
Jonathan yang melihat Riksa begitu percaya diri pun semakin penasaran pada pria yang telah merebut hati tunangan nya itu. Tapi dia hanya diam dan melihat apakah kemampuan Riksa memang sehebat cara bicaranya.
Sementara itu Putra sangat cemas melihat Puspa yang begitu takut kalau Riksa kenapa-napa.
Mega meminta semua pengawalnya maju secara bersama menghadapi Riksa, ruang tamu di kediaman nenek Arumi ini memang cukup luas. Tapi karena begitu banyak berharga yang mungkin saja itu adalah barang kenangan peninggalan nenek Arumi, Riksa memilih untuk berlari kearah luar rumah.
"Lihat kan, belum apa-apa sudah kabur. Apanya yang disebut pantas?" tanya Mega pada Puspa yang masih menggenggam erat jas Riksa yang ada di tangannya.
Puspa tidak terlalu memperhatikan apa yang ibunya katakan, dia bahkan tidak menghiraukan nya sama sekali dan malah ikut berlari keluar untuk melihat Riksa yang sendirian melawan ke 50 pengawal sewaan Mega.
Namun ketika Puspa mau keluar menyusul Mega dan yang lain yang melihat perkelahian Riksa dan para pengawal. Tangannya di pegang oleh seseorang hingga membuat langkahnya terhenti. Puspa segera menoleh ke belakang dan melihat kalau uang menahannya adalah Jonathan.
"Lepaskan tangan ku!" seru Puspa dengan wajah yang begitu serius.
"Kita harus bicara!" seru Jonathan uang wajahnya juga tidak kalah seriusnya dengan wajah Puspa.
Puspa tidak mau mendengarkan Jonathan, dia terus berusaha memberontak. Menghentakkan tangannya dengan kuat dan terus melihat ke arah pintu utama.
"Aku tidak ingin bicara padamu, aku harus melihat Riksa!" sahut Puspa membuat hati Jonathan kian tersayat rasa sakit yang begitu dalam.
Bertahun-tahun dia menanti Puspa, dan hal ini lah yang dia dapatkan. Dia sudah berusaha untuk bersabar dan mengalah. Dia juga sudah berusaha merelakan Puspa saat mengetahui Puspa sudah punya kekasih. Tapi semakin dia berusaha, semakin terluka hatinya dan akhirnya perasaan tidak rela lah yang muncul.
"Aku tidak bisa melepaskan mu Puspa, aku sudah berusaha. Tapi aku sungguh tidak bisa. Maafkan aku!" seru Jonathan.
Puspa yang awalnya tidak fokus pada apa yang dikatakan Jonathan dan terus melihat ke arah pintu utama pun akhirnya menoleh ke arah Jonathan karena perkataan Jonathan barusan. Dengan wajah bingung, Puspa bertanya.
"Apa maksud mu?" tanya Puspa.
__ADS_1
Jonathan masih terus menatap Puspa dengan pandangan mata yang seperti merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku, Puspa. Semua ini aku lakukan karena aku sangat mencintai mu!" ucap Jonathan dan tanpa sepengetahuan Puspa ada seseorang dari arah belakangnya yang membekap mulut dan hidungnya dengan sesuatu.
Akibat menghirup sesuatu yang membekap mulut dan hidungnya, perlahan kesadaran Puspa mulai hilang dan dia pun jatuh pingsan. Dengan sigap, Jonathan langsung menangkap tubuh Puspa yang terhuyung hampir jatuh ke lantai.
"Kita bawa dia sekarang!" kata Jonathan pada seorang wanita yang tadi membekap Puspa.
"Iya kak!" jawab Anyelir.
Benar sekali, wanita yang tadi membekap Puspa dengan obat bius adalah Anyelir, adik kandung Puspa sendiri. Jonathan langsung mengangkat tubuh Puspa dan membawanya pergi menuju ke pintu belakang kediaman nenek Arumi. Jas milik Riksa yang tadi di genggam sangat kuat oleh Puspa pun terjatuh ke lantai, menjadi saksi bisu kalau Puspa telah di bawa Jonathan dan Anyelir pergi sangat jauh nantinya.
Sementara di luar, ketika Riksa mulai kewalahan menghadapi 50 pengawal yang tak kunjung mau menyerah juga. Ponsel Mega berbunyi, dan setelah melihat pesan yang dikirimkan oleh Anyelir, dia langsung menarik lengan suaminya.
"Mas, kita bisa pergi sekarang!" ucap Mega pada Putra.
"Mega, Puspa pasti akan sangat membenci kita setelah semua ini!" ucap Putra dengan wajah yang begitu merasa bersalah.
"Ck... lalu kita harus apa mas, membiarkan Puspa menikah dengan pria yang tidak jelas asal usulnya itu dan kemudian semua usaha mu hancur, rumah tangga Anyelir terancam. Dan Rose, apa kamu mau kita kehilangan dia?" tanya Mega membuat Putra memilih diam dan mengikuti langkah istrinya itu.
Disaat Riksa tengah sibuk melawan para pengawal yang sekarang sudah lebih dari separuhnya yang sudah menyerah. Tanpa dia sadari dua buah mobil sebenarnya sudah meninggalkan kediaman nenek Arumi dan segera menuju ke arah bandara.
"Pria ini tidak waras, bagaimana ini?" tanya salah seorang pengawal yang sudah babak belur.
"Benar, kita harus bagaimana sekarang?" tanya seorang pengawal lain yang menjadi ngeri melihat Riksa yang sudah babak belur dengan banyak luka di seluruh tubuhnya tapi masih tetap berusaha berdiri dengan tegak dan melawan semua yang datang ingin memukuli dirinya.
"Kenapa diam, ayo maju!" ucap Riksa memprovokasi para pengawal yang sudah mulai kelelahan.
__ADS_1
"Dia benar-benar sudah tidak waras!" ucap salah seorang pengawal yang merupakan leader dari yang lainnya.
Namun tak berselang lama, sang leader pengawal mendapatkan pesan di ponselnya. Begitu dia melihat isi pesan itu, dia segera menyuruh semua anak buahnya mundur.
"Pria ini sudah tidak waras, kita pergi!" seru leader dari para pengawal itu.
Riksa yang memang sudah kelelahan akhirnya menjatuhkan dirinya ke tanah, dengan tumpuan kedua lututnya dia mengusap keringat yang sudah bercampur dengan noda darah dari luka yang ada di pelipis dan juga sudut bibirnya. Perkelahian selama hampir setengah jam itu sudah membuat semua tenaganya terkuras dan dia sangat kelelahan.
Tapi dia langsung berusaha bangkit lagi dan berusaha untuk masuk ke dalam. Dengan langkah gontai dia masuk ke dalam kediaman nenek Arumi berharap Mega melihat hal ini dan mengijinkannya menikah dengan Puspa setelah dia membuktikan bisa mengalahkan 50 orang pengawal suruhan Mega.
Tapi mata Riksa langsung melebar ketika melihat jas nya yang tergeletak begitu saja di dekat pintu masuk. Dan keadaan rumah nenek Arumi yang begitu sepi. Salah seorang pelayan yang kasihan melihat kondisi Riksa pun menghampiri pria yang sudah babak belur itu, bahkan berdiri saja dia sudah sempoyongan.
"Maaf tuan, tapi nona Puspa... dia... dia..!" pelayan wanita yang sangat menyayangi Puspa itu bahkan sudah menangis sejak melihat Puspa dibawa pergi oleh Jonathan.
Dia ingin sekali memberitahukan pada Riksa tadi, tapi Mega mengancamnya kalau sampai dia buka mulut sebelum Mega berhasil membawa Puspa menjauh maka nasibnya akan seperti pak Nasrul dan juga ibu Jamilah.
"Dimana Puspa?" tanya Riksa cepat merasa kalau ada yang rusak beres.
"Nona Puspa sudah di bawa pergi oleh nyonya Mega! setengah jam yang lalu!" jawab pelayan itu.
Riksa begitu terkejut, dia langsung berbalik dan berlari ke arah mobilnya. Namun sial, ban mobilnya ke empat-empatnya sudah tidak ada di tempatnya.
Riksa berlari ke luar dan berusaha menghentikan mobil yang lewat, namun dengan kondisinya yang babak belur dan baju yang sobek sana sini akibat perkelahian tadi tidak ada satupun mobil yang mau berhenti.
"Puspa!" teriak Riksa yang sudah jatuh di tanah dengan tumpuan kedua lututnya.
***
__ADS_1
Bersambung...