Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
193


__ADS_3

Mas terdiam saat aku menarik tangan ku, dia terlihat merasa sangat bersalah, dia hanya menundukkan kepalanya dan beberapa saat sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikit pun selain hembusan nafas yang terdengar begitu berat.


Aku juga tidak bicara, aku merasa kalau ada sesuatu yang membuat ku merasa tidak rela, tidak ingin kalau mas Sam masih berurusan dengan wanita bernama Caren itu.


Wanita itu adalah mantan kekasihnya, wanita itu juga yang selama beberapa tahun telah menjadi orang yang memenuhi hatinya dan sangat dia cintai. Bahkan setelah aku masuk ke dalam hidup mas Sam, mas Sam bahkan begitu menunjukkan kalau tidak akan ada wanita yang lain yang mampu menggantikan kedudukan Caren dalam hatinya.


Aku merasa kalau wanita itu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun, termasuk oleh ku. Aku tidak ingin bertengkar dengan mas Sam, karena di rumah ini ada kakek dan juga ayah Damar dan ibu Stella. Aku memang tidak terbiasa untuk bersuara dengan nada tinggi, tapi aku tahu tabiat Samuel. Dia akan berteriak kalau merasa apa yang dia katakan tidak di dengar oleh lawan bicara nya.


Aku memutuskan untuk menghindar saja, hatiku sedang tidak mau di ajak berkompromi. Bahkan telingaku juga tidak mau mendengar apapun tentang wanita dari masa lalu suamiku yang bahkan mendapatkan hadiah perpisahan satu buah rumah yang begitu besar dan megah itu.


Aku memutuskan untuk berdiri dan keluar dari kamar. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan diri. Tapi ketika aku akan meninggalkan mas Sam, dia menahan tangan ku.


"Naira, aku tahu seharusnya aku tidak berurusan lagi dengannya, tapi aku membantunya hanya karena kemanusiaan. Dia terlihat sangat menyedihkan...!"


"Cukup mas, kenapa dari apa yang kamu katakan seolah kamu sudah melakukan sesuatu yang salah dan menyakiti ku. Kamu kan hanya menabraknya secara tidak sengaja, pasti kamu hanya membawanya ke rumah sakit lalu mengobati nya kan? setelah itu kamu pasti hanya mengantarkan dia pulang. Dan semua selesai kan? kenapa mas Sam seolah...!"


"Mulai besok dia kan bekerja di perusahaan!" sela mas Sam saat aku bicara.


Aku terkesiap kaget, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mas Sam. Dia mengatakan kalau wanita itu bahkan akan bekerja di kantor nya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi hari ini antara mas Sam dengan wanita itu sampai dia bisa membuat keputusan itu tanpa bertanya dulu padaku.


Aku tahu aku sama sekali tidak berhak melarangnya merekrut siapapun yang akan bekerja di perusahaan miliknya, tapi setidaknya tidak perlukah dia bertanya padaku tentang hal itu. Hatiku sungguh sangat kecewa, aku tahu mas Sam memang belum benar-benar melupakan wanita itu, mas Sam memang tidak benar-benar mencintaiku.


Aku segera menghentakkan tangan ku.


"Naira, sayang... dengarkan dulu. Dia sama sekali tidak bisa bekerja di tempat lain...!"


"Dia sarjana mas, aku saja yang lulusan SMA bisa bekerja meskipun hanya di sebuah toko buku kecil!" ucap ku menahan kesal dalam hatiku.


"Sayang, tidak seperti itu, masalahnya adalah Kenzo sudah...!"

__ADS_1


"Aku mau pulang ke rumah ayah!" ucap ku lalu berjalan ke arah tas ku dan mengambil ponsel yang ada di atas meja.


"Sayang, aku minta maaf. Tapi kalau kamu melihat nya tadi, kamu juga akan...!"


Aku tidak mau lagi bicara, aku benar-benar merasa kesal, kecewa, marah dan sedang dalam mode tidak mau mendengar apapun penjelasan Samuel. Aku hanya merasa apa yang dilakukan oleh Samuel itu sama saja tidak menghargai aku sebagai istrinya. Kalau itu orang lain aku juga tidak masalah, tapi wanita itu adalah mantannya. Dan wanita itu selalu bilang padaku, kalau dia tidak akan pernah melepaskan mas Sam.


Aku tidak mau lagi mendengar apapun yang di katakan mas Sam, aku memilih untuk langsung keluar dari dalam kamar dengan terus berusaha menahan tangis yang mau tumpah di pelupuk mataku.


"Naira... Naira tunggu dulu. Dengarkan dulu penjelasan ku!" ucap mas Sam sambil terus berusaha menghentikan langkah ku.


"Minggir mas, aku tidak mau membuat keributan!" seru ku dengan tatapan tegas pada mas Sam.


"Naira!" lirih mas Samuel sambil berusaha menyentuh tanganku, namun dengan sigap aku langsung menarik tangan ku lagi.


"Kita sudah menikah, dan kamu sendiri yang bilang kalau semua perjanjian itu sudah tidak ada lagi, apa aku tidak perlu tahu keputusan sebesar itu, keputusan membawa wanita dari masa lalu mu kembali ke sisi mu di perusahaan?" aku bertanya pada mas Sam tanpa melihat ke arahnya. Aku sungguh sedang menahan air mataku agar tidak jatuh.


"Bos! Nai!" pandangan ku langsung beralih ketika mendengar suara Riksa dari arah ruang tamu.


Aku segera berjalan menghampiri Riksa.


"Riksa, apa kamu sedang sibuk?" tanya ku pada Riksa.


Riksa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak Nai, aku baru dari kantor. Semua pekerjaan sudah selesai. Aku mau menyerahkan dokumen ini pada bos!" jawab Riksa sambil menunjukkan dokumen yang dia bawa di tangannya.


"Kalau begitu serahkan dokumen itu, dan antar aku ke rumah ayah Rama!" ucap ku pada Riksa.


Riksa tidak langsung menjawab, dia masih melihat ke arah ku lalu bergantian ke arah Samuel yang masih diam di tempatnya tadi.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan serahkan dokumen ini pada bos dulu!"


"Letakkan saja dokumen itu di atas meja, cepat Riksa!" ujar ku dengan nada yang kian meninggi.


Masalahnya aku sudah tidak kuat menahan air mataku yang menggenang sejak tadi. Aku juga tidak mau kalau kakek atau ibu keluar dari kamar mereka dan bertanya. Karena aku pasti tidak akan sanggup mengatakan semuanya tanpa menangis di depan mereka. Dan itu pasti akan membuat kakek dan ibu jadi sedih dan marah pada mas Sam.


Riksa terlihat terkejut, dia langsung meletakkan dokumen itu dan berbalik berjalan ke arah ku.


"Riksa!" panggil Samuel.


Riksa langsung berbalik lagi.


"Iya bos!" jawab Riksa yang kembali menghentikan langkahnya.


"Bawa mobilnya pelan-pelan. Aku akan menyusul sebentar lagi!" ucap mas Sam yang sudah tidak ingin aku dengar lagu suaranya.


Aku memilih untuk langsung berjalan dengan cepat keluar dari rumah saat mas Sam bicara pada Riksa.


Aku langsung masuk ke dalam mobil Riksa dan langsung memakai sabuk pengaman.


Tak lama Riksa juga keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobil.


Dia memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil, tapi sebelum dia menginjak pedal gas, dia memberikan sapi tangannya padaku.


"Menangis lah jika ingin menangis!" ucap nya sambil mengulurkan tangan kirinya yang memegang sapu tangan berwarna biru tua.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2