
Aku merasa terkejut ketika Samuel memeluk pinggang ku dan kami nyaris bersentuhan satu sama lain karena terlalu dekat. Aku pikir memang seperti inilah posisi yang seharusnya saat berdansa, karena jujur saja aku belum pernah berdansa selama ini. Tidak tahu juga bagaimana caranya.
Tapi beruntung nya aku punya teman-teman baru seperti Riksa dan juga Puspa, mereka bahkan menunjukkan caranya padaku, agar aku tidak membuat Samuel dan keluarganya malu.
Tapi setelah aku perhatikan lagi, Riksa tidak memeluk Puspa seperti yang dilakukan di lidah tajam ini padaku.
"Tu..tuan, ini tidak seperti yang mereka contoh kan?" tanya ku sedikit ragu pada Samuel.
"Pernah berdansa?" tanya nya balik.
Aku langsung menggelengkan kepalaku.
"Kalau begitu diam, dan ikuti saja. Lihat gerakan Puspa!" ucapnya dan aku kembali melihat gerakan Puspa.
Aku melangkah dengan sangat hati-hati. Aku tidak ingin terjatuh atau salah langkah dan membuat Samuel malu. Kalau itu sampai terjadi aku jamin, saldo hutang ku akan semakin membengkak.
Semakin lama aku seperti nya sudah mulai bisa mengimbangi gerakan Samuel, sepertinya tidak sulit, hanya perlu bergerak ke kanan lalu ke kiri, ke kanan lagi dan ke kiri lagi, dan ketika Puspa berputar, aku juga mengikutinya. Aku makin menyukai mereka, mereka baik sekali.
Tapi perlahan alunan musiknya berganti, menjadi musik yang sangat slow dan romantis. Pengarah acara terdengar berbicara agar yang lainnya juga ikut berdansa.
Aku melihat Puspa dan Riksa seperti nya berpelukan.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya ku berbisik pada Samuel.
"Berdansa!" jawab Samuel cuek.
"Mereka berpelukan, apa kita juga harus seperti itu?" tanya ku sedikit ragu. Aku takut kalau tidak minta ijin dulu, dia akan marah saat aku meletakkan kedua tangan ku di lehernya seperti yang dilakukan Puspa pada Riksa.
Tapi bukan menjawab, Samuel malah langsung menarik kedua tangan ku dan mengalungkan tangan ku belakang lehernya dan lagi-lagi menarik pinggang ku agar makin dekat padanya.
Deg deg deg
Aku tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria, jantung ku rasanya mau melompat dari tempatnya. Aku bahkan tak sanggup menatap Samuel, seperti apa yang di lakukan Puspa pada Riksa. Aku memilih menunduk, melihat ke arah dada Samuel saja.
"Lihat aku!" perintah Samuel.
"Tapi tu... tuan!" ucap ku ragu.
__ADS_1
"Lihat aku, atau hutang mu...!"
"Iya, aku lihat!" ucap ku dan langsung menatap wajah Samuel.
Aku bergerak mengikuti langkah kaki Samuel, kali ini aku benar-benar tidak lagi meniru gerakan Puspa dan juga Riksa. Aku melihat mata coklat Samuel yang begitu tegas dan tajam, wajah pria ini sangat tampan, dengan rahang yang begitu kuat menambah kesan tegas pada paras tampannya.
'Hah, apa aku sedang mengagumi pria di depan ku ini?' tanya ku dalam hati.
Tak lama aku sedang merasa kalau pria di depan ku ini sangat tampan dan sikap nya membaik.
"Sedang mengagumi ku?" tanya nya dingin.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah, tatapan nya berubah dan nada bicara nya membuat ku merinding.
"Kamu bahkan tidak sepantas itu sampai bisa mengagumi ku!" serunya sombong.
'Hah, aku bersyukur kamu mengatakan itu, jika tidak aku benar-benar akan mengagumi mu. Dasar lidah tajam!' pekik ku dalam hati.
Meski hatiku kesal aku hanya bisa tersenyum, sampai musiknya berhenti. Dan kami kembali ke pelaminan. Untuk sesaat aku tersesat karena mengira Samuel akan berubah dan bersikap baik padaku.
Awalnya Samuel ingin menginap saja di hotel, tapi karena paksaan ibu Stella kami harus kembali ke rumah, ke rumah Samuel maksudnya. Sedangkan yang lain memang akan stay di hotel selama tiga hari.
Aku dan Samuel pulang bersama dengan salah satu asisten ibu Stella, aku tidak tahu kenapa harus seperti itu tapi kurasa Samuel sangat tidak menyukai dia ikut bersama kami.
Perjalanan dari hotel ke rumah Samuel cukup jauh, hingga aku memutuskan untuk tidur saja di dalam perjalanan. Tapi baru saja aku memejamkan mata, kaki ku di tendang lumayan kuat.
"Augh!" pekik ku sambil mengangkat kakiku dan mengelus nya dengan tangan ku.
Siapa lagi yang bisa melakukan kekejaman itu pada wanita lemah seperti ku selain pria arogan yang saat aku menoleh ke arahnya dia malah sedang bersandar di kursinya sambil memejamkan matanya.
'Ih, apa coba maksudnya? dia tidur tapi bisa nendang kaki orang. Ni orang ngingau apa gimana sih!' keluh ku dalam hati.
Aku masih terus mencoba memperhatikan nya, tapi dia tidak membuka matanya. Aku menggeser duduk ku makin menjauh darinya, dan karena aku semakin lelah. Aku berusaha untuk membuat posisi duduk yang nyaman sebelum aku kembali memejamkan mataku. Tapi lagi-lagi baru akan memejam..
"Siapa yang menyuruh ku tidur?" sebuah suara membuat mataku kembali terbuka suaranya begitu dekat. Dan saat aku membuka mataku.
"Gyahhhh!" pekik ku sambil mendorong Samuel menjauh.
__ADS_1
Tapi kemudian aku segera menyadari kalau aku telah membuat raut wajah Samuel makin tidak enak di lihat. Aku segera melipat kedua telapak tangan ku di depan wajah ku.
"Ma..maaf kan aku tuan. Aku tidak sengaja! aku terkejut..!"
"Tuan?" tanya asisten ibu Stella yang bernama Merry.
Aku langsung menoleh ke arah bibi Merry dan beralih ke arah Samuel. Tapi ketika aku melihat Samuel, dia benar-benar seperti ingin kenal ku hidup-hidup. Aku sampai kesusahan saat akan menelan saliva ku sendiri.
Aku tersenyum canggung pada bibi Merry.
"Itu.. tadi saya tertidur dan bermimpi!" jelasku sangat gugup.
Bibi Merry terlihat mengangguk paham.
"Kalau boleh tahu nona Naira panggil tuan Samuel apa?" tanya bibi Merry.
Aku menoleh ke arah Samuel lagi, tapi si lidah tajam ini malah memalingkan pandangannya dariku.
"Em, saya panggil dia em..mas.. iya mas Sam!" ucap ku sambil cengengesan.
Aku jadi mengerti kenapa ibu Stella meminta bibi Merry bersama kami dan kenapa Samuel terlihat tidak suka pada bibi Merry.
'Oh, aku menyayangi mu ibu mertua ku! ternyata kamu ingin melindungi ku dari penindasan si lidah tajam!' batin ku senang karena ternyata ibu Stella sangat baik dan perhatian padaku.
Bibi Merry kembali melihat ke arah depan, seperti nya dia juga lelah dan mulai menopang kepala nya dengan tangan sambil memejamkan matanya.
Namun ketenangan ku tidak berlangsung lama, Samuel kembali mendekati ku dan berbisik.
"Jangan senang karena ada bibi Merry, dia tidak akan mengganggu urusan antara suami dan istri!"
Aku lebih merinding lagi karena ucapan Samuel barusan.
'Apa maksudnya?' tanya ku dalam hati karena sungguh tak mengerti.
***
Bersambung...
__ADS_1