Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
185


__ADS_3

Aku terbangun ketika merasa tenggorokan ku sangat kering. Aku merasa lebih sering haus beberapa hari ini. Aku membuka mataku dan langsung melihat ke arah kiri ku dimana Samuel biasanya tertidur disana. Dan saat ini Samuel tidak ada di sana.


Aku merubah posisi ku menjadi duduk dan menyingkap selimut yang ku pakai.


"Mas Sam belum pulang?" gumam ku pelan.


Setelah mengatakan hal itu aku langsung melihat ke arah jam yang ada di dinding kamar kami.


"Jam 3, mas Sam belum pulang?" tanyaku bergumam lagi.


Kali ini aku mulai merasakan perasaan yang sedikit tidak nyaman, tidak enak sekali dalam hatiku. Aku memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan meraih ponsel yang ada di atas meja. Namun sebelum menghubungi Samuel, aku terlebih dahulu mengambil gelas yang ada di dekat telepon tadi yang berisi air mineral, aku lalu meminum air itu dengan beberapa kali tegukan. Setelah itu aku meletakkan kembali gelas itu di tempat semula yaitu di atas meja.


Setelah itu aku berjalan ke arah jendela, ku buka tirai dan memang belum ada mobil Samuel di luar.


"Apa sudah masuk garasi ya?" tanya ku lagi.


Aku ragu ketika akan menekan nomer kontak Samuel, karena aku takut mengganggu nya. Kalau dia sedang beristirahat pasti aku akan membangunkan nya, tapi kalau dia sedang bekerja pasti aku juga akan menunda pekerjaan nya, itu sama saja dengan mengganggunya.


"Telepon tidak ya?" tanya ku bingung.


Aku benar-benar bingung, sampai tanpa sadar aku sudah mondar-mandir sekitar sepuluh kali dari jendela ke arah tempat tidur.


"Telepon, tidak, telepon, tidak...!" aku terus menghitung dengan jariku serta mengucapkan dua kata itu terus menerus.


Tapi karena rasa khawatir ku lebih besar dari pada rasa takut ku maka sambil menghirup nafas dalam-dalam aku menghubungi Samuel.


Tut...


"Halo sayang, ada apa?" tanya Samuel.


Aku langsung terkesiap kaget, nada sambungnya baru sekali berbunyi dan dia sudah menjawab panggilan telepon dariku. Itu artinya dia memang belum tidur. Bahkan dia belum tidur jam segini, apakah pekerjaan nya sangat banyak.


Aku terus bertanya-tanya seperti itu.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Naira ?" tanya Samuel sambil memanggil namaku.


"Eh iya mas... maaf apa aku sudah mengganggu pekerjaan mu?" tanya ku dengan sedikit gugup.

__ADS_1


Kalau ini Samuel uang dulu yang belum menyatakan perasaannya pada ku sih pasti dia akan berteriak dengan intonasi super sopran miliknya.


"Sama sekali tidak, tapi ini sudah larut malam loh. Kamu belum tidur? kenapa?" tanya Samuel dengan nada suara yang terdengar lembut.


Suaranya saja membuat ku tersenyum tanpa aku sadari, aku baru sadar kalau aku tersenyum mendengar suaranya saat aku melihat ke arah cermin.


"Em, aku tadi terbangun mas. Dan kamu tidak ada di kamar, aku lihat mobil mu juga belum ada di tempat biasanya terparkir. Mas sangat sibuk ya? sampai jam segini belum istirahat!" ucap ku lembut juga, karena tadi mas Sam bicaranya juga sangat lembut padaku.


Terdengar kekehan kecil dari Samuel.


"Apa istri cantik ku ini merindukan ku?" tanya Samuel dan itu berhasil membuatku merasa sangat malu, dan saat aku lihat wajahku di cermin, pipiku terlihat bersemu merah.


Aku jadi gugup, padahal ini hanya bicara di telepon. Tidak tahu kalau Samuel benar-benar ada di hadapan ku dan mengatakan semua itu.


"Sayang, aku tahu kamu tidak akan bilang tapi aku yang akan mengatakan nya. Aku juga sangat merindukan mu. Tapi masih banyak pekerjaan yang harus aku dan teman baik mu kerjakan!" jelas Samuel.


Aku menghela nafas dengan sangat lega. Setidaknya dia bersama dengan Riksa.


'Aih, kenapa aku sangat mengkhawatirkan mas Sam? apa mungkin aku juga sudah mulai menyukainya?' tanya ku dalam hati.


"Aku baik-baik saja, jangan cemas. Sekarang pergilah ke tempat tidur dan kembalilah tidur, kamu harus banyak istirahat sayang, bukan hanya untuk mu, tapi juga untuk anak kita!" ucap Samuel lagi.


"Iya mas, kalau kamu lelah kamu juga harus beristirahat ya mas!" ucap ku mencoba menunjukkan keperdulian ku pada Samuel karena dia juga sangat perduli padaku.


"Iya sayang, selamat malam. Besok siang aku akan pulang...!"


"Besok siang mas?" aku menyela ucapan mas Samuel tanpa sadar.


Aku segera menutup mulut ku sendiri dengan tangan kiri ku, karena tangan kanan ku sedang memegang ponsel.


'Aih, kenapa aku seperti sangat mengharap dia pulang!' batin ku lagi.


Lagi-lagi terdengar kekehan dari seberang sana.


"Iya sayang, apa kamu menginginkan aku pulang sekarang? kalau seperti itu akan aku tinggalkan semua pekerjaan ini dan datang padamu, katakan kamu mencintai ku, maka dalam setengah jam aku akan berada di hadapan mu!" seru Samuel.


Deg

__ADS_1


Dalam setengah jam, sedangkan biasanya dengan kecepatan tinggi saja baru akan sampai dalam waktu hampir satu jam ke rumah dari kantor Samuel.


'Tidak tidak, dia pasti akan mengebut!' batin ku lagi.


Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat.


"Tidak mas, tidak usah. Em... maksud ku, kamu selesaikan saja pekerjaan mu. Dan aku akan tidur, kita akan ketemu besok siang!" ucap ku dengan cepat.


"Baiklah, selamat tidur sayang. Aku mencintaimu!" ucap Samuel


"Iya mas!" ucap ku lalu dengan cepat menekan icon telepon berwarna merah di layar ponsel ku.


Aku langsung meletakkan ponsel ku di dada ku, rasanya masih sangat berdebar. Apa aku juga sudah mulai menyukai Samuel?


Aku langsung meletakkan kembali ponsel itu di atas meja dan beranjak kembali ke tempat tidur. Satu menit, dua menit, tiga menit rasanya mataku sulit sekali untuk terpejam.


Meski bisa terpejam pun aku tak kunjung terlelap. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk keluar saja dari kamar dan bermaksud membuat susu hangat, biasanya kalau aku minum susu hangat itu akan membantuku untuk dapat tidur.


Aku berjalan ke arah dapur, suasana di rumah sangat sepi. Karena memang para asisten rumah tangga baru akan bangun pukul setengah lima pagi. Dan sekarang masih jam tiga lebih lima belas menit.


Aku segera meraih gelas setelah sampai di dapur, namun aku terkejut ketika seseorang berdehem di belakang ku.


"Ekhem!"


Nyaris saja gelas yang ada di tangan ku terjatuh, untung saja tangan ku yang satunya lagi sigap dan menangkap gelas itu. Aku segera berbalik dan melihat siapa yang membuat suara itu dan membuat ku terkejut.


"Kamu!" seru ku melihat Adam yang sedang berdiri sambil menyandarkan dirinya di dinding dapur.


"Huh, mengagetkan saja!" ucap ku.


"Ngapain malam-malam malah keluar dari kamar dan mengendap-endap seperti pencuri?" tanya Adam dengan tatapan sinis.


Aku langsung mengernyitkan dahi.


"Mengendap-endap? siapa yang mengendap-endap aku berjalan biasa saja, dan ini rumah ibu dan ayah mertua ku. Untuk apa aku mencuri di rumah kedua orang tua ku sendiri?" tanya ku tak kalah ketus padanya. Dia itu menyebalkan sekali.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2