Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
196


__ADS_3

Kami masuk ke dalam rumah, mas Sam duduk di sebelah ku. Di depan ayah dan ibu aku rasa aku harus bersikap biasa saja karena tidak mungkin aku membuat ayah dan ibu tahu kalau sebenarnya aku dan mas Sam sedang bertengkar.


"Nak Sam sudah makan belum? Nai, tadi ibu mu masak pecel , nak Sam doyan tidak makanan seperti itu?" tanya ayah ku dengan sangat ramah pada mas Sam.


Mas Sam melihat ke arahku, dan aku sengaja memalingkan wajah ku darinya.


"Doyan yah, sebentar ya aku akan ambilkan!" ucap ku bersemangat.


Sebenarnya aku tidak tahu mas Sam suka atau tidak dengan makanan seperti itu, tapi aku punya ide yang sedikit jahil. Aku berjalan ke arah dapur, sementara mas Sam mengobrol dengan ayah dan ibu ku.


Aku mengambil piring dan menyiapkan beberapa sayuran yang di rebus seperti bayam, kangkung, kacang panjang dan juga tauge di atas piring. Kemudian aku meraup beberapa buah cabai rawit yang aku tuang ke atas cobek, di tambah dengan bawang putih, dan bumbu-bumbu lain aku haluskan bersamaan, sengaja aku menambah kan banyak garam dan juga cabai yang sangat banyak agar mas Sam mulas setelah makan makanan racikan ku ini.


"Makan ini ya mas Sam, kamu akan tahu bagaimana rasanya mulas. Salah siapa kamu membawa perempuan dari masa lalu mu itu kembali ke sisi mu!" gumam ku sambil meracik semua bumbu menjadi satu.


Setelah selesai dan sudah di lengkapi dengan kerupuk. Aku membawa piring berisi sambal pecel mercon yang akan membuat bibir mas Sam yang tipis itu menjadi tebal karena dower itu ke ruang tamu.


"Mas, cobalah. Ini racikan spesial dariku. Setelah ini ambilkan kelapa muda di belakang rumah ya!" seru ku pada mas Sam sambil menyerahkan piring itu padanya.


"Ambil kelapa muda?" tanya mas Sam terkesiap.


Mas Sam terlihat bingung, tapi aku langsung mengangguk kan kepala ku dengan cepat.


"Iya, aku tadi itu ingin sekali air kelapa, makanya aku minta Riksa membelikannya. Tapi rasa air kelapa yang tidak tidak manis sama sekali. Jadi setelah makan ini mas Sam panjat pohon kelapa di belakang rumah ayah ya!"


Krek


Piring yang di pegang mas Sam nyaris saja terjatuh dari tangan mas Sam.


"Panjat pohon sayang?" tanya mas Sam terlihat meneguk saliva nya dengan cepat.


"Tapi... aku belum pernah memanjat pohon. Begini saja, aku akan meminta Riksa mencarikan kelapa muda yang airnya manis untuk mu ya?" tanya mas Sam setelah menjelaskan padaku kalau dia mang belum pernah memanjat pohon apalagi pohon kelapa yang tentu saja lebih tinggi dari pohon-pohon yang lain.


"Naira, biar Ibras saja nanti yang panjat. Dia sedang pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan sekolah nya!" ucap ayah yang terkesan membela Samuel.


"Ayah, tapi aku mau mas Sam yang memanjat pohon kelapa itu. Kata ini Stella dia tidak mau calon cucunya ngences, jadi kata ibu Stella aku harus katakan apa yang aku mau pada mas Samuel!" jelas ku pada ayah yang terlihat sangat mengkhawatirkan mas Sam.

__ADS_1


Begitu juga dengan mas Sam, dia terlihat gugup. Bahkan aku bisa melihat ada keringat yang keluar di pelipis nya. Memang wajar sih, di rumah ku ini tidak ada pendingin udara selain di kamar ku dan di ruang makan. Mas Sam pernah menawarkan pada ibu untuk memasang pendingin udara di kamarnya tapi ayah dan ibu menolaknya, mereka bilang tidak perlu karena udara di sekitar sini sudah dingin, apalagi di malam hari dan di waktu subuh.


"Nak Sam, apa yang di katakan Naira itu benar loh. Kalau ibu hamil kemauannya tidak di turuti, nanti bayi kalian bisa ngences!" jelas ibu yang dari tadi sepertinya menyimak dengan seksama apa yang aku katakan.


Ibu kemudian menepuk lengan ayah ku.


"Ayah ingat tidak, waktu ibu dulu hamil Naira. Ibu juga pengen sekali itu markisa di rumah pak RT, padahal belum berbuah. Tapi karena ibu sangat ingin tiba-tiba saja ada satu buah yang nyempil di pojokan, yang tak terlihat orang lain dan hanya terlihat oleh ibu!" jelas ibuku menceritakan kisah ngidamnya saat dulu ibu hamil aku.


Dan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibu itu, ayah jadi manggut-manggut setuju dengan pernyataan ibu barusan.


"Iya, tapi apa nak Sam tidak apa-apa kalau memanjat pohon kelapa. Kalau jatuh bagaimana?" tanya ayah yang masih terlihat cemas.


"Aku akan menelpon sebentar! aku akan panjat pohon itu dan mengambilkan kelapa muda untuk mu dan calon anak kita!" ucap Samuel lalu meletakkan piring nya di atas meja.


Setelah itu dia berdiri dan meraih ponselnya dari saku celana nya. Dia menghubungi seseorang, dan kalau tebakan ku benar, dia akan menghubungi Riksa. Siapa lagi yang akan dia hubungi kalau butuh bantuan.


Ibu langsung menggeser duduknya mendekat ke arahku.


"Hei Naira, sebenarnya ada apa? kamu tidak terlihat seperti wanita hamil yang sedang ngidam, tapi seperti seorang istri yang sedang kesal pada suaminya dan memberinya pelajaran?" tanya ibu ku.


Aku melebarkan mataku, ternyata ibu memang luar biasa. Dia bisa tahu apa yang aku rasakan hanya dengan melihat raut wajahku dan cara bicaraku.


"Ibu, huh aku sedang sangat kesal pada mas Sam. Tapi aku tidak bisa menceritakan nya sekarang, masalahnya aku belum mendengarkan penjelasan nya, tapi tetap saja rasanya aku tidak ingin mendengar penjelasan nya!" ucap ku pada ibuku.


Ibuku hanya mengelus lembut kepala ku.


"Baiklah kalau begitu, kamu bisa ceritakan pada ibu kalau kamu ingin cerita. Tapi apapun masalah di antara kamu dan suami mu. Kalau bisa jangan membuat mu melupakan kesehatan mu. Jangan sampai kamu bersedih dan membuat pola makan mu bermasalah, pola istirahat mu bermasalah. Kalau memang kamu ingin menenangkan diri di sini. Maka tinggal lah disini, kalau kamu ingin sendiri dan tidak ingin nak Sam ada disini, ibu akan mengusirnya...!"


"Ibu, jangan bicara seperti itu!" seru ayah tiba-tiba menyela ucapan ibu.


"Kenapa sih yah, Naira ini sedang hamil ya. Memangnya ayah mau Naira seperti tetangga kita Si Dewi itu, yang keguguran karena suaminya berselingkuh?" ucap ibu ku dengan suara yang meninggi.


Aku sampai terkejut mendengar apa yang tadi ibuku ucapkan.


"Ibu pelan kan suara mu, nak Sam ada di luar!" seru ayah mengingatkan ibuku.

__ADS_1


Aku terdiam, aku terkejut karena ibu benar-benar seperti seorang peramal yang mengetahui segalanya. Dia bahkan tahu apa yang aku cemaskan tanpa aku bercerita padanya. Ibu bisa tahu kalau saku sedang kesal pada mas Sam karena wanita lain.


Tapi aku juga bergidik saat ibu mengatakan tetanggaku mbak Dewi keguguran karena suaminya berselingkuh.


"Naira jangan dengarkan ibu mu!" ucap ayah mencoba untuk menetralkan suasana.


"Nak Sam tidak mungkin melakukan hal semacam itu, nak Sam itu pria yang baik!" ucap ayah memuji kebaikan Samuel.


"Apa gunanya baik yah, kalau di belakang kelakuan nya nihil...!"


"Ibu sudah!" ucap ayah yang sudah mulai menekankan suara di setiap penggalan katanya.


"Ayah yang sudah, pokoknya nanti ayah diam saja. Biar Naira memberi pelajaran pada suaminya!" ucap ibuku terdengar sangat tegas.


Mungkin ada nilai positif juga ibu menonton drama sinetron di televisi. Ibu lebih sensitif dan kali ini aku setuju pada pendapat ibuku.


"Tapi nak Sam bisa jatuh nanti, dia bisa terluka. Mana mungkin orang kaya seperti nak Sam memanjat pohon kelapa? Naira, pikirkan lagi nak. Hati boleh panas, tapi kepala tetap harus dingin!" ucap ayah membuat ku kembali berpikir tentang keputusan ku ini.


Tapi ketika aku sedang berpikir, mas Sam kembali masuk ke dalam rumah.


"Naira sayang, tunggu sebentar. Aku akan memanjat pohon kelapa itu, tapi aku sedang menunggu sesuatu yang akan membantu ku memanjat pohon itu!" seru Samuel.


Aku sudah menduganya, pasti mas Sam akan dengan mudah melakukan itu. Tapi aku juga jadi tidak perlu berpikir dua kali kan untuk memintanya memanjat pohon.


"Ya sudah, sekarang kamu makan saja dulu! biar nanti ada tenaga untuk memanjat pohon!" seru ku sambil meraih piring yang berada di atas meja dan menyerahkannya pada mas Sam.


"Ini pedas tidak?" tanya mas Sam yang setahu ku memang tidak suka makanan pedas.


"Sambal pecel itu ya harus pedas nak Sam, kalau manis itu gula bukan sambal!" ucap ibu membuat ku ingin tertawa tapi aku urungkan karena melihat lirikan tajam ayah padaku.


Dengan ragu, mas Sam duduk di sebelah ku dan mencoba satu sendok penuh makanan yang aku racik.


"Huh... ini pedas!" seru mas Sam yang langsung meletakkan piring itu kembali ke atas meja berlari ke arah dapur.


Aku dan ibuku tertawa tanpa mengeluarkan suara ketika melihat mas Sam kalang kabut begitu. Tapi kami berdua langsung diam ketika ayah melotot ke arah kami.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2