Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
37


__ADS_3

Tatapan mata si lidah tajam itu benar-benar terlihat seperti seekor macan yang sedang melihat seekor hyena, kurasa dia bukan ingin menerkam ku kerena merasa aku ini mangsanya. Tapi kurasa dia lebih ingin mencabik-cabik seluruh tubuh ku dan meremukkan tulang-tulang di sekujur tubuh ku. Ini mengerikan, aku pun menunjukkan ekspresi takut pada si lidah tajam.


Dan sikap ku itu terbaca oleh ibu Stella, aku bersyukur ada ibu Stella disini.


"Sam, jangan melotot pada Naira!" seru ibu Stella dan sungguh aku bisa menghela nafas ku lega.


"Dasar tukang ngadu!" celetuk Samuel.


"Naira tidak mengatakan apapun, sudahlah duduk dengan tenang. Pak Urip!" ibu Stella memanggil nama pak Urip.


Dan sambil tetap fokus ke arah depan. Pak Urip mengangguk kan kepalanya dan menyahut


"Iya nyonya!"


"Pak Urip pasti tahu kan, gerai ayam geprek yang Naira maksud?" tanya Ibu Stella.


Dan lagi-lagi sambil terus melihat ke arah depan, pak Urip melakukan hal yang sama seperti yang baru saja dia lakukan.


"Iya nyonya, saya tahu!" jawab pak Urip.


"Bagus, kita kesana ya!" seru ibu Stella.


"Baik nyonya!" jawab pak Urip lagi.


Si lidah tajam melirik tajam ke arah ku dan aku hanya memalingkan wajah ku.


Stella Virendra POV


Aku masih memperhatikan gerak-gerik putra sulung ku dan seorang gadis yang di akuinya sebagai calon istrinya.


Aku sudah beberapa lama bersama mereka berdua. Dan sebagai seorang ibu aku tahu kalau putra ku ini sedang membohongiku dan sedang bersandiwara di depan ku.


Awalnya aku percaya pada apa yang dia katakan kalau gadis cantik dan sederhana bernama Naira ini adalah kekasihnya yang akan segera dia nikahi. Tapi setelah melihat nya sendiri, dari sikap dan cara Samuel memandang Naira. Aku bisa melihat tidak ada sedikit pun cinta dimata Samuel untuk Naira


Aku sebenarnya sedih karena hal ini. Tapi setelah berfikir cukup lama sambil berendam di salon tadi. Aku tahu satu hal. Pilihan Samuel untuk di jadikan istrinya ini tidak salah. Aku sedari tadi memang memperhatikan Naira, cara bicaranya, cara dia dia bersikap. Dia memang seorang gadis yang sederhana.


Dan meskipun dia juga ikut dalam sandiwara ini tapi aku tahu dia tidak berbohong. Dia mengatakan pertama kali bertemu dengan Samuel di gerai ayam geprek, dan saat aku tanya pak Urip dia memang tahu tempat itu. Artinya dia memang bertemu dengan Samuel disana, dan dia tidak berbohong.


Entah apa yang membuat Naira setuju bersandiwara dengan putra ku. Tapi aku akan berusaha membuat sandiwara ini benar-benar terjadi. Aku akan memastikan putraku melupakan kekasihnya yang arogan itu dan mencintai istrinya sepenuhnya.


Dan dari pengamatan ku, seperti nya putra ku membuat Naira merasa takut dan tertekan. Mungkin Naira telah melakukan kesalahan, sebenarnya aku penasaran sekali. Tapi aku akan mengikuti permainan Samuel dan melihat sejauh apa dia bisa menutupi kalau dia masih berhubungan dengan wanita bernama Caren itu.


"Kamu sebelum nya bekerja dimana Nai?" tanya ku.


"Di toko buku Bu, di depan gang rumah ku!" jawab nya.


Sepertinya dia belum bisa lebih terbuka dan menjadi lebih akrab dengan ku, tapi ini sudah baik. Dia bisa tersenyum dan menjawab pertanyaan ku dengan cepat tanpa berfikir. Dan itu membuat ku yakin kalau dia berkata jujur dan tidak di buat-buat.

__ADS_1


Tapi tadi telapak tangannya sempat aku pegang, dan terasa sangat dingin. Aku tahu dia sangat gugup.


"Coba ceritakan tentang keluarga mu Nai, ibu ingin tahu lebih banyak!" ucap ku lagi pada Naira.


Bahkan sebelum menjawab pertanyaan ku, dia sempat menoleh ke arah Samuel. Kurasa dia sangat takut jika sampai salah menjawab.


Aku berusaha meyakinkan Naira, kalau apapun yang dia katakan tidak perlu takut pada reaksi Samuel. Aku menepuk punggung tangan nya pelan, membuatnya percaya padaku.


"Nai, katakan saja. Ceritakan tentang dirimu yang sebenarnya, ibu bukan orang yang memandang segala sesuatu dari besar kecil, tinggi rendah dan banyak atau tidak. Ibu dulu juga sama seperti mu!" ucap ku pada Naira.


Kurasa ini adalah cara yang mampu membuat Naira terbuka padaku. Aku mencoba menceritakan tentang diriku terlebih dahulu.


Ketika aku mengatakan kalau aku ini juga sama seperti Naira, gadis itu menatap ku dengan penuh perhatian, sepertinya dia sedikit tidak percaya tapi dia ragu untuk bertanya.


"Kamu mau dengar cerita tentang ku?" tanya ku dan aku melihat reaksi gadis itu.


Naira mengangguk kan kepalanya dan tersenyum.


"Tapi setelah itu ceritakan tentang dirimu..!"


"Ibu, ayolah. Kenapa terus menerus bertanya banyak hal pada Naira, apa ibu tidak lelah?" tanya Samuel menyela apa yang aku katakan pada Naira.


Rasanya ingin sekali aku menjewer telinga anak nakal ini, lalu bukan karena dia. Mana mungkin aku juga terlibat masalah dengan Keluarga Morgan itu, kalau bukan untuk menjauhkan dia dari Caren, wanita arogan dan tidak tahu tata krama itu mana mungkin aku dan ayahnya sampai harus merencanakan perjodohan untuk nya.


"Bisa diam tidak! ibu tidak sedang bicara padamu!" ucap ku ketus pad Samuel.


Kalau saja aku dan dia tidak sedang berada di depan calon istri nya. Aku akan menjewer telinganya sampai merah dan panjang.


Aku melihat Naira mulai tidak canggung, dia sudah mulai bereaksi meskipun hanya kekehan tanpa suara saat aku memarahi Samuel. Aku bisa melihat dengan jelas, Naira akan senang kalau Samuel dimarahi atau mengalami kesulitan, dan sebaliknya Samuel terlihat senang kalau Naira merasa terpojok. Aku yakin ini adalah awal yang baik mereka berdua.


"Ibu dulu juga adalah seorang wanita dari keluarga biasa seperti mu, tapi ibu bisa tidak patah semangat. Ibu kuliah dengan beasiswa, ibu bekerja sambil kuliah dan akhirnya ibu bisa bekerja di luar negri dan saat itu lah ibu bertemu dengan ayah nya Samuel, bukan sebagai mahasiswi di kampus yang di danai oleh ayah nya Samuel. Tapi sebagai seorang pelayan kafe pada acara pertunangan ayah nya Samuel!" ceritaku pada Naira.


Naira terlihat sangat terkejut, dia bahkan makin serius memperhatikan aku.


"Ibu pernah menjadi pelayan kafe?" tanya Naira ragu. Aku bisa mengetahui kalau di ragu untuk menanyakan itu karena bibirnya terlihat bergetar, dan aku tahu itu adalah ekspresi tidak enak hati.


Aku langsung menganggukan kepala ku, aku menepuk punggung tangannya.


"Benar, aku dulu adalah wanita sederhana yang juga punya pemikiran sangat sederhana. Aku hanya ingin sukses dan sukses saja dalam hidup ku, sampai usia ku dua puluh lima tahun, aku sama sekali tidak pernah merasakan jatuh cinta. Dan cinta pertama dan terakhir ku adalah ayah nya Samuel!" jelas ku panjang lebar.


Naira tersenyum, matanya berbinar.


"Ibu luar biasa sekali. Aku jadi berfikir mungkin selama ini aku kurang semangat berusaha, baiklah mulai sekarang aku akan lebih semangat bekerja agar bis sukses seperti ibu Stella!" ucap nya.


"Hei..!" pekik Samuel dari arah belakang.


Jujur saja Samuel membuat ku terkejut sampai aku harus mengusap dadaku.

__ADS_1


Plak


Aku harus memukul paha Samuel karena terkejut dia memekik tadi.


"Ibu! kenapa memukul ku lagi?" tanya nya memprotes apa yang aku lakukan.


"Kenapa berteriak? ibu kaget!" balas ku tak kalah meninggikan suara ku.


"Ibu dengar kan tadi apa yang dia katakan? kenapa dia malah mau bekerja setelah menikah? Naira dengar ya, tidak ada lagi bekerja setelah kita menikah, tugas mu hanya di rumah dan menunggu ku pulang kerja setelah itu siapkan semua keperluan ku saat aku pulang, cukup lakukan itu saja!" seru Samuel.


Dan jujur saja, aku senang mendengar Samuel mengatakan semua itu pada Naira. Itu memang tugas nya seorang istri, dan mendengar kalimat itu di ucapkan oleh Samuel yang selalu mandiri dan mengurus dirinya sendiri terdengar seperti kalimat yang indah di telinga ku.


"Memang nya Naira pelayan, kenapa minta di layani?" tanya ku sengaja memancing jawaban apa yang akan di katakan oleh Samuel.


"Dia kan akan jadi istri ku, bukan kah itu memang kewajiban seorang istri, aku membacanya di internet!" jawab nya.


Aku langsung menepuk jidat ku sendiri. Ku kira dia memang mengerti hal ini, ternyata dia membaca nya di internet.


'Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?' tanya ku dalam hati karena merasa geram pada Samuel.


"Sekarang ceritakan tentang dirimu!" ucap ku lagi. Aku sungguh ingin tahu tentang calon menantu ku ini.


"Ayah ku adalah seorang penjaga sekolah dan ibuku bekerja di kantin sekolah, aku lulusan SMA, dan selama lebih dari dua tahun aku bekerja di toko buku milik ko Acong, dia adalah orang yang sangat baik. Kegiatan ku setiap harinya hanya membantu ibu memasak makanan yang akan di jual di kantin dan bekerja di toko buku. Tidak ada hari libur, tapi ko Acong selalu memberikan cuti bergilir untuk ku dan kedua teman ku...!"


"Ibu sudah sampai!" sela Samuel ketika aku sedang mendengarkan apa yang Naira ceritakan.


Aku gemas sekali, akhirnya aku mendengus kesal.


"Samuel, kamu yang masuk ke dalam. Pesan makanan untuk kita dan juga keluarga Naira, kamu tentu tahu kan berapa jumlah anggota keluarga Naira!" seru ku karena aku benar-benar kesal pada anak ku yang tampan itu.


"Ibu, kenapa aku? pak Urip kan bisa!" protes nya lagi.


"Samuel, turun dan pesan kan makanan!" seru ku lagi.


Sambil keluar dari dalam mobil, aku melihat Samuel menggerutu, tapi dia tetap keluar dan melaksanakan perintah ku. Aku tahu, putra ku itu meskipun terlihat melawan tapi sebenarnya di sangat menyayangi ku. Hanya saja aku sedih karena dia begitu mencintai wanita yang menurut ku tidak baik untuknya.


Aku tahu sebagai ibu seharusnya aku mendukung kebahagiaan nya, tapi jujur saja aku merasa dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam, perasaan ku mengatakan kalau Caren bukan wanita yang baik untuk Samuel.


"Lanjutkan Nai!" seru ku pada Naira.


"Aku juga punya seorang adik, namanya Ibras...!"


Naira menceritakan tentang dirinya dan kehidupan nya, tapi dari ceritanya yang panjang lebar itu, dia sama sekali tidak menyebutkan tentang Samuel. Aku jadi semakin yakin kalau Naira juga tidak mencintai Samuel.


'Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? mereka berdua benar-benar hanya bersandiwara!' gumam ku dalam hati.


Stella Virendra POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2