Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
315


__ADS_3

Riksa telah sampai di kantor Kenzo Hasigawa, dia berjalan dengan langkah tidak terlalu cepat, tapi karena kakinya juga lumayan panjang jadi terkesan cepat juga dia berjalan. Pandangan matanya lurus ke depan, beberapa orang yang mengenalnya menyapanya, namun sama sekali tidak di perduli kan oleh Riksa. Rahangnya terlihat mengeras pertanda dia tengah menahan emosinya.


Setelah tiba di depan ruangan Kenzo Hasigawa. Sekertaris Kenzo menghampiri Riksa.


"Selamat malam tuan Riksa, tuan Kenzo sedang tidak ingin di ganggu. Harap tuan...!"


Tapi belum juga sekertaris Kenzo selesai bicara, Riksa sudah membuka pintu ruangan itu dan menerobos masuk.


"Tuan Kenzo, maaf saya sudah bilang kalau tuan tidak bisa di ganggu tapi tuan Riksa...!"


"Sudah sudah, Jessica kamu pergilah!" seru Kenzo yang memang sedang menyandarkan kepalanya di sofa.


Dia langsung mengangkat kepalanya dan meregangkan otot lehernya ke kanan dan ke kiri. Jessica pun langsung keluar dari ruangan itu. Riksa hanya diam berdiri sambil menatap tajam ke arah pria yang sedang meregangkan otot tangan dan pinggangnya itu.


"Hari ini beberapa orang membuat ku sangat lelah, apa kalian tidak ada pekerjaan lain sehingga terus datang ke kantor ku ini. Seingat ku, aku tidak punya janji dengan Virendra grup!" oceh Kenzo uang memang merasa hari ini dia sangat lelah.


Sudah beberapa hari ini dia sulit tidur, di tambah semua rencananya sepertinya tidak berjalan sesuai dengan keinginan nya. Semua itu membuat Kenzo Hasigawa merasa lelah dan kesal.


"Aku pikir tuan muda Hasigawa lah yang tidak punya pekerjaan, kalau tidak mana mungkin anda punya waktu merencanakan semua kekacauan ini!" ucap Riksa dengan santai dan sangat tenang.


Pembawaan Riksa memang sangat tenang, ketika marahnya sudah memuncak pun dia tetap bisa bicara dengan kepala dingin.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Riksa, Kenzo malah jadi terkekeh.


"Ha ha ha, kekacauan? kekacauan apa yang sudah ku buat?" tanya Kenzo berpura-pura tidak tahu segalanya.


"Terserah anda mau mengakuinya atau tidak tuan muda Hasigawa, tapi yang pasti apapun yang anda lakukan untuk mengganggu Naira dan bos ku, semua itu akan tetap dengan hasil yang sama yaitu kegagalan!" jelas Riksa pada Kenzo dengan menekankan kata terakhir yang terdapat dalam kalimatnya itu.

__ADS_1


Perkataan Riksa itu membuat Kenzo yang awalnya terkekeh menjadi muram.


'Tidak mungkin mereka tahu, aku bahkan tidak meninggalkan jejak apapun!' batin Kenzo sangat yakin.


Riksa yang melihat perubahan ekspresi wajah Kenzo semakin yakin kalau dia adalah dalang di balik semua yang terjadi akhir-akhir ini.


"Sebaiknya dengarkan saran dariku tuan muda Hasigawa, jika masih ingin bekerjasama dengan perusahaan kami dan juga tuan Thomas, maka berlakulah jujur. Pisahkan dengan jelas antara pekerjaan dan persoalan personal, persoalan pribadi. Karena anda akan hancur sendiri kalau terus berusaha menghancurkan orang lain yang bahkan tidak punya niat buruk sedikit pun pada anda. Pikirkan perkataan ku ini baik-baik!" seru Riksa yang setelah mengatakan semua itu dia menatap Kenzo beberapa detik tanpa berkedip.


Setalah itu Riksa langsung berbalik dan akhirnya keluar dari ruangan kerja Kenzo Hasigawa. Setelah langkah Riksa tidak terdengar, Kenzo Hasigawa langsung duduk kembali di sofa dia kembali menyandarkan kepalanya di sofa dan memijit kepalanya itu yang rasanya semakin lama semakin berdenyut kuat.


Keesokan harinya.


Adam dan Vina berniat untuk menjenguk Naira di rumah sakit sebelum mereka berdua pergi bekerja. Setalah perkataan Vina kemarin, akhirnya pikiran Adam terbuka dan tak lagi membenci Naira seperti dulu, meskipun dia juga belum terlalu menyukai kakak iparnya itu. Tapi mereka di kejutkan dengan kedatangan Putra di depan pintu ketika mereka berdua akan keluar dari rumah.


"Om Putra!" sapa Adam


Dengan mata berkaca-kaca, Putra berjalan mendekati Adam.


Mata Vina bahkan sudah ikut berkaca-kaca melihat Putra yang terlihat begitu ingin bertemu dengan Puspa.


Adam masih diam, membuat Putra terlihat semakin sedih. Vina yang langsung ingat pada ayahnya ketika melihat Putra sedih begitu, langsung maju dan bicara.


"Kak Puspa ada di rumah sakit, kami akan pergi ke sana. Om bisa ikut kami kalau ingin bertemu dengan kak Puspa!" ucap Vina membuat Adam dan Putra langsung menoleh ke arahnya.


Adam terlihat tidak senang karena setahunya Puspa tidak mau bertemu dengan keluarga nya. Tapi Putra malah sebaliknya, dia tersenyum.


"Benarkah?" tanya Putra yang langsung mengangguk senang.

__ADS_1


"Om mau nak, om mau ikut kalian ke rumah sakit!" ucap Putra sangat senang.


Adam melotot ke arah Vina, tapi Vina tidak perduli soal itu, dia hanya melihat tatapan rindu seorang ayah pada anaknya. Persoalan orang lain akan marah padanya, Vina sama sekali tidak perduli. Dia hanya tidak mau melihat seorang ayah merasa sedih karena rindu ingin bertemu dengan putrinya tapi tidak tahu harus menemuinya dimana.


Mereka bertiga pun berangkat ke rumah sakit bersama. Adam sengaja berjalan di belakang Vina dan juga Putra. Langkah Vina dan Putra berhenti ketika melihat Puspa dan Riksa yang sedang berdiri di depan ruang rawat Naira. Vina langsung menarik Adam menjauh.


"Ruang rawatnya disana, kita mau kemana?" tanya Adam kesal.


Vina langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Adam.


"Sssttt... tidak lihat, itu urusan keluarga. Sebaiknya kita tidak ikut campur ayo, kita ke kantin saja dulu cari kopi panas!"


"Memangnya siapa yang tadi ikut campur urusan keluarga orang lain!" kesal Adam namun tetap mengikuti langkah Vina menjauh dari Puspa dan ayahnya.


Riksa langsung mundur dan hendak beranjak dari tempatnya ketika melihat ayah Puspa datang. Tapi sebelum Riksa melangkah, Puspa menahan tangan Riksa, membuat ayah Puspa semakin mendekati mereka.


"Ayah merestui kalian berdua nak, ayah hanya ingin kebahagiaan mu, tidak perduli...!"


Brukk


Puspa langsung menubruk ayahnya dan memeluknya dengan erat. Puspa menangis di pelukan sang ayah yang sebenarnya juga sangat dia rindukan.


"Maaf ayah, aku sudah membuat ayah sedih!" lirih Puspa sambil menenggelamkan wajahnya di pelukan ayahnya.


"Tidak nak, ayah yang seharusnya minta maaf. Karena ayah tidak bisa tegas dan malah membuatmu menangis dan menderita. Padahal sejak kecil kamu tidak pernah meminta apapun pada ayah, hanya restu saja kenapa ayah tidak bisa sejak dulu memberikan nya padamu dan Riksa. Ayah lah yang telah membuat mu sedih!" ucap Putra yang mengusap kepala Puspa dengan lembut.


Riksa tersenyum melihat pemandangan di depannya itu, setidaknya dia telah mendapatkan restu dari ayah Puspa. Itu artinya secepatnya dia bisa menjadikan Puspa, istrinya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2