
Author POV
Mengetahui kalau rumah yang dia tempati sertifikat nya ada pada mantan kekasih suaminya. Naira sebenarnya juga tidak seberapa terkejut, pasalnya dia memang mengetahui kalau suaminya dulu sangat cinta mati pada mantan kekasihnya itu. Dan Naira juga pernah dengar dari pak Ranu, kalau rumah besar itu memang di bangun untuk Caren, sesuai dengan gaya dan kemauan Caren.
Saat Naira merasa heran kenapa di taman bagian belakang hanya tanah lapang dan beberapa pohon bahkan di cabut sampai ke akarnya, Naira mendapatkan jawaban dari pak Ranu. Bahwasanya, memang tempat itu sengaja akan di bangun kolam renang yang luas untuk Caren. Dari semua itu, Naira juga tidak heran kalau sertifikat itu ada pada Caren.
Sementara itu di dalam hatinya Caren tersenyum puas, meski sekarang raut wajahnya terlihat sedih dan tak berdaya. Tapi sebenarnya dalam hatinya senang, dia tahu dengan apa yang dia katakan maka tidak mungkin Naira tidak marah pada Samuel. Dan Samuel dia pasti juga sedang bimbang akan hal ini.
Dulu dia mengatakan kalau rumah itu memang di hadiahkan untuk Caren, karena itu Samuel bahkan telah memberikan sertifikat nya pada Caren.
Dan sekarang Caren sudah tidak sabar untuk menantikan pertengkaran antara Samuel dengan Naira.
Samuel yang memang tengah bingung menjelaskan pada Naira pun sedari tadi hanya menatap istrinya yang masih diam tak bereaksi itu.
"Sayang!" ucap Samuel lembut sambil menggenggam tangan Naira.
"Bisa kita bicara sebentar!" lanjut Samuel mengisyaratkan kalau dia ingin bicara berdua saja dengan Naira.
Samuel lalu menarik pelan tangan Naira menuju ke kamar mereka. Naira menoleh sekilas ke arah Caren yang sesekali masih menyeka air mata di wajahnya.
Samuel membawa Naira mendekati tempat tidur mereka, lalu meminta Naira untuk duduk di tepi tempat tidur. Sedangkan dirinya berjongkok di depan Naira sambil terus menggenggam erat kedua tangan Naira.
Samuel masih menundukkan wajahnya, sebenarnya dia bingung harus mulai darimana. Dia merasa tidak enak pada Naira, karena tidak pernah memberitahukan hal ini pada Naira, kalau mereka tinggal di rumah yang sebenarnya telah dia hadiahkan pada Caren.
Menunggu Samuel yang tak kunjung bicara, Naira mengerti mungkin suaminya itu bingung untuk memulai apa yang ingin dia katakan.
"Apa mas ingin memohon untuk wanita itu?" tanya Naira lembut.
__ADS_1
Tapi karena pertanyaan dari Naira itu, Samuel langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke manik mata coklat istrinya yang menyiratkan banyak pertanyaan.
"Naira, dulu rumah itu memang...!"
"Aku tahu, bahkan lapangan luas di belakang rumah itu untuk di buat kolam renang kan. Karena kamu tahu mantan kekasih mu itu senang sekali berenang!" sela Naira.
Samuel dibuat diam seribu bahasa, tanpa dia mengatakan Naira bisa tahu semua hal itu. Ternyata Samuel dulu memang terlalu mengacuhkannya, sampai tidak tahu Naira memperhatikan setiap hal seperti itu.
"Sayang, maafkan aku. Jika kamu tidak mau meninggalkan rumah itu. Maka aku akan meminta sertifikat itu dari Caren, aku akan menggantikan nya dengan rumah yang lain!" ucap Samuel.
Tapi Naira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Mungkin tidak apa-apa bagimu melakukan semua itu, tapi bagiku tidak. Aku tidak mau suamiku mengambil kembali apa yang sudah dia berikan sebagai hadiah pada orang lain!" Ucap Naira dengan mata yang berkaca-kaca.
Samuel lalu bangun dan memeluk istrinya itu dengan erat.
Naira sebenarnya sangat sedih, tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum. Lagipula rumah itu kan di bangun memang bukan untuk dirinya. Untuk apa dia bertahan disana, dan membuat Samuel harus kembali mengeluarkan uang untuk membeli rumah yang lain. Bukan masalah uangnya, tapi Naira tidak ingin wanita yang notabene nya adalah mantan kekasih suaminya itu menjadi besar kepala karena keinginan nya di turuti oleh Samuel, dan kalau sampai Samuel membelikan nya rumah lagi, nanti wanita itu bisa salah mengartikan kalau Samuel masih begitu perduli padanya sampai harus membelikan rumah baru hanya karena dia di buang oleh mantan tunangan nya itu.
Meskipun itu benar, tapi Naira tidak akan membiarkan Caren berpikir seperti itu.
"Sayang, apa kamu tidak keberatan kalau untuk sementara kita tinggal di kediaman Virendra sampai rumah untuk mu siap?" tanya Samuel yang melepaskan pelukannya dari sang istri lalu memandang wajah manis istrinya itu.
Naira mengangguk pelan. Meskipun sebenarnya dia cukup ketar-ketir karena tahu Adam juga tinggal disana. Dan masalah telepon dari Riksa kemarin sebenarnya juga masih membuatnya cemas. Kalau nama penyewa mobil yang hampir menabraknya waktu itu adalah Adam. Meskipun sebenarnya Naira juga tidak yakin.
Setelah mendapatkan jawaban dari sang istri, Samuel berkata.
"Aku akan minta pak Ranu, membereskan semua barang-barang kita. Dan minta pada asisten rumah tangga yang lain untuk membereskan barang-barang mereka juga dan pindah ke kediaman Virendra!" seru Samuel.
__ADS_1
Naira lagi-lagi mengangguk kan kepalanya.
"Mas, sebaiknya kita bicara dulu pada Caren!" ucap Naira dan samuel pun segera berdiri dan meminta Naira untuk berdiri juga.
Setelah Naira berdiri, Samuel merangkul pinggang Naira dan mengajaknya berjalan menuju Caren.
Terpancar raut ketidaksukaan ketika Caren melihat betapa romantisnya pasangan yang ada di depannya itu. Tapi dia menahan kesalnya dengan mengepalkan tangan di belakang pinggangnya.
'Kalian terlihat sangat bahagia, kita lihat saja. Setelah hidup ku menderita begini. Bagaimana aku akan membuat hidup perempuan itu juga sama menderitanya seperti ku. Seharusnya kalau tidak ada dia, aku pasti bisa kembali pada Samuel!' gumam Caren dalam hati.
Tapi meskipun sangat kesal, Caren masih berusaha mempertahankan ekspresi wajah yang sedih dan tak berdaya nya.
"Maafkan aku jika aku membuatmu harus bertengkar dengan istrimu Sam!" ucap Caren berusaha memperkeruh hubungan Naira dan Samuel.
"Aku tidak bertengkar dengan istriku. Asal kamu tahu Caren, istriku ini adalah wanita yang berhati sangat tulus dan juga baik. Saat aku mengatakan untuk mengambil sertifikat itu darimu, dia malah mengatakan untuk tidak melakukan hal itu. Apa yang sudah aku berikan kepada seseorang tak seharusnya aku mengambilnya lagi. Sesuai dengan sertifikat itu, rumah itu milik mu. Aku akan meminta orang-orang ku untuk mengemas semua barang-barang ku dari sana. Kamu bisa tinggal di rumah itu!" tegas Samuel yang terus memeluk pinggang Naira.
Caren begitu terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Samuel.
"Oh ya satu lagi, setelah ini aku dan kamu tidak akan pernah ada urusan apapun lagi! silahkan keluar!" ucap Samuel dengan raut wajah begitu dingin saat menatap Caren.
Caren terhenyak dalam hatinya, dia tidak menyangka kalau Samuel memang sudah benar-benar jatuh pada pengaruh istrinya itu dan menuruti setiap perkataan istrinya itu.
Author POV end
****
Bersambung...
__ADS_1