
Setelah hampir satu jam, Samuel membuka pintu kamar mandi, dan betapa terkejutnya dia melihat Riksa sudah ada di depan pintu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Samuel yang keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai bathrobe.
Riksa melihat ke arah bosnya.
"Bos, ada yang ingin aku jelaskan!" jawabnya berhati-hati.
Riksa terus mengikuti langkah Samuel, ketika Samuel menjauh dari kamar mandi dan mendekati meja rias, dia mengikutinya.
"Setelah pemotretan di roof top tadi, nyonya Harumi menghubungi ku dan mengatakan kalau dia sudah datang, jadi aku menemuinya dan mengantarkan nya ke kamar Tante Stella, setelah itu aku mengambil barangnya yang tertinggal di lantai dua, tempat asisten nya berada!" jelas Riksa panjang lebar.
Riksa terus berusaha menjelaskan meskipun Samuel malahan terus bergerak kesana dan kemari. Menyisir rambut, meletakkan jam tangannya. Meraih kemejanya di dalam kamar mandi, dan hal lainnya.
"Setelah itu aku berniat menaiki lift menuju ke lantai lima lagi, tapi saat pintu lift terbuka Naira...!" Riksa menghentikan kalimat selanjutnya.
Dia menjadi agak ragu untuk mengatakannya, dia takut kalau Samuel akan marah kalau dia bilang bahwa dia melihat Naira menangis di dalam lift.
Samuel terlihat berbalik dan menghadap ke arah Riksa.
"Naira kenapa?" tanya Samuel dingin.
Riksa menelan salivanya dengan susah payah, dia mengangkat wajahnya perlahan berusaha untuk menatap Samuel yang sedang terlihat garang.
"Naira.. dia. Aku hanya mendengarkan keluh kesahnya saja. Aku hanya ingin semua berjalan dengan baik bos!" jawab Riksa.
Meski sebenarnya memang itulah yang dia lakukan tapi tidak semuanya dia ceritakan. Samuel terlihat menahan kesal tapi dia juga merasa Riksa memang bicara jujur.
"Dan cara mu adalah dengan memeluknya?" tanya Samuel.
Pertanyaan Samuel itu langsung mengena betul di hati Riksa. Dia merasa sungguh bersalah pada bos nya itu.
"Dia.. dia hanya sangat sedih sampai tidak sengaja..!" Riksa kembali bingung harus bagaimana mengatakannya.
Kalau Riksa mengatakan bahwa Naira yang menabraknya seolah memeluknya, bos nya itu kemungkinan akan marah lagi pada Naira. Dan gadis itu akan kembali sedih dan kesulitan nya akan lebih bertambah.
Sementara dari apa yang dia dengar, Samuel menyimpulkan kalau Naira yang sangat sedih karena caci maki darinya lah yang lebih dulu memeluk Riksa. Karena Samuel mengenal betul siapa Riksa. Juga, Samuel sudah tidak mau membahas masalah ini.
"Heh, sudahlah! tapi ingat! jika dia sudah jadi istri ku, kamu sama sekali tidak boleh menyentuhnya! mengerti!" tegas Samuel.
Riksa langsung mengangguk dengan cepat.
"Mengerti bos!" ucapnya yakin.
__ADS_1
"Masalah mu dengan Adam, kamu bisa selesaikan sendiri kan?" tanya Samuel lagi.
Dan lagi-lagi Riksa menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Bisa bos!" jawabnya dengan cepat.
Samuel lalu meninggalkan kamar Riksa masih dengan memakai bathrobe, tadinya dia mau pakai kemejanya tapi kemeja dan celananya ternyata basah. Lagipula dia berpikir mati juga akan ganti kan.
Sementara Riksa yang dia tinggalkan di dalam kamar segera melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda. Dia mengirim pesan melalui email pada seseorang yang berada di luar negeri.
Dan tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Halo!" sapa Riksa.
"Halo tuan, apa yang anda perkiraan benar. Tuan muda Hasigawa memang datang hari ini. Kita bisa segera lakukan rencana kita tuan?" tanya James anak buah Riksa.
"Tunggu dulu James, rencana nya berubah. Adam yang akan melakukan nya, tugas kita hanya mengawasi dan mencari tahu mereka berada dimana, lokasi mereka!" jelas Riksa.
"Seperti itu, baik tuan!" ucap James sebelum Riksa memutuskan panggilan telepon.
Riksa memandang ke layar laptop nya.
"Dua hari lagi bos, dan setelah itu matamu akan terbuka sepenuhnya. Dan melihat siapa sebenarnya perempuan yang begitu kamu cintai itu!" gumam Riksa.
***
Samuel mengusap kepala nya gusar.
"Huh, apa yang sebenarnya terjadi padaku! Ck..
siapa gadis ceroboh itu sampai bisa mempengaruhi ku!" keluhnya.
Samuel lalu kembali memasang ekspresi garang dan masuk ke dalam kamarnya.
"Hei Sam, ayolah cepat. Waktu mu tinggal Dua puluh menit lagi untuk bersiap!" ucap Puspa yang langsung mengajak Samuel masuk, mengambil setelan pakaian nya dan menuntunnya ke kamar mandi.
Samuel berusaha mencuri pandang ke arah Naira, tapi dua asisten Puspa menghalangi pandangan nya. Dia jadi tidak tahu seperti apa rupa Naira.
Setelah berganti pakaian, Samuel keluar dari dalam kamar mandi. Tapi dia sudah tidak melihat Naira disana.
"Sudah ganti, ayo aku akan tata rambut mu dan memberimu sentuhan ajaib ku agar kamu terlihat seperti seorang raja!" seru Puspa sangat bersemangat.
"Heh bicara apa kamu! aku ini memang seorang raja, lihat saja diriku sangat tampan dan berkarisma kan?" tanya Samuel membuat Puspa sedikit mencekik.
__ADS_1
Hanya sedikit saja, karena apa yang dikatakan Samuel memang benar. Dirinya mang sangat tampan dan berkharisma.
Samuel duduk di tempat Naira tadi di rias.
"Hei, berapa lama pengaruhnya?" tanya Puspa sedikit berbisik agar tak di dengar oleh kedua asisten nya.
Samuel terkesiap.
"Bicara apa kamu?" tanya Samuel dengan nada kesal.
Puspa malah tersenyum penuh misteri.
"Ya sudah kalau tidak mau jujur, tapi mandi dengan air dingin bukanlah gaya mu tuan Samuel!" sindir Puspa lagi.
Samuel pun hanya bisa terdiam. Ternyata temannya satu ini memang sangat jeli. Dia yang sudah di kenal belasan tahun memang tidak akan menutupi sesuatu yang jelas terlihat.
"Diam Puspa!" ucap Samuel penuh penekanan.
"Hei jangan marah-marah, tidak bagus untuk riasan mu. Aku hanya sangat senang ternyata tuan Samuel yang sangat dingin ini begitu mencintai calon istrinya!" ejek Puspa lagi.
Samuel memilih diam saja, karena dia juga tahu seperti apa sahabat nya yang satu ini. Semakin di tanggapi semakin di bantah, dia semakin tidak mau kalah.
"Terserah kamu saja!" ucap Samuel cuek.
Puspa malah tersenyum, karena sebenarnya pertanyaan nya tadi hanya candaan saja. Tapi setelah melihat reaksi Samuel dia malah bertambah yakin kalau apa yang dia kira itu memang benar adanya.
Beberapa saat kemudian.
"Selesai! oh tuan Samuel, kamu terlihat luar biasa!" puji Puspa.
Tapi sepertinya pujiannya itu bukan untuk Samuel, melainkan untuk dirinya sendiri yang telah membuat penampilan Samuel sempurna di acara spesial nya.
"Aku tahu!" sahut Samuel.
Riksa yang juga sudah menunggu akhirnya berdiri dan menghampiri Samuel.
"Mari bos! acaranya akan segera dimulai saat bos masuk kesana!" ucap Riksa.
Samuel dan Riksa lalu keluar dari kamar itu menuju lantai ballroom hotel. Tempat acara pernikahan Samuel dan Naira akan di langsungkan.
Author POV end
***
__ADS_1
Bersambung...