
Setelah makan siang selesai, Kenzo masih duduk dengan santai di sofa. Sepertinya dia tidak ada niat untuk secepatnya meninggalkan ruangan kerja Samuel ini. Aku yang sudah selesai membereskan peralatan makan, juga meletakkan kotak makan yang aku bawa tadi ke troli kecil yang tadi Dina bawa masuk ke dalam ruangan ini. Dan mengeluarkan nya dari dalam ruangan. Tapi baru akan membuka pintu, Samuel memanggilku.
"Mau kemana sayang?" tanya nya.
Aku nyaris menabrak pintu, bukan terkejut karena tiba-tiba dia memanggilku, tapi aku terkejut karena panggilan nya barusan padaku. Dia memanggilku sayang, mungkin dia sudah keselek tulang ikan tadi.
"Mas, aku mau bawa ini keluar! akan tidak nyaman kalau mas mengobrol dengan teman mas, jika peralatan ini masih ada di dalam ruangan!" jawab ku.
Aku bahkan heran dengan diriku sendiri, sejak kapan aku jadi pintar bicara begini. Tapi setelah ku pikir, mungkin benar kata ayah, kalau kita bergaul dengan penjual parfum, maka tubuh kita akan ikut wangi. Seperti itu mungkin yang bisa menjelaskan situasi ku sekarang, aku berteman dengan Riksa dan juga Puspa. Pasti itulah yang membuat ku menjadi pintar.
Aku lalu meletakkan troli itu di luar, lalu pergi ke ruangan Dina. Aku tidak tahu dimana letak pantry, jadi aku rasa aku akan meminta bantuan kepada Dina untuk menelpon salah seorang OB untuk mengambil troli itu.
Selain untuk itu, aku memang sengaja meninggalkan ruangan Samuel, karena Kenzo tak kunjung pergi. Mungkin ada yang ingin dia bicarakan berdua dengan Samuel.
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu ruang kerja Dina lalu membukanya perlahan. Aku menyembulkan sedikit kepala ku dan bertanya.
"Dina, apa aku boleh masuk?" tanya ku.
Dina yang awalnya duduk di kursinya, begitu melihat ku langsung berdiri dan mempersilahkan aku untuk masuk.
"Tentu saja nyonya bos, kenapa harus ijin segala kalau mau masuk. Bukankah seluruh perusahaan ini juga adalah milik nyonya bos!" jawab Dina dengan panjang lebar.
Aku rasa aku mulai mengerti sekarang, Dina bisa menjadi sekertaris pribadi Samuel. Mulutnya pandai sekali berkata-kata, dan cara kerjanya juga rapi dan cepat.
"Dina, aku ingin meminta bantuan mu. Mas Sam sudah selesai makan siang, dan peralatan makannya aku letakkan di troli di luar ruangan nya. Aku tidak tahu letak pantry, bisa kah kamu menghubungi seorang OB agar membawa troli itu ke pantry?" tanya ku pada Dina.
Dina yang terlihat serius menyimak apa yang aku katakan langsung tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Tentu saja nyonya bos, silahkan duduk dulu. Aku akan telepon ruangan OB!" jawabnya lalu segera berjalan ke arah meja kerjanya.
Dina menghubungi seseorang dan mengatakan untuk mengambil troli di depan ruangan Samuel lalu membersihkan nya. Setelah itu, dia kembali duduk di sebelah ku.
"Beres nyonya bos, oh ya apa tuan muda Hasigawa itu masih ada di ruangan bos?" tanya Dina penasaran.
Aku mengangguk kan kepala ku.
"Iya, Kenzo masih ada di sana!" jawab ku.
"Huh, tadi itu aku sudah sangat deg degan nyonya bos. Masalahnya bos sudah berpesan agar tidak membiarkan tuan muda Hasigawa itu masuk keruangan nya, tapi tuan muda Hasigawa itu bahkan menyuruh dia asistennya menahan ku, menyebalkan. Kalau saja ada Riksa, mereka tidak akan berani melakukan itu padaku!" keluh Dina dengan wajah yang begitu sangat ekspresif.
Setelah mendengar Dina menyebutkan nama Riksa. Aku baru sadar kalau sejak tadi aku tak melihatnya. Tidak mungkin kan dia selama ini.
"Oh ya Dina, apa kamu tahu dimana Riksa? tadi aku datang bersamanya, tapi seharusnya tidak selama ini kan!" tanya ku pada Dina.
"Oh, itu nyonya bos. Tadi bos menghubungi nya agar memesankan dua tiket perjalanan bisnis dan penginapan di Bali!" jelas Dina.
"Bali?" tanya ku.
"Jadi Riksa dan Samuel akan pergi ke Bali?" tanya ku dengan ekspresi yang begitu senang
Kalau Samuel dan Riksa pergi ke Bali, artinya aku akan bebas untuk sementara dari si kejam itu. Aku saja sudah bisa membayangkan betapa marahnya dia nanti, setelah Kenzo pergi. Aku menyuapinya dengan tangan ku, sedangkan aku tahu dia itu pecinta kebersihan dia itu perfectionis sekali. Aku masih belum tahu, dia akan mengomel seperti apa nanti.
"Bukan bos dan Riksa, nyonya bos!" ucap Dina sambil menggaruk kepalanya yang pasti tidak gatal. Dia hanya mengekspresikan rasa kesal yang tertahan saja.
"Bukan Riksa dan mas Sam, lalu?" tanya ku pada Dina. Dan kali ini aku menatap Dina dengan ekspresi bingung.
"Bos dan nyonya bos lah!" jelasnya membuat ku terkesiap kaget.
__ADS_1
Melihat reaksi ku, Dina sedikit terkejut.
"Nyonya bos, tidak apa-apa?" tanya Dina cemas.
"Tapi ini kan perjalanan bisnis, kenapa malah Samuel pergi dengan ku. Dina kamu tahu kan, aku ini cuma lulusan SMA. Mana aku tahu bagaimana membantu pekerjaan mas Sam?" tanya ku pada Dina.
Masalahnya adalah, jika hanya aku saja yang ikut dan melakukan kesalahan. Takutnya nanti aku malah di tinggal di sana. Mana yang bulanan belum di berikan lagi, tabungan ku semakin menipis. Ck... bagaimana ini?
Tapi melihat ku cemas, Dina malah terkekeh.
"Astaga nyonya bos kamu ini lucu sekali. Perjalanan ke Bali itu bukan untuk bekerja!" jawab Dina.
"Tapi namanya saja perjalanan bisnis, pasti untuk bisnis kan?" tanya ku yang tak mengerti.
"Iya, namanya perjalanan bisnis. Tapi sebenarnya itu adalah perayaan ulang tahun pernikahan tuan Thomas dan istrinya yang ke 35 tahun. Dan karena bos sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan tuan Thomas. Jadi tuan Thomas mengundang bos dan juga istrinya yaitu kamu, untuk merayakan pesta itu!" jelas Dina panjang lebar.
Aku mengerti dengan apa yang Dina katakan barusan. Aku mengangguk paham, tapi itu adalah pesat besar, aku rasa aku butuh bantuan Puspa untuk mempelajari bagaimana tata cara menghadiri pesta besar seperti itu yang pastinya akan banyak pengusaha-pengusaha besar dan istrinya yang luar biasa cantik dan anggun datang juga ke pesta perayaan itu.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Dina, pintu ruangan Dina dibuka oleh seseorang, dan saat kami menoleh bersama ke arah pintu. Kami melihat orang yang membuka pintu ruangan Dina adalah Samuel. Dina berdiri dengan cepat ketika bosnya yang membuka pintu ruang kerjanya, sedangkan aku juga ikut berdiri ketika Samuel masuk dan mendekati kami.
"Dina, cancel meeting untuk dua jam ke depan. Dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan ku!" perintah Samuel tanpa melihat ke arah Dina dan malah melihat ke arah ku.
"Naira, ikut aku keruangan ku sekarang!" ucapnya dengan nada tegas dan langsung berbalik lalu keluar dari ruangan Dina.
Aku menelan saliva ku dengan kepayahan, tatapan mata Samuel tadi sama dengan tatapannya saat ingin melakukan hal itu padaku.
'Huh, kenapa di kantor sih? aku kan tidak bawa baju ganti!' keluh ku dalam hati lalu mengikuti Samuel keluar dari ruang kerja Dina.
***
__ADS_1
Bersambung...