
Aku mulai memikirkan apa yang akan aku minta pada Samuel. Bagaimana kalau aku minta agar dia menghapus hutang ku saja. Bukan kah aku tidak perlu menjadi istri kontrak nya lagi. Benar, itu saja.
Tapi baru aku mau membuka mulut ku untuk bicara, Samuel yang masih menggosok lengan ku dengan sabun mandi beraroma lembut mirip vanila lebih dulu menyela.
"Asalkan bukan meminta kita mengakhiri kontrak dan menghapus semua hutang mu!" seru Samuel.
Aku menoleh sedikit ke arahnya dan mengernyitkan dahi ku. Kenapa seperti dia bisa membaca pikiran ku. Kenapa dia bisa tahu apa yang akan aku minta padanya.
Samuel terkekeh pelan saat melihat ekspresi wajah ku.
"Dari ekspresi wajah mu aku tahu, kalau itu yang kamu pikirkan bukan?" tanya nya dan aku memilih untuk memalingkan wajah ku.
'Kenapa dia bisa tahu!' gumam ku dalam hati.
Tangannya semakin lembut menggosok seluruh tubuh ku, rasanya aku tidak percaya dengan semua ini. Dia seperti sudah terampil, apa dia pernah melakukan ini pada Caren. Aku jadi bertanya-tanya sendiri dalam hatiku.
Saat tangan Samuel sampai di perut ku, aku menahan tangannya.
"Mas, biar aku saja!" ucap ku perlahan.
Rasanya sangat tidak nyaman, ketika kulit tangan Samuel menyentuh bagian itu.
"Kamu yakin?" tanya nya memastikan.
Aku mengangguk pelan, dan dia memberikan spons mandi itu padaku. Aku mengira dia kan keluar tapi ternyata tidak, dia mengambil spons mandi yang lain dan menggosok kaki ku. Rasanya sangat canggung.
"Mas... kurasa...!"
"Kenapa, bukankah aku juga bahkan sudah menyentuh seluruh tubuh mu!" ucapnya membuat ku langsung mengunci mulut ku rapat-rapat.
Sebenarnya bukan karena hal itu, tapi karena aku merasa tidak enak saja, tidak pantas saja kalau dia menyentuh kaki ku dan membersihkannya seperti itu, bukan masalah bagian mana yang dia belum sentuh.
Beberapa menit kemudian, Samuel bahkan membantuku saat akan membilas semua busa sabun di tubuh ku. Dia bahkan membantu ku mencuci rambut dan setelah itu memakaikan jubah mandi. Setelah itu Samuel menggendong ku lagi dan membawa ku keluar dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Setelah keluar dari kamar mandi, Samuel mendudukkan aku di tepi tempat tidur. Dan berjalan ke arah lemari, dia lalu mengambil sebuah dress berwarna hijau tua, dan juga pakaian dalam.
Aku bahkan dibuat lagi-lagi terkejut, saat dia bahkan membantu ku berpakaian. Aku berusaha menolak dan mengatakan aku bisa melakukan nya sendiri, tapi dia bersikeras untuk membantu ku.
Saat aku sudah ganti baju, dia kembali mengambil sisir dari atas meja rias dan merapikan rambut ku.
"Apa sudah kamu pikirkan, selain hal yang ku sebutkan tadi, aku akan mengabulkan permintaan mu!" ucap Samuel lagi.
Apa yang Samuel katakan membuat ku kembali berpikir. Kalau tidak bisa lepas darinya selamanya, bagaimana kalau aku menjauh darinya sebentar. Sebenarnya meski sikapnya hari ini begitu lembut, tapi rasa sedih dan sakit akibat perlakuan nya semalam masih membekas di dalam hati ku.
Benar juga, aku akan meminta agar bisa menjauh darinya sebentar.
"Aku ingin pulang!" ucapku ragu sambil menundukkan wajah ku.
Samuel yang awalnya berdiri dan merapikan rambut ku, terdiam sejenak lalu berjongkok di depan ku.
"Kamu mau pulang? tapi ini kan rumah mu!" ucapnya setelah menanyakan lagi tentang apa yang aku katakan tadi.
"Ke rumah ayah!" lanjut ku sambil menatap sayu pada Samuel.
Dia masih menatap ku, tapi dia terdiam.
"Baiklah, siang ini aku akan mengantar mu ke rumah ayah dan nanti malam aku akan menjemputmu!" ucapnya lalu bangkit berdiri.
"Aku ingin satu minggu berada di rumah ayah!" ucap ku lagi hingga membuat Samuel yang hendak berjalan ke arah meja rias, kembali berbalik melihat ke arah ku.
Dan kali ini tatapan itu kembali ke tatapan Samuel yang seperti biasanya. Penuh dengan penindasan dan sangat dingin.
"Kamu bilang apa?" tanya nya dingin.
Aku bisa melihat kalau rahangnya mengeras, tapi setelah aku kembali menunduk, dia terlihat mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah, baik. Akan ku tambahkan satu hari lagi, kamu bisa menginap semalam di rumah ayah mu tapi besok siang aku akan menjemputmu!" ucap nya dengan nada yang sudah terdengar seperti orang yang tidak senang.
__ADS_1
Aku kembali mengangkat kepala ku dan melihat ke arahnya lagi.
"Satu minggu saja, kamu bilang akan mengabulkan...!"
"Naira, baiklah. Dua hari. Aku harap kamu bukan tipe orang yang di kasih hati malah minta jantung!" serunya dengan wajah serius.
Tapi aku juga tidak mau mengalah begitu saja. Bukankah dia yang bilang akan mengabulkan permintaan ku apa saja selain meminta agar dia menghapus hutang ku dan melepaskan ku dari kontrak itu. Aku harus berjuang demi kebebasan ku yang sebentar itu.
"Satu minggu mas, kalau tidak mau mengabulkan kenapa mengatakan aku boleh meminta apapun!" ucapku dengan sedikit rasa kesal dalam hatiku.
Samuel kembali mengusap kepalanya kasar.
"Ck... kalau begitu tiga hari. Tidak ada tawar menawar lagi!" ucapnya dan dia mulai meninggikan nada suara nya.
Aku langsung memalingkan wajah ku.
"Tidak mau!" ucap ku tetap kekeuh pada pendirian ku.
Samuel mengusap wajahnya kasar, aku tidak mengerti juga kenapa terlihat tidak rela membiarkan aku pergi dari sini. Padahal dia juga tidak menyukai ku kan. Pokoknya aku tidak akan melewatkan kesempatan ini, aku harus berhasil membuatnya membiarkan aku pulang ke rumah ayah ku selama satu minggu.
"Naira, lalu apa yang akan ku lakukan tanpa...!" Samuel memotong kalimatnya.
Dia lalu melihat ke arah ku yang menatapnya penuh tanya. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan barusan, apa menyiksa ku itu sangat menyenangkan? hingga dia bingung harus melakukan apa dan menyiksa siapa kalau aku tidak ada di rumah ini.
Berbagai pertanyaan timbul di pikiran ku, tapi semuanya hal negatif. Jika itu menyangkut Samuel, maka yang ada dipikiran ku benar-benar hanya hal negatif.
"Ck... Baiklah, Lima hari saja! Aku akan keluar mengambilkan sarapan untuk mu. Tidak ada tawar menawar lagi, atau aku akan benar-benar berubah pikiran!" seru Samuel lalu keluar dari dalam kamar.
"Lima hari, tidak buruk juga. Akhirnya aku bisa bebas dari si lidah tajam, tidak... aku punya julukan baru padanya, si kejam! dia sudah membuat seluruh tubuhku sakit dan remuk." gumam ku pelan.
***
Bersambung...
__ADS_1