
Riksa Nugraha POV
Aku melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh gadis yang telah di pilih bos untuk menjalani pernikahan kontrak dengannya setelah aku mengatakan kalau pernikahan ini hanya akan berjalan selama satu tahun.
Dia sempat memekik, aku kira dia akan kecewa setelah tahu pernikahan ini hanya kontrak, dan seperti sebuah permainan. Tapi ternyata aku salah, dia malah protes kenapa harus selama itu. Dia malah ingin pernikahan ini berjalan satu atau dua bulan saja.
Dan aku tahu, dia mengatakan itu dengan jujur. Saat pertama kali mendengar namanya dari bos untuk mencetak kontrak perjanjian ini. Aku sudah yakin nama Naira Putri itu orang nya akan seperti apa. Dan aku benar, gadis ini sangat polos dan apa adanya, dia begitu sederhana, dia datang dengan kaos berlogo Toko buku ko Acong, dan celana jeans panjang. Sepatu flat, benar-benar sangat sederhana.
Dan yang lebih membuatku heran bagaimana dia bisa setenang ini setelah tahu akan menikah dengan seseorang yang menunggu kekasihnya pulang dari luar negeri. Setelah itu bos akan meninggalkan nya begitu saja dan kembali pada nona Caren.
"Kamu tidak ada rasa sedih atau semacamnya?" tanya ku berhati-hati, aku takut menyinggung perasaan nya.
Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku memang salah. Jadi aku harus menanggung akibat dari perbuatan ku kan?" tanya nya padaku. Dan terus terang saja itu membuat ku merasa ikut berbuat jahat padanya.
"Aku lanjutkan ya!" serunya dan aku hanya mengangguk.
Dia membaca lagi, dan matanya kembali melebar, dia kembali menatap ku.
"Apa lagi ini, kenapa aku harus menuruti semua perintah nya tanpa membantah. Ini penindasan namanya!" protesnya.
Aku jadi bingung harus menjawab apa, karena semua isi dari kontrak itu, bos yang mengaturnya. Dia yang menerapkan aturan seperti itu. Aku hanya bisa menjalankan tugasku, yaitu mematuhi segala perintah nya juga.
Dia hanya berdecak, lalu kembali membaca surat itu.
"Ini tidak ada yang benar seperti nya, aku harus menuruti semua perintahnya dan aku harus menjalankan segala kewajiban ku sebagai istri, tapi kenapa disini tertulis aku tidak boleh menuntut hak ku sebagai istri, dan si lidah tajam itu tidak harus menjalankan kewajiban nya sebagai suami?" tanya gadis itu dengan nada yang meninggi.
Aku yakin dia mulai kesal dan tak terima dengan isi perjanjian yang memang sangat memberatkan nya itu.
"Maaf nona, ini semua adalah perintah bos. Coba baca lagi, di bawah tertulis, jika anda pun akan mendapatkan uang bulanan sebesar 10 juta rupiah, dan setelah pernikahan kontrak ini selesai, tuan akan memberikan anda 100 juta!" jelas ku mencoba mengurangi kekesalan gadis polos di depan ku itu.
Dia terdiam, dan menunduk. Dia meletakkan surat perjanjian di pangkuan nya dan mengangkat kedua tangannya. Dia menggerakkan jari-jari nya dan bibirnya terlihat komat-kamit.
"Satu, dua, tiga, wah.. artinya aku bisa melunasi hutang ku selama sepuluh bulan dong! tak perlu menunggu setahun!" serunya terlihat senang.
"Hutang?" tanya ku bingung.
Aku memang tidak tahu tentang sebab bos memilih gadis ini. Tapi masalah hutang, bos tidak mengatakan nya padaku.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan tanda tangan! dimana?" tanya nya terlihat begitu antusias.
Aku menunjukkan di bagian mana dia harus tanda tangan. Dan dia segera meraih pulpen yang tergeletak di atas meja dan menandatangani perjanjian itu.
"Ini!" ucap nya sambil memberikan map itu padaku.
Aku menerimanya juga pulpen ku, tapi aku masih penasaran dengan hutang yang dikatakan oleh Naira tadi.
"Kalau boleh tahu, hutang apa yang anda bicarakan tadi nona?" tanya ku pada Naira.
"Hutang karena telah menggores mobil bos mu! tadi siang itu aku tidak sengaja menyenggol sebuah motor yang terparkir di sebelah mobil si lidah tajam itu saat akan mengeluarkan sepeda ku setelah aku selesai membeli makan siang untuk teman-teman ku, mobil bos mu tergores lumayan parah. Dan dia bilang aku harus mengganti kerugiannya sebesar 100 juta dalam waktu dua belas jam. Huh... sudahlah! apa aku sudah boleh pulang?" tanya nya padaku.
Aku terdiam, 100 juta untuk mengganti kerugian.
'Apa bos sudah membodohi gadis polos ini demi tujuannya dan nona Caren? kasihan Naira!' batin ku.
Aku juga tidak tahu, kenapa rasanya aku kasihan sekali pada gadis sepolos ini. Bos itu orangnya tempramen sekali. Hanya nona Caren yang bisa mengatasi nya. Bagaimana dengan Naira nantinya.
"Hei!" panggilnya membuat ku tersadar dari lamunan ku.
"Apa tadi anda bilang?" tanya ku memastikan.
"Kamu panggil saja aku Naira, aku bertanya padamu, apa aku sudah boleh pulang?" tanya nya.
Aku meraih beberapa kertas dan membawanya saat keluar dari ruang kerja bos Samuel.
"Ini, ambil dan pelajari!" seru ku pada Naira sambil menyerahkan beberapa kertas itu padanya.
"Apa ini?" tanya nya sambil meraih kertas-kertas itu.
"Semua tentang bos, apa yang dia sukai dan tidak sukai. Serta nama-nama keluarganya, kakeknya, ayah ibu dan juga adik laki-laki nya!" jelas ku dan Naira hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
"Mari saya antar anda, maksud ku.. aku antar kamu pulang!" ajak ku mempersilahkan Naira.
"Ayo!" sahutnya bersemangat.
Tapi baru melangkah beberapa langkah. Naira berhenti dan berbalik menghadap ku.
"Ada apa?" tanya ku heran.
__ADS_1
"Ponsel ku masih ada pada bos mu! bisa tolong ambilkan dulu?" tanya nya padaku.
Aku mengangguk paham dan segera melangkahkan kakiku menuju kamar bos Samuel. Aku mengetuk pintu perlahan.
Tok tok tok
"Bos, maaf ini saya Riksa!" seru ku agar terdengar oleh bos.
Ceklek
Bos Samuel membukakan pintu dengan masih memakai handuk yang dia lilitkan di pinggang nya.
"Ada apa?" tanya nya ketus. Seperti biasanya.
"Maaf bos, Naira sudah tanda tangan kontrak nya..."
"Lalu? antarkan saja dia pulang!" ucap nya dingin.
"Dia bilang ponsel nya ada pada bos, dia minta tolong padaku untuk mengambilkan nya untuk nya!" jelas ku.
Bos Samuel malah melihat ku dengan tatapan tidak suka.
"Hei Riksa, kamu itu sekertaris pribadi ku atau sekertaris pribadi nya sih? kenapa menurut saja dia perintah?" tanya nya kesal.
"Tapi bos..."
"Antar dia pulang, bilang padanya aku lupa meletakkan dimana ponsel nya. Kalau aku ingat akan aku kembalikan!" seru bos Samuel langsung menutup pintu.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Aku berbalik dan menghampiri Naira.
"Dia tidak memberikan nya ya?" tanya Naira lemah, seperti nya dia tadi memperhatikan.
"Iya, bos bilang dia lupa meletakkan nya dan jika dia ingat dia akan mengembalikan nya!" jawab ku tidak enak hati.
"Ck... masih muda saja dia sudah pikun, apalagi kalau sudah tua ya!" seru Naira terkekeh.
Aku jadi semakin simpati pada gadis di depan ku ini. Ku kira dia akan marah karena bos tidak mengembalikan ponsel nya, tapi dia malah terkekeh dan mengejek bos.
Riksa Nugraha POV end
__ADS_1
***
Bersambung...