Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
287


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Virendra, Naira dan juga Stella sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter Antonius pada kaki dan juga kepala Adam.


Stella dan duduk di tepi tempat tidur, di sisi sebelah kiri Adam dan Naira berdiri di belakang Stella sambil terus menepuk bahu ibu mertuanya itu, Naira melakukan itu karena melihat Stella yang kelihatan sangat cemas, karena semakin hari kaki kanan Adam yang terluka saat kecelakaan tak kunjung dapat di gunakan untuk menopang badannya. Setiap Adam berusaha berdiri dia pasti akan terhuyung dan jatuh lagi.


Sedangkan Vina yang masih memakai strip pereda rasa sakit di dahinya hanya berdiri di dekat pintu masuk karena merasa kesal pada Adam yang semakin lama semakin menjadi saja sandiwara pura-pura amnesianya. Semalam Vina bahkan harus tidur di sofa karena Adam bilang dia punya phobia tidak bisa melihat orang tidur di sampingnya. Vina benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Adam.


'Kalau seperti ini terus, bagaimana aku bisa meminta bantuannya untuk mengungkap pengkhianatan Jodi dan Caren?' tanya Vina dalam hati sambil meletakkan telapak tangan nya di pipi kanannya dan siku kanan bertumpu pada tangan kirinya.


"Bagaimana dokter? dia tadi pagi terjatuh saat berdiri. Apa mungkin kakinya semakin parah?" tanya Stella yang terlihat sangat cemas.


"Dari hasil lab kemarin, dan juga hasil pemeriksaan hari ini. Sebenarnya luka dan keram kakinya sudah membaik. Seharusnya dia sudah bisa berdiri dengan kakinya, tapi kalau sampai dia terjatuh saat berdiri... !" dokter Antonius menjeda kalimatnya dan melihat ke arah Adam yang sedang menatap datar pada dokter Antonius.


"Mungkin saraf di kepalanya yang bermasalah, saya harus lakukan pemeriksaan lagi. Kalau nanti siang Adam di bawa ke rumah sakit untuk di tes lab dan di Rontgen lagi bagaimana nyonya Stella?" tanya dokter Antonius yang ingin memastikan kondisi Adam dan apa yang sebenarnya terjadi pada Adam.


Sementara Stella terlihat bertambah panik pada apa yang dikatakan oleh dokter Antonius. Vina malah mengusap wajahnya kasar.


'Sudah ku duga, pria itu hanya berpura-pura. Huh, kenapa aku harus menikah dengan pria pemalas seperti ini. Benar-benar ya..!' keluh Vina dalam hati.


"Dokter apakah maksud dokter Adam harus di operasi atau semacamnya?" tanya Stella yang over thinking.


"Kalau kondisinya seperti yang aku pikirkan, mungkin saja kita memang harus melakukan tindakan operasi!" jawab dokter Antonius.


Stella langsung menangis ketika mendengar jawaban dokter Antonius.

__ADS_1


"Sabar Bu, semoga saja hasilnya besok tidak seperti yang dokter Antonius pikirkan!" ucap lembut Naira yang berusaha berpositif thinking dan menenangkan ibu mertuanya.


Adam malah memutar bola matanya jengah mendengar perkataan baik dari Naira. Dan apa yang dilakukan Adam itu terlihat oleh Vina.


'Dia memang sepertinya sangat tidak menyukai kakak iparnya itu, tapi kenapa? pada Puspa pandangannya berbeda, dia bahkan sangat perduli pada Puspa. Aku merasa ada yang tidak beres dengan Adam ini!' batin Vina yang mulai menilai apa yang dia lihat.


"Naira sayang...!" panggil Samuel yang terdengar dari arah luar kamar Adam.


Naira langsung menoleh ke arah pintu. Stella yang juga mendengar Samuel mencari Naira langsung menepuk pelan punggung tangan Naira yang masih berada di pundak Stella lalu melihat ke arah menantunya itu.


"Nak, keluarlah. Suami mu mencari mu!" ucap Stella sambil menyeka air matanya yang mengalir tadi karena mendengar apa yang dokter Antonius katakan kalau saraf Adam bermasalah.


Naira langsung bergegas menuju ke arah pintu keluar kamar Adam, tapi Samuel malah terlebih dahulu masuk ke dalam dan melihat ada dokter Antonius di dalam dan Stella yang terlihat sangat sedih. Samuel langsung memeluk istrinya yang berjalan menghampiri nya.


"Mas sudah pulang?" tanya Naira pada Samuel.


"Iya sayang, ada apa dengan Adam? kenapa ibu menangis?" tanya Samuel pelan.


Namun Vina yang berada di dekat pintu bisa mendengar apa yang Samuel tanyakan pada Adam.


"Tadi pagi Adam terjatuh saat mencoba berdiri, dan dokter Antonius mengatakan kalau nanti siang sebaiknya Adam di periksa lagi, di Rontgen lagi untuk memastikan tidak ada sarafnya yang bermasalah" jelas Naira seperti yang dia dengar dari dokter Antonius.


Samuel terlihat khawatir dengan kondisi Adam dan ibunya, tapi kondisi Riksa juga tidak kalah darurat.

__ADS_1


'Setidaknya Adam masih ada ayah, ibu dan yang lain yang menemani dan memastikan dia akan baik-baik saja. Aku harus segera ke Jerman dan menemukan Puspa!' batin Samuel.


"Sayang, aku ingin bicara dengan mu!" ucap Samuel yang langsung merangkul pinggang Naira dan mengajaknya keluar dari kamar Adam.


Naira dan Samuel menuju ke kamar mereka, saat masuk ke dalam kamar Naira terkejut melihat sebuah tas dengan mantel tebal dan juga beberapa dokumen di dekat tas itu, dan Naira tahu kalau salah satunya adalah pasport milik Samuel.


"Mas, ini mas mau kemana?" tanya Naira terlihat sedih karena suaminya akan pergi jauh ke luar negeri.


Samuel lalu menuntun Naira untuk duduk di tepi tempat tidur mereka. Samuel langsung menggenggam erat kedua tangan Naira dan berjongkok di depan istrinya yang masih terlihat bingung itu.


"Sayang, aku akan pergi ke Jerman dengan Riksa. Ada masalah yang terjadi, saat Riksa mengantar Puspa pulang, entah apa yang terjadi tapi Riksa babak belur dan Puspa di bawa ke Jerman oleh keluarganya..!"


"Apa mas? bagaimana dengan Riksa?" tanya Naira kaget menyela ucapan Samuel.


Samuel lalu mengelus perlahan tangan Naira yang dia genggam.


"Riksa masih dalam penanganan dokter, tapi aku yakin sekali dia pasti akan memaksa ikut dengan ku untuk mencari Puspa. Kamu jangan cemas, kamu percaya pada suami mu ini kan?" tanya Samuel dan langsung di balas anggukan kepala oleh Naira.


"Aku akan kembali secepatnya, aku minta padamu jangan katakan masalah ini pada ibu dan kakek, ibu terlihat sangat mencemaskan Adam, dan ibu pasti juga akan sangat cemas mendengar apa yang terjadi pada Riksa. Katakan saja, aku dan Riksa ada pekerjaan di luar negeri. Aku sudah ceritakan pada ayah, karena aku butuh tanda tangannya untuk menggunakan pesawat pribadi nya" jelas Samuel.


Meskipun Naira sebenarnya sangat khawatir juga pada Riksa dan Samuel tapi dia sadar kalau dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi lebih baik dia menuruti apa kata Samuel saja. Samuel lalu mengelus perut Naira yang semakin membesar karena masuk trimester yang kedua.


"Sayang... jaga ibu baik-baik ya. Temani ibu dan jangan biarkan ibu kesepian! cup" Samuel mencium perut Naira setelah berkata pelan pada calon anak mereka.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2