Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
156


__ADS_3

Setelah Caren keluar dari pintu kamar hotel, aku langsung melepaskan tangan Samuel dari pinggang ku. Aku tahu dia cuma mau pamer kemesraan saja, Samuel hanya mau membalas Caren.


Tapi ketika aku melepaskan tangannya dia malah menarik ku ke pelukan nya dan mengencangkan pelukan tangannya yang berada di belakang pinggang ku.


"Kamu marah?" tanya nya.


Aku menatap tajam ke arahnya.


"Kenapa aku harus marah?" tanya ku balik pada Samuel.


"Sayang dengar, aku janji padamu akan aku buatkan rumah yang lebih indah dan lebih megah dari rumah itu, nanti kalau kita sudah kembali ke ibukota kita akan mencari lokasi yang strategis, yang kamu sukai!" kata Samuel.


Aku jadi ingat kalau di dekat komplek perumahan dimana ayah ku tinggal ada tanah yang di jual.


"Mas, di dekat rumah ayah saja bagaimana?" tanya ku.


Tapi Samuel malah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, disana terlalu ramai!" ucap Samuel beralasan.


"Lagipula, disana pasti tanah nya tidak seluas rumah lama itu kan. Aku akan carikan tanah yang sangat luas, hingga apapun yang kamu inginkan ada di ruang itu nanti akan bisa kita bangun dan kita buat!" ucap nya lalu mencium pipi kiri ku.


Jujur saja di perlakukan seperti ini oleh Samuel sangat membuat ku senang. Dia benar-benar sudah jauh berubah dari Samuel yang beberapa hari yang lalu. Dia memperlakukan aku dengan lembut dan penuh perhatian.


"Sayang, kamu mandilah. Aku akan mengajak mu jalan-jalan!" ucap Samuel sambil melepaskan pelukannya dari pinggang ku.


Aku bergegas mandi dan berganti pakaian, setelah itu Samuel menghubungi pak Ranu dan mengatakan untuk membereskan semua barang-barang di rumah itu. Dan jangan sampai ada benda yang tertinggal satu pun. Rumah itu benar-benar harus di kosongkan.


"Mas, kalau di kosongkan! lalu semua barang-barang yang ada disana mau di taruh dimana?" tanya ku penasaran.


"Ada gudang besar di belakang kediaman Virendra, selain barang-barang di dalam kamar dan di ruang kerja ku. Maka semua akan di letakkan di gudang itu!" jawab Samuel.

__ADS_1


Aku mengangguk paham, aku jadi penasaran seperti apa kediaman Virendra itu. Bahkan gudangnya saja bisa menampung barang-barang yang begitu banyak dari rumah lama.


Beberapa lama kemudian, kami sudah berada di depan sebuah tempat yang pemandangannya sangat indah. Tapi anehnya banyak sekali rumah yang sangat tinggi dengan bentuk yang unik dan menurutku sangat mengagumkan.


Tapi untuk naik ke sana hanya ada tangga seperti tangga biasa.


"Mas, kita akan naik ke sana?" tanya ku pada Samuel.


Dan Samuel pun langsung mengangguk cepat. Aku langsung bergidik ngeri. Samuel langsung mendekatiku dan berbisik di telingaku.


"Kita bisa melihat pemandangan indah dari atas sana, makan siang romantis. Dan kita juga bisa melakukan itu...!" Samuel mengakhiri kalimatnya dengan kode yang aku tahu apa artinya itu.


Aku benar-benar langsung gemetaran, aku memang belum katakan pada Samuel kalau aku takut ketinggian. Apalagi melakukan hal itu di tempat yang seperti itu.


"Mas, aku takut ketinggian!" ucapku pada Samuel.


Samuel langsung melihat ke arah ku dengan tatapan yang merasa bersalah. Dia memegang tangan ku yang aku yakin saat ini sudah terasa sangat dingin telapak tangan ku.


Sebenarnya aku merasa tidak enak, dia tadi sudah menyewa tempat itu. Dari jauh terlihat tidak terlalu tinggi, tapi ketika berada di bawahnya jadi terlihat sangat tinggi.


"Benar tida apa-apa mas?" tanya ku.


Samuel menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ini menurutku adalah pemandangan yang sangat langka.


"Tidak apa-apa sayang, ayo!" ucapnya lalu mengajak ku beranjak dari sana.


Saat kami berada di dalam mobil Samuel terus menggenggam tangan ku dan terus melihat ke arah ku membuat ku semakin malu rasanya.


"Kita akan kemana mas?" tanya ku coba untuk mengalihkan perhatian nya yang sedari tadi terus melihat ke arah ku.


"Ke tempat yang romantis dan membuat kita rileks!" ucapnya.

__ADS_1


Dan tak lama kemudian kami sampai di sebuah tempat yang tak kalah asri dari tempat semula tadi. Ada plang bertuliskan K spa.


Aku memang pernah dengar tentang spa, dan pemandangan disini sangat indah. Perbukitan dengan banyak bunga dan pepohonan lalu kicauan burung yang menambah asri mata yang memandang.


Baru sampai pada resepsionis saja kami sudah di suguhkan pemandangan yang begitu indah.


"Selamat siang, selamat datang silahkan tuan dan nyonya!" sapa seorang wanita berpakaian khas Bali dan memakai sebuah bunga yang di selipkan di atas salah satu telinganya.


"Silahkan tuan, ini adalah paket bulan madu yang terbaik!" ucap wanita itu.


Samuel melihat dan membaca lalu dia menentukan pilihan.


"Relaxing Royal Couple!" ucapnya.


"Baik tuan, ini adalah paket terbaik kami, selama dua jam, anda akan dibuai dengan pijatan tradisional khas Bali, body scrub, mask dan diakhiri dengan berendam mandi susu. Selamat menikmatinya tuan dan nyonya!" ucap wanita itu dengan sangat ramah.


Lalu salah satu wanita yang lain mengajak kami ke sebuah ruangan yang cukup jauh dari resepsionis itu. Tapi benar saja, udaranya memang terasa sangat segar, dan wangi. Ketika menghirup udara di sini pikiran ku dalam sekejap menjadi rileks dan terasa sangat tenang.


Kami berdua pun mulai dengan segala treatment yang ada. Rasanya sedikit canggung ketika hanya memakai kain yang khusus disiapkan tanpa pakaian lain di dalamnya. Tapi selama di pijat Samuel terus melihat ke arah ku dan terkadang mengulurkan tangannya padaku membuat ku membalas uluran tangannya.


Kami benar-benar seperti pasangan suami istri yang sedang honeymoon. Sampai saat kami di arahkan di satu ruangan oleh wanita yang tadi memijat kami.


"Silahkan tuan dan nyonya bisa berendam di kolam susu yang telah kami siapkan. Tuan dan nyonya bisa bersantai karena kami menjamin privasi tuan dan nyonya di tempat ini, silahkan!" ucap wanita itu.


Samuel dan aku masuk ke dalam ruangan, dan Samuel mengunci pintunya. Di kiri dan kanan juga dinding yang terdapat pintu itu terbuat dari bebatuan yang disusun sangat apik. Sedangkan di depan kolam seperti jacuzzi yang lumayan besar yang sudah di penuhi dengan air susu juga taburan bunga-bunga yang tercium sangat harum terdapat sebuah dinding kaca besar yang langsung bisa melihat ke arah pemandangan perbukitan.


Samuel mengajakku untuk turun ke dalam jacuzzi yang besar itu dan ternyata saat kami duduk di dalamnya airnya benar-benar hanya setinggi dada. Rasanya sangat tenang dan benar kata Samuel, tempat ini membuat pikiran dan hati menjadi rileks untuk sejenak.


Saat aku sedang memejamkan mataku, aku merasa ada yang menyingkap kain yang aku pakai. Dengan cepat aku membuka mata, dan Samuel yang melakukan. Dia sudah berada di depan ku dengan tatapan mata yang aku tahu benar apa yang dia inginkan.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2