Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
134


__ADS_3

Akhirnya kami pun berada di restoran yang sangat megah dan mewah yang ada di lantai satu hotel besar dan berlantai lebih dari 20 ini. Setelah sedikit drama drama kecil, hingga Samuel berhasil membuatku langsung berdiri dari posisi rebahan ku yang menyenangkan di atas ranjang empuk yang ada di dalam kamar hotel.


Dia bilang kalau aku tidak segera bangun dan ganti pakaian, maka dia juga akan membuka pakaiannya dan... seperti itulah. Jadi aku putuskan untuk ganti pakaian dan menemaninya makan malam di restoran ini.


Kami dipersilahkan oleh seorang pelayan yang sangat cantik, wajahnya mirip dengan artis sinetron kejar tayang yang ada di televisi itu. Pelayan wanita itu bicara dengan sangat ramah, dan menunjukkan meja yang sudah di pesan oleh Samuel.


"Silahkan tuan dan nyonya Virendra!" ucap si pelayan itu memberikan welcome drink untuk kami.


Tapi saat kami sedang melihat-lihat buku menu yang harganya membuat ku menelan saliva ku dengan susah payah. Seorang pria dengan pakaian berlogo hotel tapi pakaian yang berbeda dengan yang di kenakan oleh pelayan wanita tadi menghampiri kami. Dengan sedikit membungkuk kan tubuhnya dia bicara sangat sopan pada kami.


"Mohon maaf tuan dan nyonya Virendra, tuan Hasigawa dan tunangannya mengundang tuan dan nyonya untuk bergabung di meja mereka. Apakah tuan dan nyonya bersedia?" tanya pria itu dengan sopan.


Dan aku baru menyadari kalau ternyata pria itu adalah manager restoran setelah melihat name tag yang ada di seragam sebelah kiri nya. Tadi tidak terlihat karena tangannya menutupi.


Aku langsung melihat ke arah Samuel, dan dapat aku pastikan dia sangat kesal dengan tawaran dari Kenzo itu. Terlihat dia menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. Aku lalu melihat ke arah si manager, dia seperti nya juga sedang ketar-ketir mendengar jawaban Samuel.


"Pak Manager, katakan pada tuan muda Hasigawa itu, kami sedang honeymoon dan kami tidak ingin di ganggu!" tegas Samuel.


Pria yang adalah manager restoran akhirnya menunduk sekali lagi dan berkata.


"Baik tuan dan nyonya, saya akan sampaikan seperti apa yang tuan Virendra katakan. Maaf sudah mengganggu waktu kalian. Permisi!" ucap si manager dengan sangat sopan.


Manager itu kemudian pergi menjauh dari meja kami dan berjalan menuju ke meja Kenzo dan Caren yang ternyata tidak jauh dari meja kami.


Aku sempat melihat ke arah mereka sebelum Samuel menegurku.


"Kenapa melihat ke arah mereka, kamu mau bergabung dengan mereka?" tanya Samuel dengan wajah yang sepertinya terlanjur kesal.


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat. Aku kembali memperhatikan pakaian yang di pakai oleh Caren. Kalau ayah ku melihat itu maka dia tidak akan berhenti istighfar. Apa yang dia pakai itu nyaris tak menutupi apa-apa. Aku jadi kasihan pada suaminya, karena tubuh istrinya sudah di lihat oleh orang lain dengan cuma-cuma.


"Lalu kenapa kamu melihat ke sana?" tanya Samuel lagi.

__ADS_1


"Mas, aku boleh tanya tidak?" tanya ku meminta ijin pada Samuel sebelum mengemukakan pertanyaan yang sejak awal aku melihat Caren aku ingin menanyakan tentang hal ini.


Samuel sedikit mengernyit, tapi kemudian dia menjawab.


"Apa?" katanya sambil melipat tangannya di depan dada nya.


"Em, sebenarnya apa yang dulu membuat mas suka pada Caren ?" tanya ku pada Samuel.


Setelah mendengarkan pertanyaan dariku, aku lihat mata Samuel melebar, dia melotot padaku. Aku langsung terkesiap.


"Em, maaf mas. Tidak usah di jawab, tidak usah. Anggap saja aku tidak pernah bertanya!" aku sangat takut pada tatapan Samuel itu.


Tapi kemudian dia terlihat lebih tenang tapi masih dengan tatapan tajam padaku, lalu dia mengangkat alisnya dan bertanya.


"Kenapa bertanya seperti itu?... Oh jadi kamu memperhatikan Caren, kamu mau meniru dia?" tanya Samuel menduga-duga.


Kau langsing melambaikan tangan ku berkali-kali di depannya.


Bahkan aku tidak sadar kalau sejak tadi mereka juga memperhatikan ke arah meja kami. Aku bahkan sedikit bergidik tadi, apakah mereka tersinggung.


Samuel langsung meletakkan tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya ke arahku.


"Benar, bukan hanya ayah mu. Tapi aku akan langsung membuatmu tak bisa bangun lagi kalau kamu berpakaian seperti itu. Ingat hanya aku yang boleh melihat tubuhmu!" bisik Samuel tapi meski nada suaranya pelan, setiap kata dalam kalimat yang dia ucapkan itu penuh dengan penekanan.


Membuat seluruh buku kudukku berdiri mendengarnya. Aku bahkan menelan saliva ku dengan susah payah mendengar apa yang di katakan oleh Samuel. Dia mengatakan kalimat seperti itu, seolah dia akan menjadi suami ku untuk selamanya saja.


"Selamat malam, Sam, Naira...!" sapa seseorang yang aku kenali suaranya.


Aku dan Samuel langsung menoleh, dan dia adalah Kenzo dan di sebelahnya adalah Caren. Mereka berdua berdiri tepat di antara aku dan Samuel.


"Kalian tidak keberatan kan, kalau kami bergabung?" tanya Kenzo dan langsung menarik kursi di antara aku dan Samuel untuk Caren.

__ADS_1


"Ck... kami tidak menerima undangan kalian, dan kalian malah datang kesini. Mengganggu saja, kami ini sedang honeymoon!" seru Samuel dengan dingin.


Dia benar-benar menunjukan kalau dia tidak suka kehadiran Kenzo dan Caren. Dan aku tidak suka karena Caren duduk di sebelah ku. Dia tersenyum padaku, tapi aku tahu senyuman nya itu palsu.


Kenzo duduk berseberangan dengan Caren.


"Aku tahu itu, aku bisa melihatnya dari tanda merah yang ada di leher nyonya Samuel!" ucap Kenzo begitu terus terang.


Aku langsung menutupi bekas merah di leher ku dengan tangan.


"Tidak usah di tutupi sayang, lagi pula kenapa? kita sudah menikah, jadi kamu tidak perlu malu. Yang malu itu kalau kalian belum menikah..!"


"Uhukk uhukk!" Caren tersedak. Sepertinya dia merasa tersindir.


Suasana menjadi sangat canggung setelah Caren tersedak angin tadi. Sampai pelayan menyajikan makanan yang aku rasa adalah pesanan dari Kenzo dan Caren, karena aku dan Samuel belum memesan makanan.


"Sebaiknya kita makan dulu, kita bisa bicara lagi nanti!" ucap Kenzo dan membukakan piring untukku.


Aku terkejut dan langsung melihat ke arah Samuel. Samuel langsung mengambil piring yang dibukakan oleh Kenzo tadi dan meletakkan nya di depan Caren. Lalu mengambil piring Caren dan di buka kemudian di letakkan di depan ku.


"Sepertinya matamu bermasalah tuan muda Hasigawa, seharusnya kamu melayani wanita mu!" seru Samuel membuat ku menghela nafas lega.


Kenzo lalu terkekeh.


"Maaf, maaf! aku hanya berniat baik!" elaknya.


"Selama ada aku, niat baik juga tidak di perlukan oleh wanita ku!" balas Samuel membuat ku mengulas senyum. Rasanya sedikit merasa di hargai itu ternyata sangat membahagiakan.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2