Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
301


__ADS_3

Setelah makan malam, Naira memutuskan untuk menunggu Samuel pulang sambil mengobrol bersama dengan Stella di ruang televisi sambil menonton sinetron yang sebenarnya tidak terlalu mereka perhatikan juga karena mereka asik mengobrol sendiri.


Stella sedang menceritakan pada Naira tentang apa yang sudah dia lakukan saat berada di kediaman nenek Arumi setelah tahu apa yang sudah dilakukan oleh Mega pada putri sulungnya itu sendiri.


"Ibu kesal sekali, dia bahkan bilang agar ibu tidak ikut campur dalam masalah keluarga nya, enak saja dia bilang begitu. Sejak kecil sampai dewasa kamu bisa tanyakan pada Puspa, berapa kali saat hari raya lebaran ibunya pulang ke Indonesia dan menemaninya saat lebaran. Malah dia dan nenek Arumi yang selalu menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kita. Aku gemas sekali, kalau tidak ada Putra di sampingnya dan tidak ingat kalau kuku ibu habis menipedi di salon, sudah aku garuk wajahnya dengan kuku ku!" ucap Stella panjang lebar.


Naira hanya tersenyum dan mendengarkan semua yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu. Samuel juga pernah bercerita padanya tentang hal itu. Kalau Puspa memang sebenarnya tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya yang lebih memilih berkarir dan tinggal di luar negeri.


"Ibu juga sudah katakan semua itu pada Mega, ibu sudah mengingatkan siapa yang ada di saat Puspa dan juga nenek Arumi di saat saat tersulit mereka. Tapi jangan beritahu ayah mertua mu ya tentang hal ini, kalau dia tahu dia akan menceramahi ibu sampai tengah malam. Ya ampun, aku juga heran kenapa aku mempunyai suami yang hidupnya selalu ingin lurus saja, terkadang sedikit membuat kesal orang lain itu menyenangkan. Iya kan Naira?" tanya Stella setelah bercerita panjang lebar pada Naira.


"Ibu benar, sedikit usil itu menyenangkan!" sahut Naira.


"Seru sekali, tapi maaf ayah harus bicara pada ibu mertuamu sebentar ya Naira!" ujar Damar yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


"Eh ada apa mas?" tanya Stella yang terlihat bingung.


"Baru saja Mega menghubungiku, dan mengatakan kamu sudah datang ke sana dan mengatakan hal yang membuatnya tersinggung. Stella, kita harus bicara!" seru Damar.


"Dasar tukang ngadu!" gerutu Stella yang langsung berdiri dari duduk nyamannya di samping Naira.

__ADS_1


Naira yang melihat kedua orang mertuanya itu hanya bisa menahan untuk tidak bersikap yang membuat keduanya jadi tidak nyaman.


"Ibu, semoga beruntung!" bisik Naira ketika Stella lewat di depannya.


Stella hanya mengedipkan sebelah matanya lalu mengikuti langkah suaminya menuju ke kamar mereka. Naira tersenyum ketika melihat ibu mertuanya seperti berusaha membujuk ayah mertuanya. Menurut Naira ibu mertuanya itu sangat unik, baik dan berhati mulia. Dia sangat mengagumi Stella.


"Nyonya muda sedang nonton apa?" tanya Sundari yang tiba-tiba duduk di karpet di bawah sofa yang di duduki oleh Naira.


Naira yang masih memikirkan kedua mertuanya itu pun terkesiap dengan pertanyaan dan kedatangan Sundari yang tiba-tiba.


"Eh, kamu tidak istirahat?" tanya Naira.


"Saya tidak bisa tidur nyonya, tadi saya ke dapur untuk mengambil minum dan melihat nyonya muda sedang menonton televisi sendirian, saya penasaran makanya saya langsung kemari dan berpikir untuk menemani nyonya muda. Karena kalau kata orang tua jaman dulu itu wanita hamil tidak boleh di biarkan sendirian, takut melamun katanya!" jawab Sundari panjang lebar padahal Naira hanya bertanya satu kumat saja padanya.


"Begitu kah? tapi tadi aku menonton bersama ibu Stella!" ucap Naira.


"Ih nyonya muda, apa nyonya muda tidak kesal melihat pemeran antagonis itu. Ih masak iya udah di kasih kerjaan malah godain atasannya. Gak tahu apa kalau istri atasannya itu lagi hamil besar. Gak kasihan apa, ih geregetan banget!" omel Sundari sambil melihat jalan cerita sinetron yang mereka lihat bersama.


Naira yang dari tadi memang tidak begitu memperhatikan saat menonton pun tercengang mendengar mendengar apa yang di katakan oleh Sundari.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu mengerti jalan ceritanya, padahal kamu baru melihatnya kan?" tanya Naira yang merasa keheranan.


"Saya tuh dulu pernah kerja sama keluarga yang seperti itu Nyonya muda, dulu majikan saya itu hidup begitu bahagia dengan keluarga kecil mereka. Baru mereka menikah dua tahun, sejak mereka menikah saya dan satu pembantu lain bekerja di sana. Eh tahu gak nyonya muda, ceritanya ya hampir mirip sama sinetron itu, pelakor tuh dimana-mana emang ngeselin ya nyonya!" oceh Sundari lagi.


"Ya tapi kalau suaminya setia dan tahan godaan, gak bakalan lah pelakor bisa masuk ke dalam...!"


Naira mencoba untuk menepis anggapan yang di lontarkan oleh Sundari tapi Sundari kembali menyela ucapan Naira.


"Siapa bilang nyonya, walaupun awalnya menolak dan gak suka kalau di pepet terus siapa yang bisa lari nyonya, apalagi waktu itu majikan perempuan Ndari lagi hamil besar nyonya, dia jadi gemuk, dan kelihatan tidak menarik, gak bisa di bawa ke kondangan ke pertemuan perusahaan. Hasilnya majikan pria saya dulu malah sering ajak sekertaris nya itu, eh lama-lama malah mereka beneran selingkuh. Kasihan banget deh majikan perempuan saya dulu, mentang-mentang dia berasal dari keluarga gak punya dia malah di tinggalin dan majikan pria saya itu malah memilih sekertaris yang jadi selingkuhannya itu, yang lebih pintar, cantik, langsing dan lebih segala-galanya dari majikan perempuan saya itu!" cerita Sundari yang terdengar begitu meyakinkan.


Naira yang awalnya biasa saja saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sundari sekarang malah mulai tidak tenang.


"Darimana majikan perempuan kamu tahu suaminya selingkuh?" tanya Naira yang mulai penasaran dengan cerita Sundari.


"Awalnya tuh, tuan sering pulang malam. Alasannya sibuk, tapi berlangsung berhari-hari. Tiap di ajak bicara selalu mengeluh lelah, saat itu nyonya saya bahkan menemukan kemeja tuan yang ada bekas lipstik nya, bahkan jas nya ada aroma parfum wanitanya. Saat di tanya tuan malah mengelak terus lalu berusaha membujuk nyonya, seperti itu sampai beberapa hari. Sampai nyonya memergoki sendiri tuan sedang bermesraan dengan sekertaris nya di kantor saat nyonya akan mengantarkan makan siang untuk tuan. Dan saat itu tuan malah mengusir nyonya dari kantor dan menceraikannya, dia sampai meninggal dunia saat melahirkan dan anaknya hidup dengan sangat menyedihkan bersama ayah dan ibu tirinya lalu...!"


"Sudah... sudah... cukup Ndari, cerita mu mengerikan sekali!" ucap Naira menghentikan cerita Sundari lalu berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2