Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
284


__ADS_3

Riksa masih terus merutuki kebodohan nya karena tak mendengarkan apa yang Puspa katakan agar dirinya menghubungi Samuel. Riksa saat ini berusaha menghubungi Samuel sambil terus menghentikan mobil yang melintas di jalan, entah nasib sialnya atau bagaimana sejak tadi bahkan tidak ada satu mobil taksi pun yang lewat di jalan ini.


"Ayolah bos, tolong cepat angkat telepon nya!" seru Riksa yang sudah sangat panik dan mata yang sudah berkaca-kaca.


Riksa takut sekali kalau sampai dia tidak bisa mengejar Puspa ke bandara, karena jika Puspa sudah di bawa keluar negri akan memakan waktu untuk menemukannya. Sementara dirinya tidak bisa membayangkan apa yang bisa terjadi selama waktu pencarian alamat kedua orang tua Puspa di Jerman.


Namun entah nasib memang mempermainkan Riksa atau bagaimana, ketika dirinya mencoba menghubungi Samuel, nomer Samuel tidak bisa di hubungi. Riksa baru ingat kalau di jam ini Samuel memang ada meeting penting dengan tuan Thomas dan dua perusahaan penting lainnya. Wajar kalau Riksa tidak bisa menghubungi Samuel.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Riksa yang sudah sangat frustasi.


Dengan kondisinya yang babak belur di tambah pakaian yang acak-acakan. Sangat sulit membuat pengendara lain yang melintas di jalan itu untuk bersedia menghentikan mobilnya untuk Riksa.


"Ya Tuhan, aku mohon bantu aku. Aku mohon ya Tuhan!" seru Riksa sambil terus berusaha menghentikan mobil yang melintas.


Namun ketika Riksa sedang berusaha menghentikan beberapa mobil, sebuah motor matic menghampiri nya dan berhenti di dekatnya.


"Pak Riksa!" panggil seorang pria berkacamata dengan kemeja warna hijau telur asin yang segera melepas helmnya.


Riksa yang mendengar namanya di panggil langsung melihat ke arah orang yang memanggilnya.


"Kamu mengenal ku?" tanya Riksa yang tidak mengenal orang itu setelah melihat ke arahnya.


"Pak Riksa, saya Ucup karyawan magang di bagian administrasi, bapak kenapa begini?" tanya Ucup yang merasa kasihan pada keadaan Riksa.


Mata Riksa langsung beralih ke arah motor matic yang berada di samping Ucup.


"Aku pinjam motor mu, ini keadaan darurat. Dengar kalau aku berhasil mengejar kekasih ku, besok kamu tidak akan lagi jadi karyawan magang. Berikan kuncinya!" seru Riksa yang langsung menaiki motor matic milik Ucup.


Ucup langsung memberikan helm dan kunci motornya pada Riksa. Dengan cepat Riksa langsung memakai helm yang diberikan oleh Ucup dan langsung melajukan motor itu menuju ke arah bandara.

__ADS_1


Ucup yang mendengar apa yang tadi Riksa katakan langsung melipat tangannya di depan dadanya. Dia berdoa agar Riksa bisa mengejar kekasihnya itu agar dirinya juga tidak lagi menjadi karyawan magang.


"Ya Tuhan, bantulah pak Riksa. Mudahkanlah perjalanan nya mengejar kekasihnya. Amin!" ucap Ucup dengan tulus meskipun dia juga berdoa untuk dirinya sendiri sebenarnya.


Riksa terus mengemudikan motor matic milik Ucup dengan kecepatan yang sangat tinggi. Riksa memang cukup pandai berkendara dengan sepeda motor, bahkan pria dengan wajah oriental ini memang pandai mengemudikan kendaraan jenis apapun. Dia bahkan bisa mengemudikan kendaraan berat seperti truk, bus atau yang lainnya.


Kurang dari setengah jam, Riksa pun sampai di depan bandara. Dia bahkan tidak melepas helm yang dia pakai. Dan langsung berlari masuk ke dalam terminal keberangkatan ketika dia sudah menghentikan motor matic itu dan parkir di tempat yang seharusnya.


Dalam keadaan nya yang sebenarnya sudah sangat lelah, dia masih terus berusaha untuk bisa masuk secepatnya ke dalam bandara. Berharap tidak ada pesawat yang lepas landas selama setengah jam dia mengejar Puspa.


Begitu sampai di bagian informasi, dia pun bertanya pada petugas yang ada disana.


"Mbak, apakah ada pesawat yang terbang menuju Jerman beberapa menit ini?" tanya Riksa dengan terburu-buru.


Petugas bagian informasi yang di tanya oleh Riksa menunjukkan ekspresi wajah yang sedikit ketakutan ketika melihat keadaan Riksa.


"Tuan, kondisi anda parah sekali tuan. Sebaiknya anda ke klinik yang ada di sebelah sa...!"


Petugas itu sampai terkesiap dan memegang dadanya karena kaget di bentak oleh Riksa. Ternyata walaupun niatnya baik, jika di waktu yang tidak tepat, akhirnya juga akan membuatnya merasa tidak enak sendiri.


"Maaf tuan, penerbangan ke Jerman sudah berangkat lima belas menit yang lalu. Dan itu penerbangan terakhir hari ini!" jelas petugas yang bername-tag Ivone itu.


Riksa bahkan sudah terjatuh dan terduduk lemas di lantai sebelum Ivone selesai bicara.


"Puspa, Ya tuhan. Aku terlambat...!" lirih Riksa yang mulai merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Ivone yang merasa khawatir pada kondisi Riksa, meminta salah satu petugas pria untuk membantunya membawa Riksa ke klinik yang ada di bandara.


Tapi ketika dua petugas itu berusaha membangunkan Riksa dan memapahnya menuju ke klinik, Riksa masih sempat bertanya pada Ivone kapan penerbangan ke Jerman selanjutnya. Ivone yang merasa kasihan pada Riksa pun segera kembali ke meja kerjanya dan mengecek di komputer nya, setelah dia mendapatkan informasi nya dia segera kembali kepada Riksa sambil memapah nya dengan seorang petugas pria menuju ke arah klinik bandara.

__ADS_1


"Besok pagi jam 6 pagi, ada satu penerbangan ke Jerman tuan!" jelas Ivone.


Riksa merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri.


'Aku tidak bisa menunggu selama itu, aku harus segera menemui Samuel!' batin Riksa.


Riksa kemudian melepaskan tangan petugas pria itu dan Ivone.


"Terimakasih atas bantuan kalian, tapi aku harus segera pergi!" ucap Riksa yang tanpa menoleh lagi langsung meninggalkan petugas pria itu dan juga Ivone.


"Hei, ada apa dengan orang itu. Dia bahkan tidak bisa berjalan dengan benar, jalannya saja sudah sempoyongan!" gumam petugas pria yang tadi membantu memapah Riksa.


"Tidak tahu bang, tapi kelihatannya dia sedang mengejar hidupnya!" jawab Ivone yang masih terus memandangi Riksa yang berjalan sempoyongan keluar dari bandara.


"Maksud mu?" tanya petugas pria itu.


"Entahlah, tapi pria seperti itu... beruntung sekali gadis yang sedang dia kejar!" jawab Ivone yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Apasih maksud kamu Ivone, gak ngerti aku!" sahut petugas pria itu lagi.


Ivone lalu mengalihkan pandangannya dari pintu keluar bandara yang sudah tak tampak lagi Riksa disana menuju ke arah petugas pria yang berada di sampingnya itu.


"Bang Muhtar jomblo ya?" tanya Ivone pada petugas pria uang ternyata bernama Muhtar.


Dan dengan polosnya Muhtar pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Pantesan, apa yang di alami pemuda itu gak akan di mengerti sama jomblo!" tambah Ivone yang langsung meninggalkan Muhtar yang masih berdiri mematung di tempatnya karena bingung menuju ke meja kerjanya lagi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2