
Samuel Virendra POV
Aku berjalan dengan langkah yang mantap ke dalam ballroom hotel yang sudah di dekorasi sedemikian rupa sehingga tidak akan ada tamu yang tidak akan mengagumi tempat ini. Aku bersama dengan Riksa, orang yang paling ku percaya berjalan ke arah pelaminan, disana sudah ada kedua orang tua ku dan juga Adam, adik kandung ku satu-satunya.
Acara ini hanya untuk kalangan terbatas saja, hanya untuk tamu yang memiliki undangan khusus yang bisa masuk saat ijab qobul. Semua mata memandang ke arah ku, aku sudah tahu semua ini pasti akan terjadi. Dan bukan hal yang asing bagiku menjadi pusat perhatian.
Banyak awak media yang hadir, baik dari media cetak maupun media elektronik. Ibu ku yang melakukan semua itu, dia ingin semua orang tahu kalau putra sulungnya akan menikah, dan alasan khusus nya, aku bisa menebak kalau ibu melakukan semua ini demi membuat hubungan ku dengan Caren menjadi buruk. Dan kurasa ibu sudah berhasil, sejak kemarin aku bahkan tidak bisa menghubungi kekasih ku itu.
Aku sudah tiba di pelaminan, dan langsung beralih menghadap ke arah pintu yang lain. Karena pengarah acara memberi instruksi semacam itu.
Dari pintu yang lain, aku melihat seorang wanita dengan gaun pengantin nya dan riasan wajah yang menurut ku sangat mempesona. Aku sempat tak berkedip beberapa saat saat menatap ke arah Naira yang sedang berjalan menggandeng lengan ayah nya dan dengan senyuman yang begitu sederhana tapi sangat menawan.
'Ah, apa yang ada di otak ku. Bisa-bisanya aku memuji gadis ceroboh itu!' kesal ku sendiri dalam hati.
Aku segera membenarkan sikap ku dan bersikap biasa saja. Bahkan saat ayah Rama menyerahkan tangan Naira padaku, aku hanya menganggukkan kepalaku pelan, seperti yang sudah di ajarkan oleh pengarah acara.
Kami semua lalu berjalan ke arah kursi yang telah disiapkan. Semua orang terlihat sangat tegang. Dan sejujurnya aku juga. Karena walau bagaimanapun ini adalah kali pertama bagiku mengucapkan janji pernikahan.
Aku heran karena tak ada raut sedih di wajah Naira, aku jadi kesal sekali melihatnya.
"Heh, gadis ceroboh hentikan senyum palsu mu itu!" bisik ku sangat pelan ke telinga Naira.
Tapi di luar ekspektasi ku, dia malah menoleh ke arah ku dan tersenyum.
"Tuan, tolonglah untuk beberapa menit ke depan jangan mengganggu kebahagiaan ku!" balasnya dengan membisikkan kata-kata itu juga padaku.
Aku yang malah jadi terkesiap.
'Apa dia bilang, apa dia bahagia dengan pernikahannya ini?' tanya ku dalam hati.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, bisa kita mulai sekarang?" tanya seorang pria paruh baya yang berjanggut putih panjang dan memakai jas dan sorban berwarna keemasan.
Dia adalah penghulu yang akan menikahkan aku dan juga Naira. Dia menjabat tangan ku memintaku mengucapkan dua kalimat syahadat. Lalu dia membimbing ku membaca janji pernikahan. Dan setelah itu dia bertanya padaku.
__ADS_1
"Ananda Samuel Virendra bin Damar Virendra, apakah anda dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari siapapun, bersedia menerima ananda Naira putri binti Rama Ahmad menjadi istri anda?" tanya nya padaku.
Aku menoleh ke arah Naira yang hanya menundukkan wajahnya.
"Saya bersedia!" ucap ku dengan yakin. Dan ketika aku selesai mengucapkan itu aku melihat Naira menoleh ke arah ku, dan matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ananda Naira putri binti Rama Ahmad, apakah anda dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari siapapun, bersedia menerima ananda Samuel Virendra bin Damar Virendra menjadi suami dan imam anda?" tanya penghulu itu pada Naira.
"Saya bersedia!" jawab Naira dengan suara lembut tanpa memalingkan wajahnya dariku.
Deg deg deg
Aku tak mau seperti ini, aku mulai lemah. Dan ini sama sekali tidak boleh dibiarkan. Aku langsung memalingkan wajah ku ke arah depan. Kembali menjabat tangan ayah Rama yang sudah terulur di depan ku.
Dan prosesi ijab qobul pun dilaksanakan.
"Saya nikahkan putri kandung saya, Naira putri binti Rama Ahmad kepada engkau Samuel Virendra bin Damar Virendra dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan senilai 500 juta.. di bayar tunai!" ucap ayah Rama terkesan tak percaya.
"Saya terima nikahnya Naira putri binti Rama Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan senilai 500 juta di bayar tunai!" ucap ku dalam sekali tarikan nafas.
Aku langsung melihat ke arah Naira, aku melihat wanita itu menundukkan wajahnya dan dengan jelas aku melihat air matanya jatuh. Aku tidak yakin itu adalah air mata kebahagiaan.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu itu.
"Sah"
"Sah!" ucap semua orang yang ditanya dan aku mendengar juga Riksa mengucapkan kata itu.
Kami berdoa, dan pengarah acara meminta agar kami saling bertukar cincin pernikahan. Tangan Naira terlihat gemetaran, aku langsung meraih jemarinya, ketika aku melakukan itu dia terlihat terkesiap. Tapi dia tidak berani melayangkan protes padaku.
Aku menyematkan cincin di jari manis tangan kirinya, dan dia juga menyematkan cincin di jari ku pada jari manis sebelah kiri ku juga. Aku melihat cincin yang kata Riksa adalah pilihan dari Naira. Setelah aku perhatikan seleranya tidak buruk juga, meskipun sebuah perhiasan tapi tidak aneh jika di pakai seorang pria, pilihannya cukup bagus.
Setelah itu, pengarah acara meminta agar Naira mencium tanganku. Dengan ragu dia melakukan itu. Tapi saat kulit punggung tangan ku terkena bibirnya.
__ADS_1
Deg
'Sial, lagi-lagi perasaan seperti ini!' batin ku gelisah.
Setelah itu, pengarah acara memintaku mencium Naira. Dan bodohnya, aku malah meraih dagunya, ku pikir aku harus mencium bibirnya, tapi ternyata.
Plak
Ibu ku memukul lengan ku dengan kuat, membuat aku menghentikan apa yang akan kulakukan dan menarik tangan ku dari dagu Naira.
"Hei anak nakal, jangan lakukan itu sekarang!" protes ibuku.
"Aduh tampan, lakukan itu saat kalian berdua saja nanti. Sekarang kecup dulu kening istri mu sebagai tanda cinta!" seru pengarah acara yang tak bisa menahan kekehannya.
'Astaga, apa yang aku pikirkan?' tanya ku dalam hati.
Aku memegang kedua pipi Naira dan mengecup keningnya perlahan.
Cup
Deg
Dan sialnya perasaan itu muncul lagi, bahkan lebih aneh dan menggelitik di banding saat aku mencium bibir Caren.
Semua orang terlihat senang dan bertepuk tangan, aku menoleh ke arah Naira yang masih mengusap air matanya dan aku lihat pipinya terlihat lebih merah. Kurasa dia malu.
Pengarah acara lalu meminta kami meminta restu pada kedua orang tua kami. Dan saat seperti inilah yang paling ingin aku hindari. Aku tidak mau menangis. Aku benar-benar tidak mau menangis.
Samuel Virendra POV end
***
Bersambung...
__ADS_1