
Semua mata tertuju pada seorang pemuda yang baru saja memasuki area ruang tamu. Stella yang melihat putra bungsunya segera berdiri dan berjalan perlahan mendekatinya. Setelah berada cukup dekat dengan Adam, Stella langsung menyentuh lengan putranya itu dengan lembut dan tersenyum pada Adam.
"Nak, kita duduk dulu ya!" ajak Stella sambil menarik dengan lembut lengan Adam agar mau duduk di sofa.
Stella mengerti benar bagaimana tempramen nya Adam. Apalagi sang suami, Damar sedang keluar dan tidak ada di rumah, biasanya Damar lah yang bisa mengatasi Adam kalau dia mulai emosi. Stella lebih cemas lagi karena sekarang juga ada kakek Virendra yang kondisinya belum pulih benar. Stella benar-benar takut kalau Adam tahu tentang rencana pernikahan Riksa dan Puspa, Adam akan lepas kendali dan dia akan mengamuk di rumah.
Stella tetap berada di samping Adam ketika pemuda tampan yang tingginya tidak lebih tinggi dari Samuel itu duduk.
"Adam, Riksa akan menikah dengan Puspa!" ucap kakek Virendra begitu terus terang.
Bukan kesalahan kakek Virendra, karena dia memang baru sembuh dan sama sekali tidak tahu kalau cucunya itu juga menyukai Puspa.
Adam yang baru duduk langsung bangkit berdiri, dia memandang penuh amarah pada Riksa.
"Apa-apaan semua ini?" teriak Adam.
Hanya kakek Virendra yang terlihat terkejut, yang lain justru menghela nafas mereka dengan berat karena sudah menduga hal ini akan terjadi. Stella mencoba meraih tangan Adam, namun segera di tepis oleh Adam.
Samuel yang merasa kalau dia tidak bicara maka masalah akan semakin panjang pun segera melepaskan tangannya dari tangan Naira dan mendekati Adam.
"Adam, Riksa dan juga Puspa saling mencintai. Mereka...!"
"Apa sebagai seorang kakak, kamu bahkan tidak menyadari kalau aku juga menyukai Puspa?" tanya Adam dengan suara yang bernada tinggi tepat di hadapan Samuel, dan menyela apa yang ingin di jelaskan oleh Samuel.
Samuel tersentak bukan karena mendengar apa yang dikatakan Adam, tapi karena adiknya itu baru pertama kali itu bicara dengan nada kasar seperti itu padanya.
Samuel lantas menepuk bahu Adam.
"Mencintai seseorang itu artinya kita membiarkan dia hidup bahagia, cinta sepihak itu hanya akan...!"
"Lalu bagaimana dengan mu sendiri?" tanya Riksa yang lagi-lagi terdengar seperti membentak Samuel. Dan lagi-lagi menyela apa yang ingin di jelaskan Samuel padanya.
Samuel merasa terkejut kali ini.
"Aku?" tanya Samuel uang tidak mengerti.
Adam langsung melihat ke arah Naira beberapa detik lalu kembali melihat ke arah Samuel.
__ADS_1
"Jangan pura-pura bodoh dan menasehati ku tentang cinta Samuel, kamu sendiri memaksakan pernikahan dengan Naira kan?" tanya Adam dengan senyuman sinis tipis di wajahnya.
Samuel tersentak lagi, dia benar-benar terkejut. Sementara kakek Virendra tak kalah terkejut nya dengan apa yang baru saja dia dengar dari Adam.
"Apa maksud mu, Adam?" tanya kakek Virendra yang langsung berdiri dan mendekat ke arah Samuel dan juga Adam.
Sementara Riksa langsung mendekat ke arah Naira yang terlihat sangat gugup. Puspa yang merasa kalau Riksa ingin melindungi Naira juga ikut mendekat ke arah sahabatnya yang terlihat cemas itu.
Stella yang dari awal memang sudah mengira hal ini pun berusaha untuk mendekati Adam.
"Nak, tolong jangan bicara yang tidak-tidak!" pinta Stella pada Adam.
"Tunggu dulu, ada apa ini sebenarnya?" tanya kakek Virendra lagi.
Adam terkekeh.
"Kenapa? kenapa semua orang begitu membela dan menyayangi Samuel, hingga perbuatan nya yang tidak baik pun berusaha untuk kalian sembunyikan. Lalu kenapa padaku kalian berbuat sebaliknya?" tanya Adam semakin kesal.
"Sebaiknya tutup mulut mu, Adam!" bentak Samuel yang sudah mulai kesal dengan tingkah laku Adam.
"Kenapa? dengarkan aku baik-baik kakek. Pernikahan antara Samuel dengan Naira itu adalah pernikahan kontrak!" seru Adam.
Naira merasa jantungnya untuk sesaat rasanya tidak berdetak. Begitu pula dengan kakek Virendra yang memegang erat dadanya.
"Adam!" teriak Stella yang mulai cemas pada keadaan kakek Virendra, ayah mertuanya.
"Itu benar, kalian bisa tanya langsung pada dua orang yang ada di depan kalian ini. Bahkan aku menemukan surat kontrak itu di ruang kerja Samuel. Mereka hanya akan menikah selama satu tahun...!"
Plak
Stella langsung menampar Adam. Stella bahkan sudah menangis ketika melakukan itu.
"Tutup mulut mu, ibu tahu semua itu. Tapi sekarang mereka sudah saling mencinta, dan pernikahan kontrak itu sudah menjadi pernikahan yang sesungguhnya. Kamu benar-benar keterlaluan Adam, kamu keterlaluan!" keluh Stella sambil terisak.
Samuel langsung merangkul ibunya dan memeluknya. Sementara bibi Merry dan pak Ranu berusaha menenangkan kakek Virendra karena Naira juga sedang terisak saat ini. Dan Puspa dengan Riksa sedang menenangkan nya.
"Jadi ibu sudah tahu, dan ibu diam saja. Atau jangan-jangan ibu juga sudah tahu kalau aku dan Riksa sama-sama menyukai Puspa, dan ibu diam saja?" tanya Adam dengan mata yang sudah merah dan berkaca-kaca.
__ADS_1
Adam melihat ke arah ibunya, dan beberapa detik Stella hanya diam. Itu membuat Adam mengerti kebenaran nya.
Adam langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ini tidak adil Bu, ibu selalu tidak adil padaku. Kalian semua memang breng***!" teriak Adam lalu langsung berlari keluar rumah.
"Adam!" teriak Stella dan juga Samuel yang langsung mengejar Adam yang berlari ke arah mobilnya.
Samuel berusaha menghentikan Adam, karena dia tidak ingin Adam pergi dan mengemudi dalam keadaan kesal seperti itu.
"Adam, stop!" teriak Samuel.
Namun Adam tidak menghiraukan Samuel, bahkan ketika sang kakak berada di depan mobil Adam, Adam malah terus memainkan gas mobilnya meskipun belum melepaskan remnya hingga ban mobil Adam mengeluarkan asap.
"Samuel, minggir nak!" teriak Stella yang berhasil menyusul Samuel dan Adam keluar rumah.
"Mas!" teriak Naira yang juga ikut keluar bersama dengan Riksa dan Puspa.
Adam mulai memundurkan mobilnya lalu melewati Samuel dengan cepat, nyaris 5 centimeter lagi ban mobil Adam melindas kaki Samuel.
"Mas!"
"Samuel!"
Teriak semua orang yang panik melihat kejadian yang begitu cepat itu.
"Sial!" geram Samuel lalu berlari ke arah mobilnya.
"Bos, aku saja!" seru Riksa yang menghadang Samuel ketika akan membuat pintu mobilnya di bagian kemudi.
"Cepat Riksa!" ujar Samuel yang langsung berlari ke arah kursi penumpang bagian depan.
Samuel dan Riksa pun akhirnya menyusul Adam yang mengebut dengan sangat cepat. Sementara Stella menangis memeluk Naira.
"Sayang, maafkan kata-kata Adam tadi ya nak. Kamu tidak boleh memikirkan nya, kasihan anak dalam kandungan mu, ya Naira!" ucap Stella lembut sambil sesekali menyeka air mata Naira dan juga air matanya sendiri.
Meskipun hatinya sendiri merasa sangat cemas pada Adam, tapi Stella juga tidak ingin kandungan Naira bermasalah karena Naira sedih. Stella juga sudah tahu sejak awal kalau pernikahan itu pasti pernikahan yang dipaksakan oleh Samuel, tapi sejak awal pula Stella memang menyukai Naira. Jadi dia tidak pernah mempermasalahkan nya. Dan dari kacamata nya, dia tahu kalau sekarang Samuel dan Naira itu sudah sangat saling mencintai.
__ADS_1
***
Bersambung...