
Aku kembali menuju ke dapur, setelah menghabiskan dua buah sandwich pagi ini. Di tambah lagi secangkir teh sungguh membuat perut ku sangat penuh. Rasanya sangat kenyang sekali. Sampai malas ingin melakukan apapun.
Saat sampai di dapur, para pelayan sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat masakan. Banyak daging dan juga ikan, ada juga udang dan cumi-cumi. Ini banyak sekali, aku penasaran apa semua ini akan dimasak dalam waktu yang bersamaan. Kalau di rumah biasanya ibu hanya akan memasak satu jenis lauk saja, kalau masakan ayam goreng maka dia hanya akan menambahkan sayur pakis atau sayur bayam. Kalau masak cumi sambal dia juga akan memasak sayuran tumis atau sayur kuah bening.
Tapi kan di rumah ku hanya ada empat orang, kalau disini kan ada lebih dari sepuluh orang. Mungkin akan berbeda porsi masaknya. Aku ikut membantu salah seorang pelayan mengupas bawang bombai yang kebetulan berada paling dekat dengan ku. Aku bertanya padanya.
"Apa semua bahan di atas meja ini akan dimasak?" tanya ku bisa saja.
Pelayan itu mengangguk cepat.
"Iya nona, kami harus memasak semua ini. Karena tuan Samuel tidak suka makan sayuran, dan tidak pernah mengatakan dia mau makan apa! jadi kami memasak semuanya!" jelas nya dan dia mengatakan semua kalimat itu dengan sopan. Mungkin karena status ku disini adalah istri Samuel. Padahal mereka tidak tahu saja, kalau Samuel hanya memperlakukan aku tak ubahnya seperti seorang pelayan.
"Pemborosan!" gumam ku pelan dan aku harap tidak ada yang mendengar apa yang aku katakan.
Aku cukup senang menghabiskan waktu bersama dengan para pelayan yang bertugas menyiapkan makanan, mereka sangat ramah dan mau terbuka. Mereka tidak terlihat canggung meskipun aku kan baru pertama kali ini bicara dengan mereka.
"Lalu apa lagi yang terjadi setelah itu?" tanya ku pada pelayan yang bernama Mela yang menceritakan saat pertama kali dia bekerja dan sudah menumpahkan minuman di sepatu Caren.
"Untung saja nona, untung saja saat itu nyonya besar datang. Jika tidak saya yakin itu adalah hari pertama dan terakhir saya bekerja disini!" jelasnya.
Aku jadi berfikir, apakah Samuel membawa wanita-wanita nya ke rumah ini juga, siapa saja ya. Aku jadi sangat penasaran.
"Eh, ngomong-ngomong sudah berapa banyak pacar tuan, em maksudku mantan pacar tuan yang di bawa ke rumah ini?" tanya ku penasaran pada Mela dan juga Yuni.
Mereka berdua saling pandang.
"Seperti nya hanya nona dan nona Caren saja. Suatu kali pernah ada juga seorang wanita cantik, tapi tuan Samuel tidak mengijinkannya masuk karena di luar pun dia sudah bertengkar dengan nona Caren, tuan Samuel sampai sekarang tidak mengijinkan wanita itu masuk ke dalam rumah, bahkan para penjaga di ingatkan untuk tidak membuka pintu gerbang bagi wanita itu. Terlihat sekali kalau tuan Samuel itu sangat mencintai nona ca... ups maafkan aku nona Naira, aku tidak bermaksud bicara begitu!"
Pelayan bernama Yuni itu langsung menangkup kan kedua tangannya dan terus meminta maaf Aku rasa dia merasa telah menyinggung ku dengan apa yang telah dia katakan mengenai berapa Samuel sangat mencintai Caren. Padahal hal itu sama sekali tidak menggangguku, apalagi menyinggung ku. Aku cukup sadar diri, kalau apa yang dikatakan Yuni itu benar.
__ADS_1
Aku memegang tangan Yuni yang menangkup, dia malah menjauhkan wajahnya dan memasang ekspresi ketakutan seolah aku akan memukulnya.
"Hei, jangan minta maaf!" ucapku sambil tersenyum.
Yuni dan Mela terlihat bingung.
"Nona Naira tidak marah?" tanya Yuni lagi masih dengan wajah gugup. Aku tahu itu karena dia mulai berkeringat di pelipis nya padahal ruangan ini memakai pendingin ruangan.
Aku dengan santai menggelengkan kepala ku, karena aku memang tidak marah.
"Tidak, kenapa aku harus marah? itu adalah masa lalu! sekarang dia adalah suami ku!" ucap ku meyakinkan mereka.
Karena kalau aku mengatakan aku tidak perduli, maka mereka akan semakin curiga dengan hubungan yang memang hanya sebatas kontrak ini.
Setelah aku mengatakan itu, Yuni dan Mela tersenyum. Dan kami pun melanjutkan acara memasak kami.
"Nona dan tuan tidak berbulan madu...?"
Belum sempat Mela menyelesaikan kalimat pertanyaan nya, pak Ranu berdehem di belakang kami. Membuat kami bertiga langsung menoleh ke arah pak Ranu secara bersamaan. Mela dan Yuni langsung menjauh dan menjaga jarak dariku. Aku cukup heran kenapa mereka mendadak bersikap seperti itu, padahal tadi mereka bersikap biasa-biasa saja dan bahkan menganggap aku sebagai teman.
"Nona Naira, tuan Samuel memanggil anda agar segera menemuinya!" seru pak Ranu dengan sopan padaku.
Aku langsung meletakkan pisau dan bawang yang aku potong.
"Iya, terimakasih pak Ranu!" sahut ku dan langsung mencuci tangan ku dengan sabun dan membilasnya.
Aku melangkah menjauhi dapur, tapi aku masih bisa mendengar kalau pak Ranu sedang mengingat kan Yuni dan Mela agar jangan bersikap tidak sopan padaku. Pak Ranu meminta mereka menjaga jarak sebagai mana seorang majikan dan pelayan. Aku hanya memejamkan mata ku sekilas mendengar itu, aku juga menghela nafas ku pelan.
Sebenarnya aku tidak suka apa yang di katakan pak Ranu itu, aku ingin punya teman juga di rumah ini. Tapi setelah aku berfikir lagi, mungkin ada benarnya apa yang dikatakan pak Ranu. Karena Samuel juga pasti tidak akan menyukai semua ini.
__ADS_1
Setelah beberapa lama berjalan sambil memikirkan apa yang tadi di katakan pak Ranu pada Mela dan Yuni, tak terasa aku sudah tiba di depan pintu ruang kerja Samuel. Pak Ranu memang tidak mengatakan Samuel ada dimana, dia hanya mengatakan Samuel ingin menemui ku, tapi tadi pagi sebelum Samuel meninggalkan aku di taman, dia sempat bilang dia ingin ke ruang kerjanya dan mengatakan agar apapun yang terjadi aku tidak boleh mengganggu nya.
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu ruang kerjanya perlahan.
"Tuan ini aku!" ucap ku dari luar.
"Siapa kamu?" tanya sebuah teriakan dari dalam yang aku kenali itu adalah suara Samuel.
Aku tidak habis pikir, kalau aku saja mengenali suara nya kenapa dia tidak mengenali suaraku. Apa suara ku ini pasaran, dan sama dengan pelayan yang ada disini. Aku sampai mengernyitkan dahi ku sendiri memikirkan hal seperti ini saja.
"Naira tuan!" jawab ku.
"Masuk!" serunya lagi.
Aku membuka pintu dan masuk ke dalam, berjalan mendekati nya yang sedang duduk di kursi kerjanya sambil membaca sebuah dokumen.
"Ada apa tuan?" tanya ku setelah berdiri cukup dekat dengan meja kerjanya.
"Pundak ku pegal, pijit pundak ku!" ucapnya.
"Baik!" sahut ku cepat dan segera berjalan mendekati nya dan langsung memegang pundaknya.
Tapi tiba-tiba dia menepis tangan ku dari bahunya dan berdiri dengan cepat.
"Bau apa ini?" tanya nya kesal.
***
__ADS_1
Bersambung...