
Aku dan mas Samuel masuk ke dalam toko buku ko Acong. Masih sama seperti beberapa bulan lalu setelah aku tinggalkan karena aku harus berhenti bekerja karena menikah.
Jika ada yang masuk ke dalam toko buku, akan ada lonceng di depan pintu yang berbunyi pada saat pintu terbuka. Dan suara lonceng itu membuat ku tersenyum karena mengingat saat-saat aku bekerja di toko buku milik ko Acong ini.
"Selamat datang di toko buku ko Acong, ada yang bisa kami bantu!" suara ramah Mini setelah suara lonceng berbunyi.
Saat Mini melihat ke arah ku, aku pun tersenyum padanya dan juga melambaikan tangan ku pada sahabat ku yang terakhir kali aku temui saat menghadiri resepsi pernikahan ku dulu.
"Mini!" panggil ku lalu menghampiri Mini setelah mas Samuel melepaskan tangannya dari genggaman ku.
"Aaaaa... Naira!" Mini berteriak histeris dan langsung membuka pintu yang menutup antara meja kasir dengan ruang toko buku.
Brukk
Mini langsung menabrak ku dan memeluk ku dengan sangat erat.
"Hei, hati-hati istriku sedang hamil. Jangan menabraknya begitu!" ucap mas Samuel lalu menarik bahu Mini menjauh dariku.
Mini yang awalnya terlihat sangat senang mendadak ekspresi wajah nya berubah menjadi takut saat mas Samuel melihat ke arahnya dengan tatapan tidak senang.
"Ma.. maaf tuan!" ucap Mini yang tampak jelas ketakutan.
Aku langsung mengelus pelan lengan mas Samuel.
"Mas, aku tidak apa-apa! jangan marah pada Mini!" pintaku pada mas Samuel, aku mengatakan itu dengan sangat pelan agar mas Samuel juga menanggapinya dengan tenang dan tidak mengganggu pengunjung lain toko buku ini yang kelihatannya lumayan ramai.
Mas Samuel lalu memeluk pinggang ku dan melihat ke arah Mini.
"Dimana ruangan ko Acong?" tanya nya dengan nada suara yang sedikit keras.
__ADS_1
"Di... di sana tuan!" ucap Mini menunjuk sebuah ruangan yang masih ku ingat sebagai ruangan kerja ko Acong memang.
Setelah mendengar jawaban dari Mini, mas Samuel bahkan tidak menanggapinya lagi, dia langsung menoleh ke arah ku dan menyentuh lembut pipi ku.
"Sayang, kamu bisa mengobrol dengan teman-teman mu. Aku akan menemui ko Acong dulu!" ucap mas Samuel padaku.
Aku juga hanya langsung mengangguk.
"Iya mas!" jawab ku.
Setelah aku menjawab mas Samuel, dia segera berjalan ke arah ruangan ko Acong. Mas Samuel masuk ke dalam dan Mini pun memegang dadanya menghela nafas lega.
Aku terkekeh melihat apa yang dilakukan oleh Mini itu, tapi memang seperti itulah mas Samuel saat pertama kali bertemu dengan orang lain. Bukan hanya dengan Mini, dia akan selalu bersikap seperti itu pada seseorang yang baru dia kenal atau dia temui.
Bahkan dulu dia juga bersikap seperti itu padaku, ucapannya ketus, wajahnya dingin dan jarang sekali menatap lawan bicaranya kalau bicara. Itulah kenapa dulu aku sampai memberikan julukan padanya si lidah tajam.
Itu karena dulu setiap ucapan, setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya itu begitu tajam hingga mampu membuat hati siapapun terluka.
"Naira biarkan aku memeluk mu, aku sangat merindukanmu. Jika suami mu si wajah datar itu datang nanti dia akan melarang ku memeluk sahabat ku!" ucap Mini dengan terburu-buru.
"Wah Naira selamat ya, kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu!" ucap Mini yang terlihat juga ikut bahagia mendengar kabar kehamilan ku.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk padanya.
"Ah senang nya aku akan di panggil Cici nanti!" ucap Mini sangat senang.
"Cici?" tanya ku heran.
"Iya Naira, kalau di daerah ku bibi itu ya Cici!" jelas Mini padaku karena aku bertanya tadi.
__ADS_1
"Oh begitu, lalu kalau paman?" tanya ku.
"Paman ya Paman, selamat ya Naira. Aku ikut senang!" seru Haris yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Mini.
Aku juga sangat senang melihat Haris, aku juga langsung menjabat tangan Haris yang memang sedang terulur karena sedang memberikan ucapan selamat padaku.
"Terimakasih Haris!" jawab ku.
Kami pun duduk di kursi yang ada di meja kasir, tempat yang biasa kami duduki dulu saat menunggu pelanggan toko buku ko Acong.
Haris juga kelihatannya tidak terlalu sibuk. Karena sepertinya para pelanggan sedang mengetik di rental komputer yang sedang di jaga oleh nya. Dan para pelanggan lain juga sedang sibuk memilih buku dan perlengkapan kantor juga peralatan sekolah yang akan mereka beli.
"Ceritakan bagaimana kehidupan mu setelah menjadi orang kaya?" tanya Haris yang langsung mendapatkan pukulan pelan dari Mini di lengannya.
"Hei, bicara uang benar. Apa maksud mu bertanya seperti itu?" tanya Mini pada Haris.
Sebenarnya aku tidak merasa tersinggung sama sekali dengan pertanyaan dari Haris. Aku diam karena sedang memperhatikan kedua teman kerjaku dan juga sahabat ku yang sedang berada di hadapan ku ini. Aku merasa kalau hubungan mereka semakin dekat, aku bisa melihat dari sikap Haris yang selalu menoleh ke arah Mini sebelum bicara padaku, dan dari sikap Mini yang sudah berani menyentuh Haris, dia baru saja memukul lengan Haris. Dan hal itu dulu dia tidak pernah berani melakukan nya. Bicara saja, Mini selalu pelan dan tidak berani menatap Haris. Sekarang semua itu sudah berbeda. Hingga aku yakin kalau mereka berdua memang telah semakin dekat dan mungkin saja mereka bahkan telah memiliki suatu hubungan yang lebih dari sekedar teman dan rekan kerja biasa.
"Ekhem, katakan dulu padaku. Sejak kapan kalian berdua ekhem?" aku bertanya sambil menyatukan jari telunjuk kiri ku dengan jari telunjuk kanan ku.
Aku bisa lihat dengan jelas kalau wajah Mini berubah merah.
"Naira, kenapa malah menanyakan itu! jawab dulu pertanyaan ku tadi!" seru Haris.
Aku tersenyum ketika Haris seperti sedang membela Mini, seperti sedang membantunya menghindari pertanyaan ku. Aku yakin sekali kalau kedua sahabat ku ini sekarang sudah saling menyukai, dan aku ikut senang untuk hal itu. Haris memang adalah pria yang baik dan mandiri, dan Mini dia juga adalah sahabat yang begitu setia dan perduli, mereka sangat serasi.
Aku ikut senang cinta Mini pada Haris akhirnya bersambut. Aku ingat dulu bagaimana sulitnya Mini berhadapan dengan Haris yang pernah menyatakan perasaan sukanya padaku di depan Mini. Tapi aku memang tidak memiliki perasaan apapun padanya, dan sekarang Harus akhirnya bisa memberikan cinta nya pada Mini. Gadis yang memang sudah menyukai nya saat pertama kali melihat Haris, saat pertama kali Haris melamar pekerjaan di toko buku ko Acong ini. Aku berharap Mini dan Haris bisa saling mencintai seperti aku dan mas Samuel
***
__ADS_1
Bersambung...