
Author POV
Riksa masih terus berusaha membuat wanita bernama Debby itu mengakui kesalahannya dan mengakui siapa yang telah memberikan nya perintah untuk mencelakai Naira.
Riksa mencengkeram dengan kuat rahang Debby membuat wanita yang tengah duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangan yang di ikat kebelakang itu melotot tajam ke arah Riksa.
"Aku beri kesempatan sekali lagi, katakan siapa yang memerintah kan mu mencelakai Naira. Jika tidak aku akan menyerahkan mu pada polisi!" gertak Riksa dengan tatapan mata yang kasar dan dengan wajah yang mampu membuat siapa saja yang melihat nya akan tahu kalau Riksa bisa menunjukkan wajah yang seram seseram itu.
Debby berusaha melepaskan cengkraman tangan Riksa padanya.
"Aku sudah bilang aku tidak mengenal Naira!" ucap Debby dengan susah payah karena rahangnya di tekan dengan kuat oleh Riksa.
Riksa lalu menarik kembali tangannya. Lalu mengibas-ngibas kedua tangannya seperti sedang membersihkan debu dari kedua tangannya.
"Kamu sendiri yang menginginkan hal ini. Tommy bawa wanita ke kantor polisi juga semua bukti yang ada!" ucap Riksa lalu berjalan ke arah luar sebuah ruangan yang adalah garasi mobil milik Debby sendiri.
"Lepaskan aku, kalian yang akan aku laporkan pada polisi! kalian yang masuk ke dalam rumah ku tanpa ijin dan berbuat kasar padaku, aku akan laporkan kalian!" teriak Debby tak berhenti menggertak Riksa dan yang lainnya.
Tapi Riksa sama sekali tidak mendengar apapun yang di teriakan oleh Debby, karena semua bukti yang ada di tangan nya sudah cukup untuk menjebloskan wanita itu ke dalam sel tahanan dan mendekam cukup lama di sana dengan pasal percobaan pembunuhan.
Tommy dan yang lain dengan sigap melaksanakan apa yang diperintahkan oleh atasannya. Dan mereka bergegas menuju ke kantor polisi dengan Debby yang masih meronta meminta di lepaskan di dalam mobil.
Sementara itu Samuel yang sudah geram pada kelakuan Natasha, memutuskan untuk menemui wanita itu dan memberikan nya peringatan yang jelas.
"Halo Natasha, kamu dimana?" tanya Samuel dengan acuh tak acuh.
"Halo Sam, kamu tumben sekali menghubungi ku, kamu tahu aku sangat senang sekali. Mimpi apa aku semalam sampai kamu meneleponku...!"
"Tidak usah banyak bicara! katakan kamu dimana?" tanya Samuel menyela ucapan Natasha.
"Aku ada di mall dengan teman-teman ku!" jawab Natasha.
__ADS_1
"Kalau begitu cepat pulang, aku ingin bertemu dengan mu di kediaman Morgan!" ucap Samuel.
"Hah, yang benar ba..!"
Tut Tut Tut
Samuel bahkan tidak menunggu Natasha selesai dengan ucapannya. Dan langsung memutuskan panggilan telepon. Setelah menghubungi Natasha, Samuel mengambil kunci mobil dari atas meja dan segera keluar dari kamar, dengan meraih jaket dari atas sofa.
Samuel memakai jaket dan bergegas menuju keluar.
"Mas, mau kemana?" tanya Naira yang menahan lengan suaminya agar tidak pergi.
"Aku harus menemui wanita itu sayang, dia harus di beri peringatan yang pertama dan terakhir kalinya!" jawab Samuel dengan tegas.
Meski sebenarnya Naira juga ingin suaminya tegas pada wanita bernama Natasha itu, tapi dia juga kenal suaminya itu dengan baik. Kalau Samuel sudah kesal dan emosi maka suaminya itu tidak akan bisa menahan diri, dia bisa saja memukul atau bahkan melukai Natasha. Dan Naira jelas tidak ingin kalau itu sampai terjadi.
"Mas, aku ikut!" pinta Naira.
Samuel terdiam sejenak mendengar permintaan istrinya itu. Masalahnya Naira saat ini sedang hamil, Samuel tidak ingin sesuatu terjadi pada istrinya nanti kalau Natasha sampai bertemu dengannya.
"Tapi mas bilang akan menghabiskan waktu mas dengan ku kan hari ini. Pokoknya aku mau ikut!" ucap Naira bersikeras.
Naira melakukan hal itu karena jika suaminya sedang sangat emosi, setidaknya dia bisa menahan suaminya untuk tidak bertindak berlebihan. Karena keluarga Morgan itu juga bukan keluarga biasa.
Samuel tidak bisa menolak permintaan sang istri. Dan pada akhir nya dia mengajak Naira ke kediaman Morgan. Setelah pamitan pada ayah Rama dan ibu Anisa, Samuel bersama dengan Naira meninggalkan rumah ayah Rama menuju ke kediaman Morgan.
Sambil mengemudi Samuel menghubungi Teddy Morgan, ayah Natasha.
"Selamat siang om Teddy!" sapa Samuel sopan.
Sebab masalah nya hanya dengan Natasha bukan dengan Teddy. Sejauh yang Samuel ketahui bahwa Teddy Morgan adalah seorang pria yang baik dan penuh tanggung jawab. Dia tahu kalau masalah apa yang di lakukan oleh putrinya itu bahkan Teddy Morgan mungkin tidak tahu karena pasti Natasha melakukan semua itu di belakang ayahnya. Karena setahu Samuel, Teddy Morgan sama sekali tidak pernah punya satu pun catatan kejahatan, bahkan dia selalu jujur dalam bisnis.
__ADS_1
Karena menghormati Teddy Morgan inilah, Samuel memutuskan untuk menghubunginya terlebih dahulu sebelum melabrak putri tunggal pengusaha terpandang itu.
"Selamat siang Samuel, tumben sekali kamu menghubungiku dengan nomer ponsel, ada apa?" tanya Teddy yang memang terbiasa berkomunikasi dengan Samuel lewat telepon kantor bukan dengan nomor pribadi.
Samuel lalu melihat sekilas ke arah Naira yang tengah memperhatikan dirinya uang tengah menghubungi Teddy Morgan.
"Maaf karena sudah mengganggu kesibukan om Teddy, tapi apakah om bisa pulang ke rumah sekarang, karena ada hal yang ingin aku katakan pada om, tentang Natasha!" jelas Samuel langsung pada intinya.
Teddy terdengar menghela nafas berat.
"Apa lagi masalah yang di buat anak itu?" tanya Teddy Morgan yang sudah menaruh curiga kalau putrinya pasti telah membuat masalah sampai Samuel langsung menghubungi Teddy.
"Aku akan mengatakan nya di rumah saja om. Tadi aku juga sudah menghubungi Natasha, dan dia bilang akan ada di rumah saat aku datang. Aku harap, permintaan ku ini tidak mengganggu kesibukan om Teddy siang ini!" ucap Samuel dengan sopan.
"Tidak Samuel, tidak sama sekali. Baiklah aku akan segera pulang ke rumah!" sahut Teddy Morgan.
"Baik om, terimakasih!" ucap Samuel lalu memutuskan panggilan telepon nya.
Karena saat menghubungi Teddy, Samuel menyalakan speaker pada ponselnya. Naira juga bisa mendengarkan apa saja yang dia katakan dengan Teddy Morgan.
"Mas, om Teddy itu saat bicara terdengar sangat sopan?" tanya Naira pada Samuel.
Naira bahkan tidak menyangka kalau Natasha punya ayah yang baik dan sopan saat bicara seperti itu. Dia pikir pasti Natasha itu mirip sekali dengan ibunya. Dia sudah dua kali bertemu dengan Melinda dan dia yakin kalau Natasha memang persis seperti ibunya.
Samuel tersenyum mendengar pertanyaan Naira.
"Kamu benar, om Teddy adalah orang yang sangat baik. Itulah alasan kenapa aku juga menghubungi dia agar dia juga bisa tahu kelakuan anaknya!" jawab Samuel.
Naira mengangguk paham, kalau sejak tadi dia tahu akan ada ayah Natasha yang seperti nya juga bisa menetralkan suasana maka dia tidak akan ikut dengan Samuel.
Naira menghela nafasnya panjang, dia hanya berharap kalau semua berjalan sesuai dengan harapannya. Dia berharap setelah Samuel memperingatkan Natasha, wanita itu tidak akan lagi mengganggu dirinya dan juga rumah tangga nya.
__ADS_1
***
Bersambung...