
Lima belas jam berlalu, hingga Samuel dan yang lain pun telah tiba di bandara internasional Berlin. Dengan ambulance yang sudah di siapkan juga oleh orang suruhan Samuel, Riksa di bawa menuju ke hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Di dalam kamar hotel, Riksa di temani oleh Samuel dan dokter Hilman. Sementara Dika, Eka dan anak buah yang lain ada di kamar yang lain pula. Total kamar yang mereka pesan adalah lima kamar. Samuel tentu saja tidak ingin mengambil resiko, karena di negara mereka saja, Mega dan Jonathan bisa mengacau sampai bisa membuat Riksa babak belur. Dan ini adalah negara asal Jonathan, tentu saja kekuatan mereka pasti akan lebih besar. Karena itu Samuel juga membawa orang-orang terbaiknya untuk ikut membantunya di sini.
"Bagaimana bos? apa Eka sudah tahu keberadaan Puspa?" tanya Riksa begitu membuka matanya.
Samuel sampai harus mengusap wajahnya kasar karena begitu membuka mata uang dipikirkan oleh Riksa adalah hal itu.
"Pikirkan saja kondisi mu, aku sudah meminta Eka kerja lembur dan berjanji akan memberikan nya bonus kalau berhasil menemukan rumah Jonathan yang menyebalkan itu!" seru Samuel.
Apa yang dikatakan Samuel itu membuat Riksa berpikir sejenak. Dia merasa kalau dia juga punya janji dengan seseorang. Begitu Riksa mengingatnya dia langsung melihat ke arah Samuel lagi.
"Bos, aku ada satu hal lagi yang sangat membutuhkan bantuan darimu!" ucap Riksa dengan mata yang begitu sayu karena keadaannya yang memang sangat lemah.
"Katakan?" tanya Samuel.
Dokter Hilman yang berada di antara dua orang yang sedang bicara ini sedari tadi memperhatikan ekspresi wajah Samuel, apapun yang dia katakan, nada tinggi dan nada rendah suara yang dia keluarkan ekspresi wajah nya tetap datar. Dan itu semakin membuat dokter Hilman merasa tertekan saat berada di dekat Samuel.
"Kemarin saat aku berusaha mengejar Puspa, kondisi ku sangat berantakan...!"
"Aku bisa melihatnya!" sela Samuel membuat Riksa menghela nafasnya berat.
Sejujurnya untuk bicara panjang lebar masih sangat sulit bagi Riksa, dadanya terasa sesak dan rasanya sekujur tubuhnya sakit seperti habis dipukuli ratusan tangan, dan itu memang benar. Lima puluh orang yang memukulnya artinya seratus tangan juga kan. Dan dia sedang berusaha mengatakan kejadian dimana dia telah berjanji pada seseorang yang telah menolongnya malah di sela oleh Samuel.
"Bos, bisa aku lanjutkan?" tanya Riksa yang masih bisa bersabar.
"Siapa yang melarang mu!" celetuk Samuel membuat dokter Hilman bahkan memegang keningnya karena tak habis pikir dengan dua orang yang ada di depannya itu.
"Saat tidak ada mobil yang berhenti untuk membantu ku, seorang karyawan perusahaan bos bagian administrasi, staf magang bernama Ucup telah membantuku. Aku pakai motornya untuk mengejar Puspa ke bandara, yah meskipun aku terlambat tapi bisa kah bos...!"
__ADS_1
"Apa? aku harus membelikannya motor baru, kenapa tidak kamu saja. Uang mu juga tak kalah banyak dariku!" sela Samuel lagi.
Dan kali ini Riksa mulai menunjukkan ekspresi jengah.
"Bos, kalau hanya untuk membelikannya motor baru aku tidak perlu meminta bantuan mu...!"
"Sombong sekali, tidak butuh bantuan ku lagi. Kenapa bicara padaku?" tanya Samuel yang kembali memotong apa yang ingin di sampaikan oleh Riksa.
Dan lagi-lagi dokter Hilman harus memegang keningnya bahkan sambil mendengus kesal.
'Ya Tuhan, kenapa aku harus menggantikan dokter Ataya yang sedang cuti melahirkan. Kalau tidak aku tidak perlu terjebak di antara dua orang aneh ini!' batin dokter Hilman.
Dokter Hilman sebenarnya ingin sekali keluar dari kamar hotel ini. Tapi dia juga tidak tahu dengan alasan apa dia keluar nanti.
"Bos, kamu kan yang punya perusahaan itu, aku berjanji padanya untuk menjadikan nya karyawan tetap. Bantu aku ya bos!" ucap Riksa dengan nada memelas.
Samuel terdiam dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Dokter Hilman yang melihat itu merasa kasihan pada Riksa, tapi saat dokter Hilman melihat ke arah Riksa. Dia malah bingung karena Riksa malah tersenyum tipis.
'Tu kan, aku tidak mengerti dengan dua orang ini!' batin dokter Hilman lagi.
Samuel pun masuk ke kamar Eka dan Dika.
"Dika!" panggil Samuel pada Dika yang tengah membantu pekerjaan Putra.
Setelah mendengar namanya dipanggil dan siapa yang memanggilnya, Dika langsung meletakkan tablet yang dia pegang dan berdiri menghampiri Samuel.
"Ya bos!" jawab Dika.
__ADS_1
"Kamu telepon Dina, katakan padanya untuk mengangkat karyawan magang di bagian administrasi yang bernama Ucup menjadi karyawan tetap!" perintah Samuel yang langsung di balas dengan anggukan paham oleh Dika.
"Baik bos!" jawab Dika lalu keluar dari ruangan itu untuk menghubungi Dina.
Samuel langsung menghampiri Eka yang sedang duduk di depan meja kerjanya dengan dua buah laptop dan satu buah handphone yang berada di depannya.
"Bagaimana? sudah kamu temukan?" tanya Samuel.
"Begini bos, ada delapan orang dengan nama Jonathan yang menjadi pengusaha muda saat ini. Kalau kita tahu nama belakangnya sebenarnya akan lebih mudah. Aku sedang mencari tahu satu-persatu. Sayang sekali hanya tiga orang yang wajahnya di tampilkan di media. Aku juga sudah memerintahkan beberapa orang menyambangi alamat ke delapan orang ini. Semoga salah satunya adalah Jonathan yang kita cari!" jelas Eka panjang lebar.
Adam hanya bisa menghela nafasnya. Dia juga tidak berpikir untuk bertanya pada Puspa siapa nama panjang Jonathan. Kalau dia tahu pasti tidak akan selama ini menemukan kediaman Jonathan itu.
Sementara itu di rumah Jonathan. Semua orang sedang panik karena Puspa bahkan telah membakar kamarnya sendiri saat ini. Awalnya dia hanya membakar baju pengantin yang disiapkan oleh Mega. Namun karena dia sangat kesal, dan merasa putus asa karena takut Riksa tidak bisa menemukan nya tepat waktu. Dia malah melemparkan gaun yang sudah terbakar itu ke atas tempat tidurnya. Dan alhasil, semuanya terbakar, untung saja ada pelayan yang mendengar suara dan mencium sesuatu yang terbakar, kalau tidak mungkin Puspa juga sudah ikut terbakar.
"Apa yang kamu lakukan? jangan bodoh. Kamu bisa melukai dirimu sendiri!" bentak Mega setelah Puspa berhasil di selamatkan oleh para penjaga.
Jonathan yang sedang berada di kantor, begitu dia mendengar kabar itu langsung pulang ke rumah dan melihat kondisi Puspa.
"Dia baik-baik saja kan Tante?" tanya Jonathan pada Mega.
"Maaf nak Jonathan, kamar dan barang-barang yang ada di dalamnya ikut habis terbakar!" ucap Mega yang merasa tidak enak pada Jonathan.
"Tidak apa-apa Tante, yang penting Puspa tidak apa-apa!" ucap Jonathan sambil menyentuh kepala Puspa dengan lembut.
Namun Puspa segera menepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku, dasar kalian semua penipu!" seru Puspa lalu meninggalkan Jonathan dan juga Mega.
***
__ADS_1
Bersambung...