semua yang Riksa kerjakan.
Awalnya Riksa ingin menjelaskan apa yang terjadi tadi pada Samuel karena itu dia mencari Samuel. Tapi sepertinya dia sudah terlambat. Dan dia tahu, jika Naira lah yang akan menanggung akibat kecerobohan nya itu.
***
Sementara itu, Samuel sedang mencari Naira di kamar riasnya. Tapi dia tidak menemukan nya.
"Dimana Naira?" tanya Samuel tiba-tiba yang hanya melihat Puspa dan dua asisten nya di dalam kamar itu.
Puspa yang terkejut, langsung berdiri dan menoleh ke arah Samuel.
__ADS_1
"Hei, ada apa? bukannya kalian pemotretan di roof top. Satu jam lagi kalian harus ganti pakaian dan...!"
Belum juga Puspa selesai dengan apa yang ingin dia katakan. Samuel malah langsung keluar dari kamar itu dengan membanting pintu.
Blam!
"Astaga!" pekik Puspa yang terkejut.
'Huh, ada apa ini sebenarnya? dia terlihat sangat kesal. Semoga Naira akan baik-baik saja!' batin Puspa ulang sudah mengenal perangai dari sahabat nya itu.
Tak menemukan Naira di kamar mereka, Samuel memutuskan untuk mencari Naira di tempat lain. Tapi Samuel tidak mencari Naira di kamar orang tuanya atau adiknya, karena dia yakin Naira tidak akan berada disana.
Samuel berfikir di depan lift, dimana Adam mengatakan melihat Naira pergi setelah memergokinya memeluk Riksa.
"Akan kemana dia, kalau mau ke atas selain menaiki lift...!" gumam Samuel.
Akhirnya Samuel menyadarinya, dia yakin kalau Naira akan naik tangga darurat. Samuel kemudian membuka pintu tangga darurat dan mulai menaiki anak tangga yang ada di hadapannya satu demi satu dengan cepat. Dan langkahnya terhenti ketika dia sampai di tangga menuju lantai tiga.
Dia melihat Naira tertidur sambil menyandarkan kepalanya ke dinding gedung. Dia terlihat sangat lelah. Samuel hanya diam mematung memandangi Naira, niat awalnya adalah dia ingin melampiaskan kekesalannya dan kemarahan nya pada Naira. Tapi setelah melihat wajah polos Naira ketika tidur, Samuel malah memilih untuk pergi meninggalkan Naira tanpa berniat membangunkannya.
Tapi baru berjalan dua langkah dia berhenti dan kembali berbalik.
'Tidak, aku tidak boleh lemah. Dia salah, artinya dia harus di hukum!' batin Samuel menjadi keras lagi.
Samuel kembali menghampiri Naira dan membangunkannya. Tidak dengan lembut atau dengan tangannya, Samuel bahkan menggunakan kakinya untuk menggoyang-goyang kan kaki Naira.
"Eh...!" seru Naira kaget yang baru membuka matanya.
Naira mengucek matanya dan langsung berdiri ketika dia sadar yang ada di hadapannya adalah Samuel.
"Tu... tuan!" ucapnya gugup.
"Apa yang kamu dan Riksa lakukan di dalam lift?" tanya Samuel dengan nada yang begitu tinggi hingga membuat Naira memejamkan matanya ketakutan.
***
Bersambung...
__ADS_1