Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
38


__ADS_3

Sejak awal bertemu dengan ibu Stella, aku merasa dia sangat baik. Dia bahkan selalu membela ku saat si lidah tajam itu menyudutkan atau menyalahkan ku. Dia bahkan menyuruh si lidah tajam itu untuk membeli makanan. Aku rasa setelah ibu Stella pergi nanti dia pasti akan balas dendam padaku.


Aku terus memikirkan hal ini, kalau dia memarahi ku atau memaki ku sih kuping ku seperti nya sudah mulai terbiasa ya dengan pekik kan nya.Yang masih belum kuat itu jantung ku. Karena ayah dan ibu ku memang jarang sekali teriak di rumah. Rumah kami kan kecil jangan kan teriak, buang angin saja terdengar jelas.


Dan biasanya si lidah tajam itu kalau kesal padaku. Yang dia lakukan adalah menambahkan jumlah hutang ku. Aku pikir akan lunas dalam sepuluh bulan, tapi ternyata tidak juga.


Aku masih mendengarkan cerita ibu Stella sekarang, daripada terus memikirkan tambahan hutang ku pada si lidah tajam itu. Lebih baik aku mendengar kan cerita ibu Stella tentang dirinya dan ayah Damar ketika muda dulu.


"Bahkan suami ku tidak akan pernah makan kalau bukan aku yang menuangkan nasi di dalam piring nya...!" ibu Stella lantas terdiam dan menunduk kan wajah nya sekilas.


Aku rasa dia merindukan ayah Damar, mereka sungguh romantis sekali. Sudah menikah puluhan tahun tapi cinta mereka begitu kuat, hingga hanya membicarakan kebiasaan mereka saja mereka bisa saling rindu.


Aku jadi ingat ayah dan juga ibuku, meski ibu itu punya hobi mengomel, tapi ayah lah orang yang selalu siap mendengarkan omelan ibu ku. Dan seperti bersedia menampung seluruh keluh kesah ibu. Ah, aku jadi ingin kehidupan rumah tanggaku nanti seperti mereka.


'Gyaaaah, apa yang aku pikirkan. Mana mungkin kehidupan rumah tangga ku akan seperti mereka. Yang ada sehari tiga kali tuh si lidah tajam bakalan ngomel-ngomel!' pekik ku dalam hati karena aku memikirkan sesuatu yang mustahil untuk terjadi.


'Memang apa yang aku harapkan, pernikahan ini juga hanya pernikahan kontrak!' keluh ku lagi dalam hati.


Cukup lama ibu Stella terdiam. Dan si lidah tajam juga belum datang-datang. Aku memberanikan diriku untuk bicara pada ibu Stella.


"Ibu merindukan ayah ya?" tanya ku lembut dan pelan. Aku bahkan menanyakan kalimat itu dengan nafas yang tertahan.


Aku ragu, karena aku takut apa yang aku kira itu salah. Ibu Stella menoleh ke arah ku dan dia tersenyum.


"Kamu benar, aku sedang memikirkan ayah nya Sam, pasti dia semakin tidak terurus. Tapi jangan cemas, besok adalah pernikahan kalian...!


Deg


Aku merasa jantung ku nyaris copot. Benar sekali, pernikahan nya besok. Kenapa aku tidak memikirkan itu, sekarang aku malah jadi sangat gugup. Aku akan menikah besok, aku sendiri tak percaya ini.


"Jadi kami akan bertemu, dan kamu juga akan bertemu dengan ayah mertua mu." sambung ibu Stella.


Aku semakin gugup, aku rasa kalau ada yang menyentuh telapak tangan ku, suhunya sekarang sudah berada di bawah minus Lina atau minus tujuh derajat Celcius. Aku saja bisa merasakan seperti sedang memegang es batu saat menyentuh telapak tangan ku dengan punggung tangan yang satunya lagi.


"Kamu jangan panik begitu sayang, ayah Damar itu adalah pria paling baik di seluruh dunia!" ucap ibu Stella meyakinkan kepada ku kalau ayah Damar itu tidak perlu di takuti.


Padahal kan aku mendadak grogi bukan karena itu, Tapi karena pernikahan yang akan di langsungkan besok. Ini memang pernikahan kontrak, tapi semua proses dan ritual nya adalah sungguhan, dan pernikahan ini juga akan sah di mata hukum dan agama.


Brak


Suara pintu mobil yang ditutup dengan kuat mengagetkan aku. Lebih tepatnya di banting sih. Dan siapa lagi pelaku nya kalau bukan Samuel, pria dengan lidah tajam. Kenapa aku memberinya julukan itu? karena dia selalu berhasil menusuk hati ku dengan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Lidahnya itu sangat tajam. Kalau aku tidak punya hutang padanya, aku akan memukul kepalanya lalu berlari menjauh darinya sejauh yang aku bisa.


"Kenapa membanting pintu?" tanya ibu Stella yang sama terkejutnya dengan ku.

__ADS_1


"Ibu, sudahlah. Di luar panas sekali, Pak Urip cepat nyalakan mesin nya dan langsung ke rumah Naira!" seru Samuel acuh.


Ibu Stella lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Seperti nya dia sangat lelah.


"Masih jauh tidak rumah kamu Nai?" tanya ibu Stella.


"Tidak Bu, hanya dua gang dari sini!" jawab ku.


"Katamu kamu bekerja di toko buku kan, kau juga bisa mengundang teman-teman itu dan pemilik toko buku itu juga!" ucap ibu Stella dan jujur saja aku senang sekali mendengar hal itu.


"Benarkah? terimakasih ibu Stella!" ucap ku pada ibu Stella.


Ibu Stella tersenyum dan melirik ke arah Samuel.


"Minta Riksa berikan undangannya pada mereka!" ucapnya dan Samuel hanya mengangguk sambil terus memainkan ponselnya.


Aku jadi penasaran, apa sih yang dia lakukan dengan ponselnya itu. Masalahnya sejak dari bandara, dia terus sibuk dengan ponselnya. Apa itu tentang pekerjaan? atau chat dengan kekasih nya itu.


'Ih, Nai. Kamu mikir apaan sih, kenapa malah kepo sama tuh orang. Bukan urusan kamu juga, dia mau chatingan sama siapa!' batin ku lagi.


Beberapa saat kemudian, kamu tiba di depan rumah. Dan seperti nya ayah dan ibu sudah pulang. Karena pintu rumah sudah terbuka. Ayah dan ibu memang punya kebiasaan membuka pintu kalau mereka ada di dalam rumah. Lagipula ini sudah lewat tengah hari, Ibras pasti juga sudah pulang.


Aku dan ibu Stella turun dari dalam mobil, dan seperti biasanya. Para tetangga terutama yang ibu-ibu terlihat kepo karena kedatangan ibu Stella dan juga Samuel.


Kalau di ibaratkan artis ya , ibu Stella ini mirip dengan Sophia Latjuba. Cantik dan menawan. Ibu Stella tidak langsung mengajak ku masuk, dia malah menyapa salah seorang tetangga yang sedang bergosip dengan tetanggaku yang lainnya lagi.


"Selamat siang!" sapa ibu Stella dan kedua ibu-ibu tampak canggung.


"Si..siang!" jawab mereka gelagapan.


Dan setelah itu ibu Stella mengajak ku masuk ke dalam rumah. Tapi ibu-ibu tadi memanggilku dengan suara pelan.


"Nai.. Nai.. itu siapa? artis ya?" tanya ibu Saodah tetangga ku.


Tuh kan benar apa kataku, ibu Saodah bahkan mengira kalau ibu Stella ini artis.


Aku baru saja akan membuka mulut ku untuk menjawab pertanyaan dari ibu Saodah. Tapi ibu Stella merangkul lengan ku dan mengatakan,


"Saya calon ibu mertua nya Naira, salam kenal dari saya Stella Virendra!" jawab ibu Stella ramah.


Aku melihat dua tetangga ku itu melebarkan mata dan mulut mereka, aku yakin tidak hanya lalat, tapi kalau ada burung gereja lewat bisa masuk tuh ke dalam mulut mereka.


"Ibu, Nai... ayolah!" seru Samuel yang sepertinya sangat jengah dengan situasi ini

__ADS_1


Ibu Stella tersenyum pada kedua tetanggaku itu dan mengajak ku masuk ke dalam.


"Assalamualaikum!" sapa ku ketika akan masuk rumah.


"Wa'alaikumsalam!" jawab ibu ku yang baru saja keluar dari dalam.


"Wah Nai, ini kan ibu Stella ya?" tanya ibu ragu. Ibu memang pernah Video call dengan ibu Stella, karena itu ibu pasti tahu siapa yang sedang bersama ku ini.


"Iya, Anisa. Bagaimana kabarmu?" tanya ibu Stella yang langsung masuk dan menghampiri ibu ku.


Aku senang ibu dan ibu Stella terlihat akrab. Mereka duduk bersama dan saling berbincang. Tak lama kemudian, ayah ku juga datang dan menyapa ibu Stella juga Samuel. Ayah mengobrol bersama Samuel. Sementara aku menyiapkan makan siang untuk kami semua.


Ketika aku sedang berada di meja makan sambil menyiapkan piring dan minuman, asik ku Ibras menghampiri ku.


"Kak, ibu nya kak Samuel cantik banget ya. Masih muda lagi! Kalau punya anak segede kak Samuel, nikahnya umur berapa ya? tujuh belas tahun kali ya?" tanya Ibras sambil ikut menata piring di atas meja.


"Tujuh belasan tahun? emang udah boleh nikah?" tanya ku balik.


"Orang jaman dulu mah, nikahnya pada muda muda kali kak. Ibu aja nikah umur sembilan belas tahun kan!" serunya.


Tapi tadi ibu Stella kan sempat bercerita kalau di usia dua puluh lima tahun saja dia bahkan baru bertemu dengan ayah Damar.


"Kayaknya enggak deh Bras, soalnya tadi tuh. Ibu Stella cerita kalau dia baru ketemu sama ayah nya Samuel itu umur dua lima!" jelasku.


"Wah awet muda berarti dong kak, orang kaya sih ya. Perawatan nya pasti mahal!" kagum Ibras dengan mata yang berbinar.


Aku rasa adikku ini akan kaget kalau aku memberitahu nya kalau aku juga baru saja melakukan perawatan yang menghabiskan begitu banyak uang. Dan kalau aku sebutkan nominalnya, aku yakin Ibras akan menjadi patung dalam waktu sepuluh menit.


"Kak, ini ayam geprek makan siang nya?" tanya Ibras sambil mengeluarkan isi yang ada di dalam kotak makanan.


Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat. Dan Ibras terlihat tidak percaya.


"Ibras kira makanan kak Samuel beda sama kita, ternyata sama saja ya!" ucap nya sambil terkekeh.


Aku mengernyitkan dahi ku belum mengerti, apa yang di maksud oleh Ibras.


"Ibras kira makanan orang kaya itu beda!" sambungnya lagi.


"Emang kamu kira makanan orang kaya itu apa? berlian?" tanya ku sambil tertawa.


"Gak bakalan kenyang Bras, mereka sama seperti kita, makan nasi juga!" lanjut ku.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2