Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
230


__ADS_3

Naira terus gelisah menunggu Samuel yang tak kunjung pulang padahal sudah dua jam ayahnya dan juga suaminya itu pergi ke pasar. Anisa yang ikut keluar melihat putrinya terus mondar-mandir jadi ikut cemas juga.


"Nai, jangan mondar-mandir begitu, nanti kepleset jatuh kamu!" ucap Anisa memperingati Naira agar jangan terus mondar mandir di depan rumah.


"Ini ayah sama mas Sam kok lama banget ya Bu, biasanya kita aja belanja buat bikin dagangan ibu sejam pulang balik. Mereka mampir kemana sih?" tanya Naira yang merasa cemas karena biasanya kalau hanya ke pasar dan membeli beberapa bahan makanan saja tidak akan memakan waktu selama ini.


"Kamu tenang aja, suami kamu itu kan ahli beladiri. Kamu sendiri yang cerita dia mukulin lima orang di toko buku ko Acong sendirian. Kamu gak perlu cemas kalau cuma copet pasar atau preman yang suka mangkal di dekat terminal sebelah pasar itu suami kamu pasti bisa mengatasi mereka!" ucap Anisa yang sama sekali tidak mencemaskan menantunya yang memang sangat ahli beladiri.


Naira langsung duduk di kursi yang ada di sebelah Anisa duduk.


"Bu, emang masih suka ada copet di pasar ya Bu?" tanya Naira sedikit cemas.


"Lah itu sehari sebelum kamu sama nak Samuel datang kemari itu anak pak RT kecopetan, mau ajak anak istrinya kan beli baju baru, heh udah sombong bener dia lewat sini tuh sengaja kan naik motor nya di pelan pelanin. Biar apa coba, biar minta di tegor kan, pas ibu tanya 'mau jalan-jalan ya Dafa' eh si Mumun bilang gini 'Mau ke pasar Bu Anisa, biasalah mau borong dulu kebetulan ayahnya Dafa baru aja dapet bonus dari pak Camat' jawabnya tuh gitu Nai. Heh gak lama, si Mumun nangis nangis pas pulang, kata Bu Saodah dia kecopetan. Duitnya satu sama dompet-dompetnya ludes di gondol tuh copet!" terang Anisa panjang lebar menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu yang sebenarnya membuatnya sedikit kesal.


"Kasihan ya mbak Mumun!" sahut Naira yang merasa iba pada kejadian yang menimpa salah satu tetangga ayahnya itu.


"Ih ngapain kasihan coba, biarin aja. Inget gak pas ayah kamu bantuin keluarga dia itu pasang genteng, jatuh bukannya di tolong berobatin kemana kek, ke klinik kek. Di bawa ke tukang urut doang, yang bayarin pak RT lagi. Ih ibu mah kalau ingat kejadian itu masih dongkol hati ibu Nai, belom lagi di Mumun tuh suka koar koar di warung sayur mau beli mobil lagi lah, mau berangkat umroh lah, mau jalan-jalan keluar negeri lah, emang gaji suaminya itu gak abis abis apa, 5 juta sebulan aja sombong bener. Belum aja dia tahu uang bulanan kamu yang di kasih sama nak Samuel!" gerutu ibu Anisa lagi.


"Ibu mah pengen kasih tahu dia itu biar sekali-kali gak ngeremehin orang terus, masak ibu ke tukang sayur di tegor gini... 'Bu Anisa mau beli tempe ya, ini masih banyak. Kalau ayam sama daging sih sudah habis Mumun ambil semua nih' gitu katanya. Coba siapa yang gak dongkol. Sayang aja ayah sama ibu kolesterol kan, kalau gak uang yang kamu kasih kemaren udah ibu beliin kambing tuh ibu bikin kambing guling di depan rumah. Kesel ibu!" omelnya lagi.


Mendengar keluhan dari sang ibu, Naira malah terkekeh.

__ADS_1


Dan ketika Naira terkekeh, Anisa malah memukul lengan Naira pelan.


"Ih, ni anak ya. Ibunya lagi kesel malah di ketawain!" protes ibu Anisa pada Naira.


Naira malah tak kunjung berhenti tertawa, menurutnya ibunya sama sekali tidak berubah sejak dulu. Dia memang suka kesal dan memakai orang di depan ayah, dirinya bahkan Ibras tapi begitu bertemu dengan orang yang dia maki itu dia malah akan bersikap sangat biasa. Tidak menunjukan sama sekali sedang kesal.


"Habisnya ibu tuh selalu begitu, ngomel ngomel di belakang. Di depannya senyam-senyum, orang mah biarin aja sih Bu. Orang mau gaji berapa mau beli apa, kita ikut seneng aja gitu. Alhamdulillah dia senang gitu, lagian waktu itu ayah jatuh itu kan musibah, ibu gak boleh terus inget-inget kejadian itu. Seenggaknya pak RT udah punya etiket baik mau bawa ayah ke tukang urut!" ucap Naira yang langsung mendapatkan cebikan dari sang ibu.


"Sok tua kamu Nai!" celetuk ibu Anisa lagi.


Naira malah tambah terkekeh mendengar ibunya terus mengomel.


"Waalaikumsalam!" jawab Naira dan juga Anisa.


Naira langsung berdiri dan mendekati sang ayah lalu menyalami tangannya.


"Ayah, lama banget gak ada apa-apa kan di jalan?" tanya Naira cemas.


"Alhamdulillah gak ada Nai, itu bantuin suami kamu!" ucap Rama lalu mengajak Anisa masuk ke dalam rumah.


Begitu Samuel keluar dengan kantong belanjaan. Naira juga langsung mendekati sang suami.

__ADS_1


Naira melakukan hal yang sama ketika menghampiri sang ayah tadi, dia juga meraih tangan Samuel dan mencium punggung tangan suaminya itu.


"Mas, kamu kok kelihatan berantakan gini?" tanya Naira yang melihat penampilan suaminya sedikit berantakan dan kemeja yang di pakai Samuel sedikit kotor.


"Ceritanya panjang sayang, aku mau mandi dulu ya. Baru aku bikin gado-gado nya!" ucap Samuel yang mengajak Naira masuk ke dalam rumah.


Setelah meletakkan kantung belanjaan di atas meja di dapur, Samuel langsung masuk ke dalam kamarnya untuk langsung mandi dan berganti baju.


Naira yang sudah membantu Samuel menyiapkan baju ganti langsung beralih ke dapur dimana sang ayah dan ibu membantu menyiapkan bahan untuk gado-gado yang akan di buat Samuel.


"Ayah, ada apa sih sebenarnya?" tanya Naira pada ayahnya yang juga sudah berganti pakaian.


"Nai, kamu tahu gak di pasar tadi nak Samuel di kerubungin banyak orang, udah kayak gula di kerubungin semut!" ucap ayah dengan ekspresi wajah serius.


"Kenapa yah?" tanya Naira yang masih belum sadar kalau suaminya itu kelewat tampan dan membuat semua pedagang wanita di pasar mengaguminya.


"Banyak yang minta foto, banyak yang minta dagangan mereka di beli, malah ada yang ngasih dagangan nya gratis tapi semua di tolak sama nak Samuel, tukang ikan, tukang daging, tukang cabe. Heh, kasihan nak Samuel dia tuh mau jalan aja susah sangking rame nya orang yang minta foto tadi sama dia. Jadinya yah lama, untung ada anak buahnya nak Samuel tadi yang bantuin, kalau gak mungkin nak Samuel belum bisa keluar tuh dari kerumunan ibu-ibu pedagang di pasar!" jelas ayah Rama yang membuat Naira merasa bersalah pada suaminya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2