
Sekarang aku sedang bersama dengan Samuel di dapur, dia bilang akan membantu ku menyiapkan makan malam bukan? tapi sepertinya yang terjadi adalah dia hanya mengganggu dan membuatku semakin lama menyiapkan makanan.
Sejak tadi dia selalu bertanya apa saja yang aku pegang aku potong dan aku cuci, bahkan hanya masalah kacang panjang saja, aku berdebat dengannya selama lima menit.
Dia bertanya, apa namanya sayuran yang aku potong sebagai tambahan untuk sayur dengan kuah santan yang sudah aku siapkan. Aku sebutkan satu-persatu. Dan ketika aku memotong-motong kacang panjang, dia bertanya lagi.
"Kalau yang itu apa namanya?" tanya nya.
"Kacang panjang!" jawab ku singkat.
"Tapi kamu sudah memotong nya menjadi pendek, kenapa masih menyebutnya kacang panjang?" tanya nya dengan ekspresi wajah yang begitu santai setelah membuat ku menghela nafas kesal.
"Tapi memang seperti ini, meskipun sudah di iris pendek-pendek dan di tumis. Kita masih menyebutnya dengan tumis kacang panjang!" jelas ku pada Samuel sudah menggunakan sebuah contoh agar dia mengerti.
"Kenapa begitu, apa kalian tidak bisa melihat kalau bentuknya sudah tidak panjang lagi, kalian sungguh aneh!" ucapnya sambil melihat-lihat lagi ke arah bumbu-bumbu yang tadi sudah aku siapkan.
Aku langsung mengernyitkan dahi ku, dia menyebut kata aneh untuk kata kalian, aku bingung kalian yang dia maksud itu siapa.
"Setelah kamu memotongnya bukankah seharusnya kamu menyebutnya kacang pendek, jadi mulai sekarang sebut saja tumis kacang pendek, bagaimana?" tanyanya seolah dia ingin menjadi penemu yang harus di akui.
Aku meletakkan pisau yang aku gunakan untuk memotong kacang panjang dan menghela nafas ku lagi. Aku menatap serius pada Samuel yang sedari tadi malah mengacak-acak takaran bumbu yang sudah aku siapkan di dalam sebuah piring.
"Mas, mana aku tahu. Yang jelas sejak aku lahir namanya sudah seperti ini, mau di potong mau di tumbuk mau di cincang namanya juga tetap kacang panjang!" jelas ku panjang lebar padanya dan jujur saja aku sudah semakin kesal.
Aku berdiri dari duduk ku dan langsung meraih piring yang sejak tadi dia acak-acak takarannya. Dia bahkan menambahkan garam yang sudah aku takar.
"Dan kalau mas terus menambahkan garamnya, maka mas akan darah tinggi!" ucap ku sambil meraih piring itu dan membawanya ke dekat kompor.
"Memangnya kamu yakin, bumbu yang kamu siapkan itu takarannya sudah pas?" tanya nya meremehkan.
Aku meletakkan kembali piring dan urung memasukkan bumbu kedalam kuah santan.
"Memang menurut mas bagaimana dengan nasi goreng yang aku buat waktu itu?" tanya ku.
"Tidak buruk, tapi juga tidak seenak masakan restoran!" ucapnya membuat ku menghela nafas.
"Hanya itu saja yang akan kamu masak? hanya dua menu, ikan goreng dan sayur itu?" tanya Samuel lagi.
__ADS_1
"Tidak, aku juga akan buatkan sambal. Mas suka pedas tidak?" tanya ku.
Aku sengaja tidak membuat sayurnya pedas karena aku tidak tahu apakah Samuel suka pedas atau tidak.
Dan Samuel menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak terlalu, aku bisa makan pedas tapi tidak terlalu suka pedas. Aku masih sangat sayang pada lambungku!" ucapnya menjelaskan.
Aku hanya mengangguk paham.
"Tapi aku masih lebih sayang padamu!" gumam nya pelan.
Alien mendengar suara itu samar-samar, aku takut kalau itu hanya khayalan ku saja. Tapi aku yakin kalau aku benar-benar mendengar dia bicara seperti itu.
Aku mendekati nya, lalu duduk di sebelah kursinya. Bukannya aku merasa besar kepala atau semacamnya. Tapi aku sungguh penasaran dengan apa yang aku dengar tadi.
Sekilas aku mendengar Samuel mengatakan lebih sayang, tidak terlalu jelas. Tapi aku merasa ingin tersenyum saat mendengar kalimat itu.
"Mas, tadi mas bilang apa?" tanya ku sambil memandang ke arahnya dengan senyum.
"Itu tadi saat mas bilang mas masang pada lambung mas, lalu mas mengatakan lebih sayang pada apa setelah itu?" tanya ku memastikan agar Samuel mengerti apa yang aku maksudkan.
"Tidak ada, aku tidak bilang apa-apa setelah itu!" jelas Samuel. Dan sepertinya dia mengatakan itu dengan serius.
Aku kembali berdiri dari kursi dan kembali mendekati kompor yang di atasnya sudah ada panci berukuran sedang dengan kuah santan berwarna putih yang sudah mendidih meluap-luap.
Jadi benar, yang tadi itu hanya halusinasi ku saja, hanya sebatas khayalan ku saja. Apa yang aku pikirkan, tidak mungkin kan Samuel menyukai ku apalagi menyayangiku, aku rasa aku terlalu banyak berharap.
Beberapa saat kemudian, makanan sudah siap. Aku segera merapikan meja makan dan menyajikan semua makanan di atas meja. Tapi baru saja aku akan memanggil ayah, ibu dan Ibras. Samuel kembali menahan tangan ku,
"Apa kamu berharap aku mengatakan sesuatu?" tanya nya dengan suara yang terdengar datar datar saja.
Aku berbalik dan tersenyum, aku tahu dimana posisi ku dan apa arti diriku bagi Samuel. Sebuah hal bodoh jika aku berharap sesuatu yang lebih dari sekedar istri kontrak nya. Aku langsung menggelengkan kepala ku perlahan.
"Tidak mas, aku tidak mengharapkan apapun. Aku akan panggil ayah dan ibu dulu ya!" ucap ku sambil melepaskan perlahan tangan Samuel dari lengan ku.
Aku berjalan ke arah ruang tamu, tapi saat aku melihat ke arah pintu, aku melihat Riksa yang datang dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Selamat malam, Om Rama, Tante Anisa apa yang terjadi?" tanya Riksa panik dan langsung melihat kondisi kaki ayah ku.
Aku merasa sedikit sedih dalam hati, Riksa sungguh lelaki yang baik. Dia bahkan terlihat lebih cemas daripada Ibras.
Riksa langsung meminta seorang dokter wanita yang cantik dengan kacamata berlensa kotak untuk memeriksa kondisi ayah ku. Cukup lama dia memeriksa, dan Samuel juga keluar dari ruang makan, ke ruang tamu. Dia mendekati Riksa dan menepuk bahunya.
"Makan malam disini sekalian, ada yang ingin aku katakan padamu!" ucap Samuel lalu mengajak Riksa keluar.
Aku hanya melihat kepergian mereka, aku juga tidak ingin tahu apa yang mereka akan bicarakan. Dan yang pasti itu bukan urusan ku. Dokter cantik itu langsung memperban kaki ayah, seperti nya cukup parah.
"Dokter bagaimana cidera ayah?" tanya ku cemas.
Dokter itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan ku.
"Ayah mu mengalami cidera yang cukup parah, memang sebaiknya di bawa ke rumah sakit...!"
"Tidak perlu dokter, aku rasa tidak perlu sampai di bawa ke rumah sakit!" seru Ayah.
Aku jadi sangat cemas mendengar apa kata dokter itu, tapi kalau ayahnya tidak mau lalu aku harus bagaimana.
"Iya pak, tidak apa-apa. Nanti kami yang akan datang kemari setiap harinya untuk mengecek perkembangan cidera bapak ini, saya harap bapak bisa benar-benar istirahat dan jangan terlalu banyak bergerak. Mungkin selama tiga atau empat hari!" jelas dokter Kartika.
"Selama itu dokter, bagaimana dengan pekerjaan ku?" tanya ayah yang sangat mengkhawatirkan pekerjaan nya.
"Ayah jangan cemas, aku sudah minta Riksa agar mengurus semuanya, meminta ijin untuk ayah selama ayah belum pulih!" seru Samuel yang baru saja masuk ke dalam lagi.
Aku menoleh ke arah Samuel.
"Bisa seperti itu nak Samuel?" tanya ayah.
"Tentu, akan ada yang menggantikan tugas ayah selama ayah sakit!" jelas Samuel.
Aku senang melihat ayah sepertinya sangat lega mendengar penjelasan Samuel. Aku tahu tidak ada hal yang sulit bagi Samuel. Aku rasa tidak terlalu buruk juga menjadi istri kontrak nya.
***
Bersambung...
__ADS_1