
Mata ku menatap nanar ke arah jendela kaca ruangan ini, ruangan dimana selama satu setengah jam lebih Samuel tidak membiarkan aku turun dari tempat tidur. Dengan selimut yang membungkus tubuh ku, aku duduk dan menyandarkan punggung ku yang terasa sangat pegal ke sandaran bed.
Aku sedang menunggu Samuel yang tengah meminta sekertaris nya yang lain untuk membelikan aku baju baru, karena tadi saat dia menghubungi Riksa, pria itu sedang berada di kantor klien mereka.
Pakaian ku lagi-lagi rusak, aku juga tidak tahu kenapa setiap kali Samuel selalu merobek pakaian ku. Padahal itu baju baru, aku memeluk lutut ku yang terbungkus selimut, aku menyandarkan kepala ku di atas lutut. Semakin dipikirkan membuat ku semakin bingung, Samuel dan aku tidak saling menyukai tetapi kenapa dia bisa melakukan hal ini padaku, bukan kah hal ini hanya bisa di lakukan pada orang yang saling menyukai saja.
Lalu kenapa dia melarang ku untuk mengantisipasi hal yang mungkin saja terjadi, padahal dia juga tahu kalau kami hanya akan menjadi suami istri selama satu tahun saja. Aku makin di buat pusing dengan semua ini.
Ceklek
Aku merapatkan selimut yang melekat di tubuh ku ketika mendengar pintu ruangan ini terbuka. Aku membelalakkan mataku ketika melihat yang datang adalah Samuel, tapi aku terkejut bukan karena Samuel, tapi dengan apa yang ada di tangan nya.
Dia membawa nampan berisi segelas susu dan ada roti lapis daging di atasnya. Samuel meletakkan nampan itu di atas ranjang di hadapan ku.
"Makan lah dulu, pakaian mu akan datang sebentar lagi!" ucapnya dengan suara lembut.
Aku benar-benar di buat tertegun, ini adalah kali pertama Samuel bicara lembut seperti ini padaku.
"Untuk ku?" tanya ku memastikan.
Dia bahkan tersenyum dan mengangguk, aku bahkan mengira kalau ini adalah mimpi. Tapi ketika tangan ku yang tersembunyi di dalam selimut mencubit paha ku sendiri, rasanya sakit. Jadi aku yakin ini bukanlah mimpi. Tapi kenapa tiba-tiba Samuel bersikap begitu baik padaku.
Aku mengeluarkan tangan kanan ku dari dalam selimut dan meraih gelas susu yang ada di depan ku. Aku meminumnya, susu hangat yang sangat menyegarkan membuat perut ku rasanya semakin nyaman. Setelah itu aku meletakkan kembali gelas di atas nampan dan mengambil roti lapis daging nya. Aku memakannya sedikit demi sedikit.
'Em, lumayan. Tapi masih enak buatan bibi Merry!' batin ku.
Samuel memakai kembali dasi dan jas nya, aku memperhatikan nya sambil memakan makanan ku.
"Kamu mau aku temani disini?" tanya nya setelah berpakaian rapi.
__ADS_1
Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Tidak usah mas, mas pasti punya banyak pekerjaan bukan!" jawab ku cepat. Aku tidak mau dia menemaniku dalam keadaan aku yang seperti ini. Rasanya sangat tidak nyaman.
Dia lalu mengangguk paham.
"Baiklah, aku ada di luar. Kalau kamu butuh sesuatu, tekan angka 1 pada telepon itu!" ucapnya sambil menunjuk ke arah telepon yang ada di atas nakas di samping bed.
Aku juga langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya mas!" jawab ku cepat juga.
Dia langsung keluar dari ruangan ini, membuat ku bernafas lega. Aku melanjutkan makan ku sampai habis, tapi aku mendengar suara helikopter dari arah samping gedung. Aku melihat ke arah dinding kaca dan ternyata benar, ada helikopter yang mendekat ke arah gedung.
"Wah, keren sekali. Apa di atas gedung ini ada landasan helikopter?" tanya ku bergumam.
Aku mengambil paper bag yang Samuel letakkan di atas tempat tidur, aku melihat isinya.
"Wah, bagus sekali!" gumam ku mengagumi pakaian yang ada di dalam paper bag.
Setelan pakaian kerja dengan bawahan rok dan blazer berwarna pastel keunguan. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut.
Setelah berganti pakaian dan merapikan riasan juga rambut ku, aku keluar dari dalam ruangan. Tapi aku tak melihat Samuel di sana, hanya ada Dina yang sepertinya sedang menunggu ku.
"Selamat siang nyonya bos!" sapa Dina dengan sopan sambil tersenyum.
"Selamat siang Dina, dimana mas Sam?" tanya ku pada Dina.
"Maaf nyonya bos, bos Sam sedang menyambut kedatangan seorang klien. Dan bos meminta saya mengajak nyonya langsung ke ruang rapat jika nyonya sudah selesai bersiap!" jawab Dina.
__ADS_1
Aku yakin saat ini wajah ku memerah, bagaimana tidak. Apa yang akan di pikirkan Dina ketika dia harus membelikan pakaian baru untukku di kantor.
Kami berdua keluar dari ruangan Samuel menuju ke ruang rapat, Dina juga menjelaskan kepada ku apa yang harus aku lakukan saat di ruang rapat itu. Aku rasa Samuel cukup khawatir kalau aku akan melakukan kesalahan, jadi kurasa klien itu pasti sangat penting bagi Samuel.
"Nyonya hanya harus menyapa tuan Rizaldi Gunawan, setelah itu nyonya duduk di sebelah bos, lalu mencatat semua apa yang di katakan oleh bos, di lembar kerja yang sudah di buka!" jelas Dina.
"Lembar kerja?" tanya ku bingung.
"Iya, di sana akan ada laptop di atas meja nyonya, lalu nyonya tinggal mengetik apapun yang bos dan tuan Rizaldi katakan dan putuskan dalam rapat!" jelas Dina.
Aku langsung mengangguk paham, untung saja saat bekerja di toko buku ko Acong dulu, Haris sering membawa laptop miliknya dan sering mengajariku cara menggunakan nya.
Kami sudah tiba di ruang meeting, ruangan ini tidak seperti yang ada di film-film. Ini seperti ballroom hotel, mewah sekali. Pasti klien itu benar-benar istimewa, karena Samuel bahkan menjemput sendiri klien itu saat dia datang.
Dina menjelaskan setiap kursi dan akan di duduki oleh siapa. Dia juga meminta ku membaca sebuah proposal yang berhubungan dengan kerjasama yang akan di lakukan oleh Samuel dengan kliennya yang bernama Rizaldi itu.
Aku mulai duduk di kursi ku dan membaca, laporan ini luar biasa sangat rapi tidak ada satu kata pun salah, tidak ada typo dan suasana kalimat sederhana tapi baik dan mudah di mengerti.
"Nyonya! mereka datang!" seru Dina membuat ku langsung berdiri dan meletakkan laporan yang sedang aku baca.
Aku mengikuti Dina mendekat ke arah pintu dan membukanya.
"Nyonya, anda lah yang harus menyapa klien nya! itu adalah perintah bos!" ucap Dina membuat ku yang awalnya sudah gugup menjadi bertambah gugup.
Aku sungguh sangat takut, kalau nanti sampai melakukan kesalahan. Samuel pasti tidak akan memaafkan aku.
***
Bersambung...
__ADS_1